Senin, 21 Mei 2018

Psikologi Pendidikan (Inteligensi dan Kreativitas)

INTELIGENSI DAN KREATIVITAS


Untuk Memenuhi Mata Kuliah Psikologi Pendidikan

OLEH

KELOMPOK 3

          1. NURUL AULIA FITRA 1730306023
               2. RAUDHATUL FHADILLA 1730306026
 3. RINDU ALDINA 1730306028
    4. SOFHIA MARJENI 1730306030
5. TUTI MARLENI 1730306034






DOSEN PEMBIMBING :
Dra. DESMITA, M. Si
DANI YOSELISA, M. Si., Psikolog



JURUSAN PSIKOLOGI ISLAM
FAKULTAS USULUDIN ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BATUSANGKAR
TAHUN 2018




DAFTAR ISI 



DAFTAR  ISI………………………………………………………………………...i
A. Inteligensi
1. Definisi Inteligensi…………………………………………………..……...............1
2. Factor yang Mempengaruhi Inteligensi…………………………………...................3
3. Bentuk-bentuk Inteligensi………………………………………………..................4
4. Pengukuran Inteligensi………………………………………………...............…....5
5. Upaya Peningkatan Kecerdasan……………………………………..............……..6
B. Kreativitas
1. Pengertian Kreatifitas………………………………………………….....................7
2. Factor-faktor yang Mempengaruhi Kreatifitas………………………….....................8
3. Tipe Kreatifitas………………………………………………………................….10
4. Mengembangkan Sikap Kreatifitas……………………………………....................11
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................ii

BAB I
PEMBAHASAN

A. INTELIGENSI
1. Defenisi Inteligensi
Istilah inteligensi berasal dari kata Latin “intelligere” yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain (to organize, to relate, to bind together) (Walgito, 1997 dalam Khodijah 2014). Inteligensi sering diartikan dengan kecerdasan. Istilah “cerdas” sendiri sudah lazim dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bila seseorang tahu banyak hal, mampu belajar cepat, serta berulang kali dapat memilih tindakan yang efektif dalam situasi yang rumit, maka disimpulkan bahwa ia orang yang cerdas. Meski fenomena yang dipelajari sama, namun para psikolog yang mempelajari inteligensi memberikan pengertian yang berbeda-beda. Berikut ini beberapa definisi tentang inteligensi yang dikemukakan oleh para ahli:
a. William Stern, menyatakan bahwa inteligensi adalah daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan mempergunakan alat-alat berpikir menurut tujuannya. Orang yang inteligensinya tinggi akan lebih cepat dan lebih tepat di dalam menghadapi masalah-masalah baru dibandingkan dengan orang yang inteligensinya rendah.
b. Edward L. Thorndike mengatakan bahwa intelligenceis demonstrable in ability of the individual to make good responses from the stand point of truth or fact, artinya inteligensi ditunjukkan dengan kemampuan individual untuk memberikan respons yang tepat atas dasar kebenaran atau fakta (Skinner, 1959 dalam Khodijah 2014). Orang dianggap memiliki inteligensi tinggi bila responsnya merupakan respons yang tepat terhadap stimulus yang diterimanya. Kemampuan untuk memberikan respons yang tepat ini ditentukan oleh pengalaman.

c. Terman mengemukakan bahwa inteligensi adalah the ability to carry on abstract thinking, artinya kemampuan untuk berpikir abstrak (Harriman, 1995 dalam Khodijah 2014). Orang yang memiliki inteligensi tinggi akan lebih mampu berpikir secara abstrak dibandingkan orang yang memiliki inteligensi rendah.
d. L.J. Cronbach, dalam bukunya yang berjudul Essential of Psychological Testing, mendefinisikan inteligensi sebagai efektivitas menyeluruh dalam aktivitas yang diarahkan oleh pikiran.
e. Freeman (1962) memandang inteligensi sebagai: 1) capacity to integrate experiences and to meet a new situation by means of appropriate and adaptive response (kapasitas untuk memadukan pengalaman dan menghadapi situasi baru dengan pengertian yang tepat  dan respons yang adaptif), 2) capacity to learn (kapasitas untuk belajar), 3) capacity to perform tasks regarded by psychologists as intellectual (kapasitas untuk melaksanakan tugas-tugas psikologis secara intelektual), dan 4) capacity to carry on abstact thinking (kapasitas untuk berpikir abstrak).
f. Sternberg mendefinisikan inteligensi sebagai tiga dimensi, yaitu: 1) kapasitas untuk memperoleh pengetahuan, 2) kemampuan untuk berpikir dan logika dalam bentuk abstrak, dan 3) kapabilitas untuk memecahkan masalah.
g. Murphy dan David Shofer menyatakan bahwa inteligensi mengacu pada adanya perbedaan individual dalam mengerjakan tugas-tugas yang berkaitan dengan manipulasi, menampilkan kembali ingatan, evaluasi maupun pemrosesan informasi.
h. Anastasi menyatakan bahwa inteligensi adalah kombinasi dari kemampuan yang dipersyaratkan untuk bertahan hidup dan meningkatkan diri dalam budaya tertentu.
i. J.P Chaplin (1999) mendefinisikan inteligensi sebagai: 1) kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efktif, 2) kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif, dan 3) kemampuan memahami pertalian-pertalian dan belajar dengan cepat sekali.
Berdasarkan definisi-definisi yang dikemukakan oleh para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah kemampuan potensial umum untuk belajar dan bertahan hidup, yang dicirikan dengan kemampuan untuk belajar, kemampuan untuk berpikir abstrak, dan kemampuan memecahkan masalah.
2. Factor yang Mempengaruhi Inteligensi
Inteligensi dapat berubah sepanjang waktu. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa inteligensi berubah sebanyak dalam 28 point antara usia 2,5 tahun hingga 17 tahun, bahkan sepertujuh dari siswa dapat berubah hingga 40 point (McCall, Appelbaum & Hogarty, dalam Khodijah 2014). Perubahan ini dimungkinkan karena ada faktor-faktor yang memengaruhinya.
Para ahli psikologi berbeda pendapat tentang faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan inteligensi. Isu yang diperdebatkan adalah antara factor genetic dan factor lingkungan. Menurut sebagian ahli, inteligensi sepenuhnya ditentukan oleh factor genetic, sebagian ahli lain berpendapat bahwa perkembangan inteligensi dipengaruhi oleh factor lingkungan. Akan tetapi, sebagian besar ahli justru mengambil posisi di tengah, mereka meyakini bahwa inteligensi sesorang dipengaruhi oleh keduanya, yaitu pembawaan dan juga lingkungan.
Meski sebagian ahli telah sependapat bahwa factor yang memengaruhi perkembangan inteligensi adalah factor genetic dan lingkungan. Akan tetapi, mereka tetap berbeda pendapat tentang berapa banyak yang disumbangkan oleh masing-masing factor atau sejauh mana factor-faktor tersebut berpengaruh. Menurut sebagian ahli, factor yang paling dominan berpengaruh terhadap inteligensi adalah factor pembawaan. 
Hal ini dapat dipahami karena orang yang terlahir dengan inteligensi yang sangat rendah tidak mungkin ditingkatkan meski dengan lingkungan dan teknik pendidikan sebaik apapun. Akan tetapi, factor lingkungan juga berperan penting karena seorang anak yang terlahir sebagai jenius bila tidak mendapat pengasuhan dan pendidikan yang layak maka tidak akan menjadi jenius.
3. Bentuk-bentuk Inteligensi
Menurut Cattel-Horn-Carrol, yang selanjutnya akan disebut sebagai teori CHC, Inteligensi terbagi dua jenis yaitu:
a. Crystallized Intiligence yaitu intiligensia yang melibatkan pengetahuan dari proses pembelajaran sebelumnya yang berdasar pada fakta dan berakar pada pengalaman. Seiring waktu, semakin banyak pengalaman dan pengajaran yang diperoleh. Jenis intiligensia ini relative stabil dan tetap. Dengan kata lain, crystallized intiligence pun akan semakin kuat dan meningkat seiring bertambanya usia dan cenderung tidak berubah tingkatannya. 
b. Fluid Intelligence adalah kemampuan proses informasi secara cepat, hubungan berpikir dan ingatan dalam bentuk analogi, mengingat rangkaian angka dan kategorisasi (Turner dan Helms, 1995; Feldman, 2003, 2008 dalam Sarwono) atau melibatkan kemampuan berfikir secara logika dan abstrak serta memecahkan masalah dan mengurangi ketergantungan terhadap keterampilan tertentu serta pemahaman symbol dan kata-kata. Kecerdasan tipe ini dianggap merupakan refleksi dari kecerdasan yang sebenarnya karena diasumsikan tidak dipengaruhi factor pendidikan.

4. Pengukuran Inteligensi
Untuk mengetahui tingkat inteligensi seseorang tidak bisa hanya dengan berdasarkan perkiraan melalui pengamatan, akan tetapi harus  menggunakan alat khusus yang dinamakan tes inteligensi atau IQ (Intelligence Quotient). Orang yang dapat dipandang sebagai orang yang pertama-tama menciptakan tes inteligensi adalah Binet (Walgito, 1997 dalam Khodijah 2014).
Bagi masyarakat umum, istilah IQ sering kali disamakan dengan inteligensi, padahal keduanya berbeda. Inteligensi adalah kemampuan umum sesungguhnya yang dimiliki seseorang, akan tetapi IQ adalah suatu indeks tingkat relative inteligensi seseorang, setelah dibandingkan dengan orang lain yang seusia dengannya. Dengan demikian, IQ pada dasarnya hanyalah sebuah ukuran tingkat kecerdasan, dan bukan kecerdasan yang sebenarnya. Ukuran-ukuran yang biasanya digunakan untuk mengetahui tingkat inteligensi seseorang adalah sebagai berikut:

IQ Tafsiran
140- Berbakat 
120-140 Sangat superior
110-120 Superior
90-110 Normal; rata-rata
70-90 Normal yang tumpul
50-70 Moron
20-50 Imbesil
0-20 Idiot

Tes IQ ini banyak bentuknya. Beberapa tes menggunakan tipe item tunggal, contohnya Peabody Picture Vocabulary Test (untuk anak-anak) dan Raven Progressive Matrices (tes non verbal, yang membutuhkan penalaran induktif mengenai pola perseptual). Bentuk tes lain menggunakan tipe item yang bervariasi, verbal maupun non verbal, karena mengukur inteligensi umum. Tes inteligensi umum ini dapat menghasilkan skor untuk bagian-bagain (sub skor) maupun untuk total (global-tunggal). Contohnya tes Stanford-Binet dan tes Wechsler.
5. Upaya Peningkatan Kecerdasan
Montessori mengatakan bahwa ketika mendidik anak-anak kita hendaknya ingat bahwa mereka adalah individu-individu yang unik dan akan berkembang sesuai dengan kemampuan mereka sendiri. Pendekatan pendidikan usia dini yang paling tepat seuai dengan ciri-ciri psikologis, pendagogis, dan tahap perkembangan moral mereka adah pendekatan yang mengedepankan aspek-aspek aktivitas bermain, bernyanyi dan bekerja dalam arti berkegiatan.ketiga hal itu akan mengasah kecerdasan otak, kecerdasan emosi dan keterampilan fisik yang dilakukan dengan ceria, bebas, dan tanpa beban.
a. Bermain
Kak Seto Mulyadi dalam bukunya “Bermain itu penting” (dalam Wifilhani, 2009) menyebutkan bahwa bermain tidak bertentangan dengan kegiatan belajar. Justru sesuai dengan tahap perkembangan anak dan sangat membantu proses belajar anak.
Fungsi bermain pada anak usia dini adalah untuk merangsang perkembangan motoric anak, merangsang perkembangan bahasa anak, merangsang perkembangan hubungan social anak, mengembangkan kecerdasan emosi anak, mengembangkan kecerdasan nalar/ pikir anak, dan menembangkan keterampilan fisik dalam arti tangan anak-anak.
b. Bernyanyi
Bernyanyi merupakan salah satu unsur yang menciptakan kegembiraan dan suasana riang. Lagu dapat memperkuat tingakat pengendalian vocal anak dengan cara melatih pita suara dan otot-otot yang terlibat dalam kegiatan bernyanyi. Lagu-lagu yang dinyanyikan pada usia ini perlu mencakup pelatihan teknik berbicara, pengembangan kosa kata, dan penguatan kemampuan daya ingat.
c. Berkegiatan
Berdasarkan prinsip pembelajaran konstruktivisme disebutkan bahwa setiap anak berkemampuan untuk membangun pengetahuannya sendiri dengan aktivitas berpikir, merasakan, dan kegiatan fisik. Melakukan kegiatan seperti menggambar bebas alam sekitar, menghitung, membangun menara dengan balok kayu, menari perseorangan dan kelompok, berolahraga bersama dan sebagainya.

B. Kreativitas 
1. Pengertian Kreativitas
Kreativitas didefinisikan secara berbeda-beda oleh para pakar berdasarkan sudut pandangnya masing masing dan penekanan yang berebeda-beda pula.
Barron (1982) mendefinisikan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Guilford (1970) menyatakan bahwa kreativitas mengacu pada kemampuan yang mememdai ciri-ciri  seorang kreatif. Utami munandar (1992) mendefinisikan: “ktreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas dalam berfikir serta kemampuan untuk mengelaborasi suatu gagasan”. Rogers mendefinisikan kreativitas sebagai proses munculnya hasil-hasil baru kedalam suatu tindakan (Utami Munandar, 1992 dalam Desmita 2014).
Drevdahl mendefinisikan kreativitas sebagai kemampuan unruk memproduksi komposisi dan gagasan baru yang dapat berwujud aktivitas imajinatif atau sintesis yang mungkin melibatkan pembentukan pola-pola baru dan kombinasi dari pengalaman masa lalu yang dihubungkan dengan yang sudah ada pada situasi sekarang (Hurlock, 1978 dalam Desmita 2014). Jadi yang dimaksud dengan kreativitas adalah ciri-ciri khas yang dimiliki oleh individu yang menandai adanya kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang sama sekali baru atau kombinasi dari karya-karya yang telah ada sebelumnya menjadi suatu karya baru yang dilakukan melalui interaksi dengan lingkungannya untuk menghadapi permasalahan dan mencari alternatif pemecahannya melalui cara-cara berfikir divergen. 
2. Factor-factor yang Mempengaruhi Kreativitas
Pada mulanya, kreativitas dipandang sebagai faktor bawaan yang hanya dimilki oleh individu tertentu. Beberapa ahli mengemukakan factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kreativitas.
Utami munandar (1988 dalam Desmita, 2014) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas adalah: 
a. Usia 
b. Tingkat pendidikan orang tua
c. Tersedianya fasilitas 
d. Penggunaan waktu luang 
Clark (1983, dalam Desmita, 2014) mengkategorikan faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas kedalam dua kelompok, yakni faktor yang mendukung dan yang menghambat. Faktor-faktor yang mendukung kreativitas adalah: 
a. Situasi yang menghadirkan ketidaklengkapan beserta keterbukaan 
b. Situasi yang memungkinkan dan mendorong timbulnya banyak pertanyaan 
c. Situasi yang dapat mendorong dalam rangka menghasilkan sesuatu 
d. Situasi yang mendorong tanggung jawab dan kemandirian 
e. Situsi yang menekankan inisiatif diri untuk menggali, mengamati, bertanya, merasa, mengklasifikasikan, mencatat, menerjemahkan, memperkirakan, menguji, hasil mengji dan mengkomunikasikan.
Perhatian dari orang tua terhadap minat anaknya, stimulasi dari lingkungan sekolah dan motivasi diri. Sedangkan faktor-faktor yang menghambat berkembanganya kreativitas adalah  sebagai berikut:
a. Adanya kebutuhan akan keberhasilan, ketidakberatian dalam menanggung risiko atau upaya mengejar sesuatu yang belum diketahui. 
b. Konfromitas terhadap teman-teman kelompoknya dan teman sosial 
c. Kurang berani dalam melakukan eksplorasi, menggunakan imajinasi, dan penyelidikan.
d. Stereotip peran seks/ jenis kelamin 
e. Diferensisasi antara berkuda dan bermain 
f. Tidak menghargai terhadap fantasi dan khayalan 
Miller dan Gerard (Adams dan Gullota, 1979 dalam Desmita 2014) mengemukakan adanya pengaruh keluarga pada perkembangan kreativitas anak dan remaja sebagai berikut: 
a. Orang tua yang memberikan rasa aman 
b. Orang tua yang mempunyai berbagai macam minat pada kegiatan didalam dan diluar rumah 
c. Orang tua memberikan kepercayaan dan menghargai kemampuan anaknya 
d. Orang tua memberikan otonomi dan kebebasan kepada anak 
e. Orang tua mendorong anak agar dalam mengadakan sesuatu dilakukan dengan sebaik-baiknya 
Torrence (1981, dalam Desmita, 2014) mengemukakan lima bentuk interaksi orang tua dengan anak/ remaja yang dapat mendorong berkembangnya kreativitas, yakni: 
a. Menghormati pertanyaan-pertanyaan yang tidak lazim 
b. Menghormati gagasan imajinatif 
c. Menunjukkan kepada anak/ remaja bahwa gagasan yang dikemukakan itu bernilai 
d. Memberikan kesempatan kepada anak/ remaja untuk belajar atas prakarsanya sendiri dan memberikan reward  kepadanya 
Disamping mengemukakan interaksi yang dapat mendorong berkembangnya kreativitas itu, berdasarkan hasil penelitiannya yang mendalam, Torrence (1981) juga mengemukakan beberapa interaksi orang tua dengan anak (reamaja) yang dapat menghambat berkembangnya kreativitas, yaitu: 
a. Terlalu dini untuk mengeliminasi fantasi anak 
b. Membatasi rasa ingin tahu anak 
c. Terlalu menekankan peran berdasarkan perbedaan jenis kelamin (sexsual roles)
d. Terlalu banyak melarang anak 
e. Terlalu menekankan kepada anak agar memilki rasa malu 
f. Terlalu menekankan pada keterampilan verbal tertentu 
g. Sering memberikan kritik yang bersifat destruktif 
Jadi menurut Torrence (1981), interaksi antara orang tua dengan anak/ remaja yang dapat mendorong berkembangnya kreativitas bukanlah interaksi yang didasarkan atas situasi stimulus-respon, melainkan atas dasar hubungan kehidupan sejati (a living relationship) dan saling tukar pengalaman (coexperienceing). 
3. Tipe Kreativitas
Menurut para peneliti ada tiga tipe kreatif yang berbeda, yaitu:
a. Jenis pertama adalah membuat atau menciptakan. Penciptaan merupakan proses membuat sesuatu dari tidak ada menjadi ada.
b. Jenis yang kedua adalah mengombinasikan atau menyentesiskan dua hal atau lebih yang sebelumnya tidak saling berhubungan. Kenyataannya banyak penemuan yang memudahkan kehidupan kita hari ini, seperti telepon dan modem, diciptakan karena hasil sintesis.
c. Jenis yang ketiga adalah memodifikasi sesuatu yang memang sudah ada. Modifikasi ini berupaya untuk mencari cara-cara untuk membentuk fungsi-fungsi baru atau menjadikan sesuatu menjadi berbeda penggunaannya oleh orang lain.
4. Mengembangkan Sikap Kreativitas
Berikut ini adalah hal-hal yang dapat membantu mengembangkan kemampuan pribadi dalam program peningkatan kreativitas sebagaimana dikemukakan oleh James L. Adams (1986, dalam Supardi 2004):
a. Mengenali hubungan 
Untuk membantu meningkatkan kreativitas, kita dapat melakukan cara pandang kita yang statis terhadap hubungan orang dan lingkungan yang telah ada. Dari sini kita coba melihat mereka dengan cara pandang yang baru dan berbeda. Orang yang kreatif memiliki intuisi tertentu untuk dapat mengembangkan dan mengenali hubungan yang baru dan berbeda dari fenomena tersebut.
b. Pengembangan pespektif fungsional
Kita dapat melihat adanya suatu perspektif yang fungsional dari benda dan orang. Seseorang yang kreativ akan dapat melihat orang lain sebagai alat untuk memenuhi keinginannya dan membantu menyeleseikan suatu pekerjaan.
c. Gunakan akal
Fungsi otak pada bagian yang terpisah anatara kiri dan kanan telah dilakukan sejak tahun 1960-an. Otak bagian kanan dipakai untuk hal-hal seperti analogi, imajinasi dan lain-lain. Sedangkan otak bagian kiri dipakai untuk kerja-kerja seperti analisis, melakukan pendekatan yang rasional terhadap pemecahan masalah dan lain-lain. Meski secara fungsi ia berbeda, tapi dalam kerjanya ia harus saling berhubungan.
d. Hapus perasaan ragu-ragu
Kebiasaan mental yang membatasi dan menghambat pemikirn kreatif, diantaranya adalah sebagai beikut:
1) Pemikiran lain, perkembangan kehidupan sesorang banyak terpenuhi oleh hal-hal yang tidk pasti dan meragukan. Bagi orang yang kreatif lebih baik belajar menerima keadaan tersebut dalam hidupnya, bahkan mereka sering menemukan sesuatu yang berharga dalam kondisi tersebut.
2) Mencari selamat, dalam kehidupannya orang akan cenderung menghindari resiko seminimal mungkin, tetapi seorang inovator akan senang menghadapi resiko. 
3) Stereotype, seperti sudah ada ketentuan atau karakteristik tertentu untuk suatu hal, begitu pula halnya akan kesuksesanyang dapat diraih, karena asas stereotype ini, akan terlimitasi cara pandang dan persepsinya terhadap kemungkinan lain yang sebenarnya dapat diraih.
4) Pemikiran kemungkinan/ probabilitas, guna memperoleh keamanan dalam membuat keputusan, seseorang cenderung percaya kepada teori kemungkinan. Bila berlebihan, akan menghambat sesorang mencari kesempatan yang hanya akan datang sekali saja dalam hidupnya.
Desmita. 2014. Psikologi Pendidikan. Batusangkar: STAIN Batusangkar Press
Khodijah, Nyayu. 2014. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers
Sarlito, Sarlito W. 2017. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Pers
Supardi, Endang. 2004. Kiat Mengembangkan Sikap Kreatif dan Inovatif [Jurnal]. Jakarta: Indonesia University of Education dari https://mufari.files.wordpress.com diakses pada tanggal 19 Mei 2018
Wiflihani. 2009. Musik Sebagai Salah Satu Cara Untuk Meningkatkan Kecerdasan Anak [Skripsi]. Medan (ID): Universitas Negeri Medan dari digilib.unimed.ac.id diakses pada 19 Mei 2018

Minggu, 29 April 2018

Perkembangan emosi pada remaja

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Remaja berada dalam periode yang banyak mengalami masalah pertumbuhan  dan perkembangan, khususnya menyangkut dengan penyesuaian diri terhadap tuntutan lingkungan dan masyarakat serta orang dewasa. Kematangan hormon seks yang ditandai dengan datangnya menstruasi bagi remaja putri dan keluarnya mani melalui mimpi basah bagi remaja putra dapat menimbulkan kebingungan dan rasa cemas, khususnya apabila mereka belum disiapkan untuk menyikapi peristiwa tersebut secara positif.
Begitu juga dengan perubahan yang dialami tersebut akan berpengaruh terhadap perkembangan dan hubungan social remaja. Para remaja mulai tertarik pada lawan jenis, ketertarikan ini di satu sisi dapat menimbulkan konflik dalam diri mereka karena mungkin muncul perasaan malu, kurang percaya diri dan kebingungan dalam penyesuaian diri, agar bertingkahlaku seperti yang diinginkan orang dewasa.
Apabila mereka tidak mampu akan dianggap kurang matang, mereka akan dicela. Sebaliknya masyarakat terutama orang tua masih memperlakukan mereka sebagai anak-anak dan tidak diberi kesempatan untuk mandiri dalam mengambil keputusan tentang diri merekasendiri. Keadaan ini akan menimbulkan konflik dan perasaan tidak puas dalam diri remaja sehingga dapat menjadi sumber timbulnya emosi negative.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu pengertian emosi dan bentuk emosi?
2. Apa saja karakteristik dan gangguan emosi remaja?
3. Apa saja factor yang mempengaruhi emosi remaja?
4. Apa saja ciri-ciri remaja yang matang dan tidak matang?
5. Bagaimana kajian Islam tentang emosi remaja?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian emosi dan bentuk emosi.
2. Untuk mengetahui karakteristik dan gangguan emosi remaja.
3. Untuk mengetahui factor yang mempengaruhi emosi remaja.
4. Untuk mengetahui ciri-ciri remaja yang matang dan tidak matang.
5. Untuk mengetahui kajian Islam tentang emosi remaja.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Emosi dan Bentuk Emosi Remaja
1. Pengertian Emosi
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa emosi adalah suatu keadaan kejiwaan yang mewarnai tingkah laku. Emosi dapat juga diartikan sebagai suatu reaksi psikologis yang ditampilkan dalam bentuk tingkahlaku gembira, bahagia, sedih, berani, takut, marah, muak, haru, cinta dan sejenisnya. Hathersall (1985, dalam Fadhilah Syafwar, 2011), merumuskan pengertian emosi sebagai situasi psikologis yang merupakan pengalaman subjektif yang dapat dilihat dari reaksi wajah dan tubuh.
Keleinginna and Keleinginna (1981, dalam Fadhilah Syafwar, 2011) berpendapat bahwa emosi sering kali berhubungan dengan tingkah laku. Emosi sering didefinisikan dalam istilah perasaan (filling). Emosi juga berhubungan dengan respon-respon psikologis deperti sakit kepala, berkeringat, dan mau buang air. Dalam Santrock, 2007 (dalam Fadhilah Syafwar, 2011) emosi (emotion) sebagai perasaan, afek, yang terjadi ketika sesorang berada dalam sebuah kondisi atau sebuah interaksi yang penting baginya, khususnya bagi kesejahteraan.
2. Bentuk-bentuk emosi
Crider dan kawan-kawan (1983, dalam Fadhilah Syafwar, 2011) mengemukakan dua jenis emosi yaitu, emosi positif dan emosi negative. Emosi positif misalnya: gembira, bahagia, sayang, cinta dan berani. Emosi negative misalnya: benci, takut, marah, geram dan lain-lain. Emosi negative merupakan reaksi ketidakpuasan dan emosi positif merupakan kepuasan terhadap terpenuhinya kebutuhan yang dirasakan remaja. Apabila kebutuhan itu terpuaskan, maka remaja merasa senang, bahagia, dan gembira, sebaliknya apabila mereka tidak terpuaskan mereka menjadi kecewa, marah, cemas, takut dan sedih.


B. Karakteristik dan Gangguan Emosi Remaja
1. Karakteristik Emosi
Menurut Hurlock, 1980 (dalam Fadhilah Syafwar, 2011) remaja memiliki karakteristik pemunculan emosi yang berbeda bila dibandingkan dengan pada masa kanak-kanak maupun dengan orang dewasa. Emosi remaja seringkali meluap-luap, dan emosi negative mereka lebih mudah muncul. Keadaan ini lebih banyak disebabkan masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka, dan lingkungan yang menghalangi terpuaskannya kebutuhan tersebut.
Luella Cole (1963, dalam Fadhilah Syafwar, 2011) mengemukakan bahwa ada tiga jenis emosi yang menonjol pada periode remaja, yaitu:
a. Emosi Marah
Emosi marah lebih mudah timbul apabila dibandingkan dengan emosi lainnya dalam kehidupan remaja. Penyebab timbulnya emosi marah pada remaja ialah apabila mereka direndahkan, dipermalukan, dihina, atau dipojokan dihadapan kawan-kawannya. Remaja yang sudah cukup matang menunjukan rasa marahnya tidak lagi dengan berkelahi seperti pada masa kanak-kanak sebelumnya, tetapi lebih memilih menggerutu, mencaci atau dalam bentuk ungkapan verbal lainnya.
Remaja juga melakukan tindakan kekerasan dalam melampiaskan emosi marah, meskipun mereka berusaha menekankan keinginan untuk bertingkah laku seperti itu. Pada dasarnya remaja cenderung mengganti emosi kekanak-kanakan mereka dengan cara yang lebih sopan, misalnya dengan cara diam, mogok kerja, pergi keluyuran ke luar rumah, dan melakukan latihan fisik yang keras sebagai cara pelarian emosi marah mereka.
b. Emosi Takut
Jenis emosi lain yang sering muncul pada diri remaja adalah emosi takut. Ketakutan tersebut banyak menyangkut dengan ujian yang akan diikuti, sakit, kekurangan uang, rendahnya prestasi, tidak dapat pekerjaan atau kehilangan pekerjaan, keluarga yang kurang harmonis, tidak popular dilawan mata jenis,  tidak dapat pacar, memikirkan kondisi fisik yang tidak seperti diharapkan. Ketakutan lain adalah kesepian, kehilangan pegangan agama, perubahan fisik, pengalaman seksual seperti onani dan manstrubasi, selalu berkhayal, menemui kegagalan belajar di sekolah ataupun karier, berbeda dengan teman sebaya, takut terpengaruh teman yang kurang baik, diejek dan sebagainya.(Dra. Fadhilah Syafwar, 2011).
Menurut Luella Cole (1963, dalam Fadhilah Syafwar, 2011), ketakutan yang dialami selama masa remaja dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1) Ketakutan terhadap masalah atas sikap orang tua yang tidak adildan cenderung menolak di dalam keluarga.
2) Ketakutan terhadap masalah yang mendapatkan status, baik dalam kelompok sebaya maupun dalam keluarga.
3) Ketakutan terhadap masalah penyesuaian pendidikan atau pilihan pendidikan yang sesuai dengan kemampuan dan cita-cita.
4) Ketakutan terhadap masalah pilihan jabatan yang sesuai dengan kemampuan dan keinginan.
5) Ketakutan terhadap masalah-masalah seks.
6) Ketakutan terhadap ancaman keberadaan diri.
Pada saat akhir remaja dan saat memasuki perkembangan dewasa awal, ketakutan atu kecemasan yang baru muncul adalah menyangkut masalah keuangan, pekerjaan, kemunduran usaha, pendirian/ pandangan politik, kepercayaan/ agama, perkawinan dan keluarga. Remaja yang sudah matang akan berusaha untuk mengatasi masalah-masalah yang menimbulkan rasa takut.
c. Emosi Cinta
Jenis emosi yang menonjol pada remaja adalah emosi cinta. Emosi ini telah ada semenjak masa bayi dan terus berkembang sampai dewasa, sedangkan pada masa remaja rasa cinta diarahkan pada lawan jenis. Pada masa bayi rasa cinta diarahkan pada orang tua terutama kepada ibu. Pada masa kanak-kanak (3-5 tahun) rasa cinta diarahkan pada orang tua yang berbeda jenis kelamin, misalnya anak laki-laki akan jatuh cinta pada ibu dan anak perempuan pada ayah. Pada masa remaja arah dan objek cinta itu berubah yaitu terhadap teman sebaya yang berlawan jenis.
Remaja wanita yang mengalami perkembangan perasaan cinta yang normal adalah jika remaja mengarahkan rasa cintanya kepada pemuda sesama remaja. Demikian juga dengan remaja pria punya cinta normal mengarahkan cintanya kepada seorang gadis. Pada akhir remaja, mereka memilih satu lawan jenis yang paling disayangi. Perkembangan yang normal mengenal emosi cinta dapat disimpulkan sebagai berikut:
1) Objek cinta mula-mula adalah orang dewasa yang sejenis atau berbeda.
2) Kemudian objek cinta beralih pada teman sebaya yang sama jenis kelamin, yaitu pada masa pre-remaja.
3) Pada akhirnya remaja menjadikan teman sebaya sebagai objek cintanya.
2. Gangguan Emosi Remaja
Dari semua hal yang dialami oleh remaja dengan emosi negative tersebut, lebih lanjut dapat berkibat terjadi gangguan-gangguan emosional. Gejala gangguan emosional tersebut adalah:
1) Depresi atau sedih yang mendalam, biasanya akibat kesedihan yang tidak mendapat tanggapan dari orang lain atau tanggapan yang diterimanya justru meningkatkan kesedihan yang ada. Depresi dapat terjadi akibat kehilangan orang yang sangat dicintai atau kegagalan yang bertubi-tubi dialami.
2) Mudah pingsan, karena terlalu sensitive dan perasa, khususnya terhadap sesuatu yang menakutkan dan menyedihkan.
3) Mudah tersinggung, dan sensitive terhadap orang lain. Misalnya sesuatu yang dilihat, didengar atau direspon orang lain, dianggapi secara inpulsif.
4) Sering cemas, karena terlalu banyak memikirkan bahaya atau kegagalan. Apabila dihadapkan pada sesuatu tugas atau tujuan yang diharapkan orang lain yang terbayangkan bukannya keberhasilan dalam menjalankan tugas tersebut namun justru kegagalan yang akan ditemui.
5) Sering ragu-ragu dan memutuskan sesuatu dalam bertindak, kemungkinankarena terlalu banyak pertimbangan yang kadang-kadang tidak rasional.



C. Faktor yang Mempengaruhi Emosi Remaja
Munculnya emosi negative pada diri remaja disebabkan oleh berbagai hal. Hurlock (1980) dan Luella Cole (1963,dalam Fadhilah Syafwar, 2011) menyimpulkan factor penyebab yang menimbulkan emosi negative pada diri remaja, yaitu:
1. Orang tua atau guru memperlakukan mereka seperti anak kecil yang membuat harga diri mereka dilecehkan
2. Apabila dirintangi membina keakraban dengan lawan jenis
3. Terlalu banyak dirintangi daripada disokong
4. Disikapi secara tidak adil oleh orang tua
5. Merasa kebutuhan tidak terpenuhi oleh orang tua
6. Merasa disikapi secara otoriter
Berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi emosi remaja diatas, sesungguhnya pengalaman lingkunganlah yang dapat memberikan konstribusi terhadap remaja dibandingkan perubahan hormonal.
Kondisi emosi remaja yang bergejolak menyebabkan mereka menjadi nakal (sebutan terhadap emosi remaja yang dominan negatif dan merugikan dirinya dan orang lain). Remaja nakal biasanya mengalami gangguan emosi yang menyebabkan mereka bertingkah laku nakal, mereka merasa tidak puas, benci terhadap diri sendiri, dan tidak bahagia. Adapun gangguan emosi yang mereka alami adalah:
a) Merasa tidak terpenuhi kebutuhan fisik mereka secara layak, sehingga timbul ketidak puasan, kecemasan dan kebencian terhadap apa yang mereka alami
b) Merasa dibenci, di sia-siakan, tidak dimengerti dan tidak diterima oleh siapa pun termasuk orang tua mereka
c) Merasa lebih banyak dirintangi, dibantah dihina serta dipatahkan daripada disokong, disayangi dan ditanggapi khususnya ide-ide mereka
d) Merasa tidak mampu atau bodoh. Mereka merasa bodoh mungkin mereka tidak mengenal potensi mereka atau karena khayalan mereka semata
e) Merasa tidak menyenagi kehidupan keluarga mereka yang tidak harmonis seperti sering bertengkar
f) Merasa menderita karena iri terhadap saudara karena disikapi dan dibedakan secara tidak adil
Dari semua hal yang dialami oleh remaja dengan emosi negatif tersebut, lebih lanjut dapat berakibat terjadi gangggua-ganggguan emosional. Gejala gangguan emosional tersebut diantaranya:
a. Depresi atau sedih yang mendalam, biasanya akibat kesediahan yang tidak memndapat tanggapan dari orang lain atau tanggapan yang diterimanya justru meningkatkan kesedihan yang ada
b. Mudah pingsan, karena teralalu sensitif dan perasa, khususnya terhadap sesuatu yang menakutkan dan menyedihkan
c. Mudah tersinggung dan sensitif terhadap orangg lain. Misalnya sesuatu yang dilihat, didengar atau direspon orang lain.
d. Sering cemas, karena terlalu banyak memikirkan bahaya atau kegagalan
e. Sering ragu-ragu dan memutuskan sesuatu dalam bertindak, kemungkinan karena teralu banyak pertimbangan yang kadang-kadang tidak rasional

D. Ciri-ciri Emosi Remaja yang Matang dan yang Tidak Matang
1. Ciri-ciri remaja yang matang
a. Mandiri dalam arti emosional, yaitu bertanggung jawab atas masalahnya sendiri dan bertanggung jawab atas orang lain
b. Mampu menerima diri sendiri dan orang lain apa adanya. Mereka tidak cenderung menmyalahkan diri sendiri ataupun menyalahkan orang lain atas kegagalan yamg dialaminya
c. Mampu menampilkan ekspresi emosi sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada
d. Mampu mengendalikan emosi-emosi negatif sehingga pemunculannya tidak impulisve

2. Ciri-ciri remaja yang tidak matang
a. Cenderung melihat sisi negatif orang lain
b. Impulsif, kurang mampu mengendalikan emosi dan mudah emosional
c. Kurang mampu menerima diri sendiri dan orang lain apa adanya
d. Kurang mampu memahami orang lain dan cenderung untuk selalu minta dipahami orang lain

E. Kajian Islam tentang Emosi Remaja
Dalam perspektif islam, segala macam emosi dan ekspresinya diciptakan oleh Allah swt, melalui ketentuannya (dalam Sukring,2013). Emosi diciptakan oleh Allah swt, untuk membentuk manusia yang lebih sempurna, dalam Q.S An-Najm ayat 43-44 :
Dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis. Dan bahwasanya Dia-lah yang dan menghidupkan.
Dalam hadist yang diriwayatkan Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah saw, bersabda yang artinya:
Ingat, diantara mereka ada yang lamban dan cepat sadar, ada juga yang cepat marah dan cepat sadar, maka itu sebagai ganti yang itu. Ingat yang terbaik dari mereka adalah yang kamban marah tapi cepat sadar, ingat yang terburuk dari mereka adalah yang cepat marah dan lamban sadar. (HR. At-Tirmidzi)
Hadist diatas mengisyaratkan, adanya perbedaan gejolak emosional pada masing-masing individu, rasulullah saw membagi manusia berdasarkan gejolak emosinya menjadi tiga golongan yaitu:
1. Orang yang tidak mudah marah atau jarang sekali marah. Jika ia marah, ia segera meredam kemarahannya dan kembali menenangkan diri. Kelompok ini adalah golongan orang yang paling utama.
2. Orang cepat marah hanya gara-gara urusan remeh, tetapi juga bisa cepat meredam amarahnya.
3. Orang yang cepat marah dan tidak mudah menghentikan kemarahannya. Ia akan mampu meredam amarahnya jika sudah cukup lama berlalu. Kelompok ketiga inilah yang tergolong kelompok paling buruk.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa emosi adalah suatu keadaan kejiwaan yang mewarnai tingkah laku. Emosi dapat juga diartikan sebagai suatu reaksi psikologis yang ditampilkan dalam bentuk tingkahlaku gembira, bahagia, sedih, berani, takut, marah, muak, haru, cinta dan sejenisnya. Hathersall (1985, dalam Fadhilah Syafwar, 2011), merumuskan pengertian emosi sebagai situasi psikologis yang merupakan pengalaman subjektif yang dapat dilihat dari reaksi wajah dan tubuh.
Crider dan kawan-kawan (1983, dalam Fadhilah Syafwar, 2011) mengemukakan dua jenis emosi yaitu, emosi positif dan emosi negative. Emosi positif misalnya: gembira, bahagia, sayang, cinta dan berani. Emosi negative misalnya: benci, takut, marah, geram dan lain-lain. Emosi negative merupakan reaksi ketidakpuasan dan emosi positif merupakan kepuasan terhadap terpenuhinya kebutuhan yang dirasakan remaja. Apabila kebutuhan itu terpuaskan, maka remaja merasa senang, bahagia, dan gembira, sebaliknya apabila mereka tidak terpuaskan mereka menjadi kecewa, marah, cemas, takut dan sedih.
B. Saran
Dalam penyelesaiannya, makalah ini masih banyak memiliki kekurangan, akan tetapi penulis sudah berupaya menyelesaikan pembahasan dari makalah ini, untuk itu penulis meminta maaf kepada pembaca atas semua kekurangan, serta mohon kepada pembaca untuk memberikan kritik dan sarannya, agar makalah ini bisa disempurnakan kembali dalam penyelesaiannya.

Phobia

Pencari : Nurul Aulia Fitra

D. Faktor Penyebab Phobia

1. Factor Biologis
Phobia disebabkan karena adanya peningkatan tonus saraf otonomi simpatik dan perubahan sistem hantar transmisi di otak. Seperti adanya perubahan norefinefrin, serotonin dan gamma amino butirik asid (GABA) yang berpengaruh pada lokus sereleus di batang otak sebagai pusat sistem saraf otonom, yang juga berpengaruh pada pusat emosi di sistem limbik dan korteks otak pre-frontalis.

2. Faktor Genetik atau keturunan
Perkembangan otak seseorang seperti rasa malu, kecemasan, dan juga rasa nervous merupakan salah satu yang ter-influence dari faktor keturunan. Jadi ketika orang tua memiliki fobia, besar kemungkinan diturunkan pada anaknya atau orang yang terlahir dari keluarga yang mengidap phobia, sangat rentan terkena fobia.

3. Faktor Psikososial
Phobia timbul akibat reflek yang dibiasakan, kecemasan ditimbulkan oleh rangsangan alami yang menakutkan. Seperti kebiasaan orang tua yang menakut-nakuti anak dengan sesuatu yang tidak masuk akal. Kita memberikan imajinasi kepada anak bahwa hal tersebut sangat menakutkan. Hal tersebut memang cukup efektif untuk menakuti anak tapi dampak buruknya jika ketakutan anak tersebut dibawa sampai dia dewasa.

4. Faktor Trauma
Trauma akan hal yang pernah dialami pada masa lalu dan masih ditakuti sampai sekarang, hal ini pun menjadi phobia. Pengalaman buruk yang menakutkan dan menyedihkan atau merasa tertekan juga dapat menimbulkan trauma yang mengakibatkan phobia. Contohnya, sewaktu kecil pernah dipatuk ayam betina dan sampai sekarang masih takut dengan ayam. Bahkan lebih parahnya menjadi takut pada semua ayam.


5. Faktor Geli atau Jijik
Karena merasa geli atau jijik juga bisa membuat kita phobia. Geli dengan bulu binatang, ulat, cacing, dan lain-lain. Bukan hanya wanita saja yang geli dengan benda-benda diatas. Pria pun banyak yang merasa phobia dengan kegelian. Penampilan maco, ada ulat dia lari. Tidak ada salahnya pria phobia, karena ini memang tidak dibuat-buat takutnya.

6. Faktor Lingkungan
Berada dilingkungan yang tidak aman dan tenang seperti dilingkungan yang sedang terjadi konflik atau peperangan dapat mengakibatkan trauma yang menjadi penyebab phobia. Misalnya phobia pada suara keras, phobia suara tembakan, dan lainnya.

E. Cara Mengatasi Fobia
Bila fobia dibiarkan begitu saja pada anak, maka pertumbuhan mentalnya akan sangat terganggu dan akhirnya anak akan memiliki tingkah laku yang tidak wajar. Berikut cara mengatasi phobia pada anak:

1. Anda harus memperkenalkan pada anak sumber fobia tersebut. Maksudnya berikan pemahaman akan objek atau sesuatu yang membuatnya takut. Misalnya ia takut dengan semut atau serangga apapun. Maka anda bisa menjelaskannya dengancara yang lucu dan menyenangkan seperti berdongeng atau bercerita mengenai binatang tersebut.
2. Jika anak Anda memiliki fobia terhadap lingkungan sosial sekitar maka anda bisa melatihnya dengan membawanya untuk bersosialisasi dengan banyak orang untuk melakukan komunikasi. Jangan malah dijauhkan dari sumber ketakutannya tersebut.
3. Jika anak anda memiliki ketakutan terhadap kondisi tertentu seperti ruangan gelap, ketinggian, atau keramaian maka anda bisa melatihnya dengan cara yang menyenangkan seperti misalnya bermain sembunyi-sembunyi di dalam selimut yang gelap, atau anak yang takut pada ketinggian. Anda bisa mengajarinya dengan melakukan olahraga seperti bergantung di tempat yang tinggi.
Tapi, harus dilakukan secara bertahap, jangan langsung memberikan pelatihan dengan intensitas sumber fobia yang terlalu tinggi. Misalnya anda memaksanya untuk berada di ruangan yang gelap, atau menempatkannya di tempat yang sangat tinggi. Ini malah akan memperburuk ketakutannya.
4. Jangan menertawakan atau menghina ketakutannya itu, sebaliknya berikan dukungan dan semangat untuk usahanya dalam melawan ketakutan itu. Pastikan anak Anda merasakan bahwa ia sangat dicintai oleh keluarga sehingga ia akan berpikir bahwa ia tidak perlu takut karena ada orang-orang di sekelilingnya yang menyayanginya dan akan siap menolong dia.
5. Dalam membimbingnya mengatasi ketakutan pastikan bahwa anak anda mengetahui tujuan terapi pada fobia nya tersebut. Jika anak anda merasa hal itu tidak bermanfaat baginya dia akan malah merasa dipermainkan karena diperhadapkan pada hal yang ditakutinya. Jadi berikan dia pengertian bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk menghilangkan rasa takutnya terhadap sumber fobia tersebut.
Dalam mengatasi Fobia pada anak Anda harus sabar dan konsisten, tidak boleh terburu-buru yang malah menyebabkan ketidaknyamanan pada sang anak.

LONELINESS (KESEPIAN)

A. Pengertian Kesepian Kesepian adalah perasaan terasing, tersisihkan, terpencil dari orang lain. Sering orang kesepian karena merasa berbed...