Minggu, 16 Januari 2022

Perkembangan (Faktor, Pengaruh, dan Perkembangan Kognitif)

A. Faktor-faktor Perkembangan

Para ahli berbeda pendapat tentang faktor mana yang lebih dominan pengaruhnya terhadap seseorang dalam perkembangannya, apakah pembawaan ataukah lingkungan. Untuk menjawabnya, dalam hal ini pendapat mereka tersebut dapat digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu:

1. Aliran/ golongan Nativisme

Aliran ini mengatakan bahwa perkembangan manusia itu ditentukan oleh pembawaan sejak lahir. Mereka mengemukakan bahwa setiap manusia yang dilahirkan dibekali (membawa) bakat-bakat yang berasal dari generasi sebelumnya, apabila pembawaan itu baik maka akan baik pula anak itu kelak, demikian juga sebaliknya. Menurut anggapan aliran ini, segala pengaruh lingkungan atau pendidikan tidaklah berarti apa-apa, karena segala bakat atau pembawaan itu akan berkembang dengan sendirinya tanpa dapat dirubah, sehingga pendidikan tidak perlu (pesimisme pendagogis).

Manshur Ali Rajab (1961) menyebutkan bahwa ada lima macam yang dapat diwariskan dari orang tua kepada anaknya, yaitu; pertama, pewarisan yang bersifat jasmaniah; kedua pewarisan yang bersifat intelektual; ketiga, pewarisan yang bersifat tingkah laku; keempat, pewarisan yang bersifa alamiah; dan kelima, pewarisan yang bersifat sosiologis. Tokoh terkemuka aliran ini adalah Schopenhauer (1788-1860), Plato, Descartes dan beberapa ahli tokoh yang mendukungnya yaitu Lambroso, E. Ferri dan R. Garofalo.


2. Aliran/ golongan Empirisme

Pendapat empirisme merupakan kebalikan dari Nativisme yakni bahwa perkembagan manusia itu lebih banyak dipengaruhi atau ditentukan oleh lingkungannya (paedagigis), kata Watson (seorang tokoh behavioris AS) “Beri saya sejumlah anak, akan saya jadikan dokter, ahli hokum dan lain-lain, bahkan pengemis dan pencuri sekalipun. Asumsi psikologis yang mendasari aliran ini adalah bahwa manusia lahir dalam kondisi netral, tidak membawa potensi apapun, ia bagaikan kertas putih (tabula rasa; meja dari lilin) yang dapat ditulisi apa saja yang dikehendaki oleh lingkungannya.

Lingkungan yang mempengaruhi tingkah laku terdiri dari lima aspek, yaitu (1) geografis/ alamiah yakni lingkungan berdasarkan letak wilayah seperti di dataran, pegunungan, atau pesisir pantai. (2) Lingkungan historis yaitu lingkungan yang ditentukan oleh keadaan suatu masa atau era dengan segala perkembangan keberadabannya. (3) Lingkungan sosiologis yaitu lingkungan yang ditentukan oleh hubungan antar individu dalam suatu komunikasi social. (4) Lingkungan kultural, yaitu lingkungan yang ditentukan oleh kultur suatu masyarakat. (5) Lingkungan psikologis adalah lingkungan yang ditentukan oleh kondisi kejiwaan, seperti kondisi rasa tanggung jawab, toleransi, kesadaran, kemerdekaan, keamanan, kesejahteraan dan sebagainya (M. Mahmud: 1984). Tokoh aliran ini adalah John Locke dan diperkuat oleh Sigaud dan Mac Aulife.


3. Aliran/ golongan Konvergensi

Aliran ini menganggap bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh pembaawaan dan lingkungan. Aliran yang ketiga ini berusaha mengambil jalan tengah antara kedua pendapat di atas, yang mana dalam dunia pendidikan bahkan dalam kehidupan secara keseluruhan tidak pernah ada manusia yang dalam proses perkembangan menuju kedewasaan/ kematangan hanya ditentukan oleh factor keturunan atau oleh factor lingkungan saja.

Bakat saja tanpa adanya pengaruh lingkungan yang cocok dalam perkembangan anak belumlah cukup, demikian pula lingkungan yang baik tetapi tidak sesuai dengan bakat yang dimiliki anak juga tidak akan mendatangkan hasil yang baik. Tokoh konvergensi ini ialah William Sterm, dan disempurnakan oleh M. J. Langeveld. (Rohmah, 2015: 93-96)

Kalau dilihat dari sudut pandangan Islam, yang diasumsikan dari struktur nafsani tidak lantas menerima ketiga aliran di atas. Disamping terdapat kelemahan-kelemahan, ketiga aliran tersebut hanya berorientasi teorinya pada pola pikir antroposentris, artinya perkembangan kepribadian manusia seakan-akan hanya dipengaruhi oleh factor manusiawi. Manusia dalam pandangan Islam telah memiliki seperangkat potensi, disposisi, dan karakteristik unik.

Potensi yang ada dalam diri manusia yang dibawa sejak lahir itulah yang dinamakan fitrah, yakni keimanan, ketauhidan, keislaman, keselamatan, kesucian, kecenderungan menerima kebenaran dan kebaikan serta sifat lainnya. Semua potensi itu bukan diturunkan dari orang tua, melainkan diberikan oleh Allah Swt. sejak di alam perjanjian (mistq). Proses pemberian potensi-potensi itu melalui struktur rohani. Jadi secara potensial, kondisi kejiwaan manusia tidak netral, apalagi kosong seperti kertas putih, namun secara hukum manusia tidak memiliki kebaikan atau keburukan yang diwarisi, tapi sangat tergantung kepada realisasi dirinya.

Kesimpulannya dalam Islam faktor hereditas boleh jadi menjadi salah satu factor perkembangan. Hal ini tertera dalam hadits Nabi bahwa pemilihan jodoh itu harus dilihat dari empat segi, yaitu harta, keturunan, kecantikan dan agama. Nabi kemudian mengajarkan untuk memilih agamanya agar kelak rumah tangganya menjadi bahagia dan selamat. Peran lingkungan dalam penentuan proses perkembangan juga diakui dalam Islam. Banyak ayat al-Qur’an maupun hadits Nabi yang menjelaskan pentingnya peran lingkungan dalam proses perkembangan misalnya seruan amar ma’ruf nahi munkar (QS. Ali Imran: 104), belajar menuntut ilmu agama lalu mendakwahkan pada orang lain (QS. At Taubah: 122), seruan kepada orang tua agar memelihara keluarganya dari api neraka (QS. At-Tahrim: 6) dan seterusnya.

Satu lagi factor penentu perkembangan manusia yaitu factor-faktor bawaan manusia itu sendiri yang dibawa sejak kelahirannya, yang ini sangat berkaitan dengan fitrah itu sendiri. Kesimpulan akhir bahwasannya jalan perkembangan manusia sedikit banyak ditentukan oleh pembawaan yang turun temurun yang oleh aktivitas dan pemilihan atau penentuanmanusia itu sendiri yang dilakukan dengan bebas di bawah pengaruh factor lingkungan yang tertentu berkembang menjadi sifat. Dan ternyata tiap-tiap sifat dan ciri-ciri manusia dalam perkembangannya ada yang lebih ditentukan oleh lingkungan nya dan ada pula yang lebih ditentukan oleh pembawaannya. (Rohmah, 2015: 97-100)

B. Pengaruh Perkembangan Individu

Menurut teori Bronfenbrenner, konteks sosial dimana individu hidup akan banyak mempengaruhi perkembangan individu. Ada tiga konteks yang mempengaruhi perkembangan individu :

1. Keluarga

Individu tumbuh dalam keluarga yang berbeda–beda. Beberapa orang tua mengasuh dan mendukung anak mereka. Orang tua lainnya bersikap kasar atau mengabaikan anaknya. Anak lainnya tinggal dalam keluarga yang tidak pernah bercerai. Beberapa keluarga anak hidup dalam kemiskinan, yang lainnya berkecukupan. Situasi yang bervariasi ini akan memengaruhi perkembangan anak dan memengaruhi murid di dalam dan di luar kelas (Cowan & Cowan, 2002; Morrison & Cooney, 2002 ). 

2. Teman Sebaya

Selain keluarga teman seusia atau sebaya (peer) juga memainkan peran penting dalam perkembangan individu. Dalam konteks perkembangan individu, teman seusia adalah anak pada usia yang sama atau level kedewasaan yang sama. Salah satu fungsi terpenting dari kelompok teman seusia adalah memberikan sumber informasi dan perbandingan tentang dunia di luar keluarga. Hubungan teman sebaya yang baik mungkin dibutuhkan untuk perkembangan normal (Howes & Tonyan, 2000; Rubin, 2000).

Dalam sebuah studi, hubungan dengan teman sebaya yang buruk di masa kanak-kanak menyebabkan terjadinya drop-out dari sekolah dan tindak kejahatan diusia remaja (Roff, Sells & Golden, 1972). Dalam studi lain, hubungan teman sebaya yang harmonis diusia remaja menyebabkan kesehatan mental yang positif diusia paruh baya nanti (Hightower, 1990). 


Para developmentalis telah dengan tepat menunjukan empat tipe teman sebaya, yaitu: 

a. Anak populer

Anak populer sering kali didominasikan sebagai kawan terbaik, tetapi bukannya tidak disukai oleh kawan seusianya.

b. Anak diabaikan (neglected children

Anak diabaikan jarang didominasikan sebagai kawan terbaik, tetapi bukannya tidak disukai oleh kawan seusianya. 

c. Anak ditolak (rejected children)

Anak ditolak jarang didominasikan sebagai kawan terbaik dan sering dibenci oleh teman-teman seusianya.

d. Anak kontroversial (conrtoversial children)

Anak kontroversial sering kali didominasikan sebagai teman baik tapi juga kerap tidak disukai.


3. Sekolah 

Di sekolah, anak menghabiskan banyak waktu sebagai anggota dari masyarakat kecil yang sangat mempengaruhi perkembangan sosio emosional mereka. Konteks Perkembangan Sosial yang Terus Berubah di Sekolah. Konteks sekolah bervariasi sejak masa kanak-kanak awal, sekolah dasar hingga remaja (Minuchin & Shapiro, 1983). Setting masa kanak-kanak awal adalah sebuah lingkungan yang terlindung yang batas-batasnya adalah ruang kelas. Dalam setting sosial yang terbatas ini, anak-anak berinteraksi dengan satu atau dua guru, yang biasanya perempuan, yang menjadi figur utama dalam kehidupan mereka saat itu.

Saat anak masuk ke sekolah menengah pertama, lingkungan sekolah semakin luas bukan sekedar ruang kelas. Remaja berinteraksi dengan guru dan teman seusia yang makin beragam. Perilaku sosial remaja makin mengarah pada interaksi dengan teman, ekstrakurikuler, klub, dan komunitas. 

Murid sekolah menengah lebih menyadari sekolah sebagai sistem sosial dan mungkin termotivasi untuk menyesuaikan diri dengannya atau menentangnya. (Santrock, 2004: 90-103)


C. Perkembangan Kognitif Individu

1. Otak

Jumlah dan ukuran saraf otak terus bertambah setidaknya sampai usia remaja. Beberapa penambahan ukuran otak juga disebabkan oleh myelination, sebuah proses dimana banyak sel otak dan sistem saraf diselimuti oleh lapisan-lapisan sel lemak yang bersekat-sekat. Myelination dalam daerah otak yang berhubungan dengan koordinsi mata-tangan belum lengkap sampai usia empat tahun. Myelination dalam area otak yang penting dalam memfokuskan perhatian belum lengkap sampai akhir usia sekolah dasar (Tanner, 1978).

Aspek penting lain dari perkembangan otak di tingkat sel adalah peningkatan dramatis dalam koneksi antara neuron (sel-sel saraf) (Ramey & Ramey, 2000). Dalam studi terbaru yang menggunakan teknik pemindaian (scanning) otak yang canggih, otak anak-anak tampak mengalami perubahan anatomis yang substansial antara usia tiga sampai lima belas tahun (Thompson dkk., 2000).

2. Teori Piaget

Proses Kognitif. Dalam memahami dunia mereka secara aktif, anak-anak menggunakan skema (kerangka kognitif atau kerangka referensi). Sebuah skema adalah konsep atau kerangka yang eksis di dalam pikiran individu yang dipakai untuk mengorganisasikan dan menginterprestasikan informasi.

Piaget (1952) mengatakan bahwa ada dua proses yang bertanggung jawab atas cara anak menggunakan dan mengadaptasi skema mereka: asimilasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi ketika seorang anak memasukan pengetahuan baru kedalm pengetahuan yang sudah ada. Akomodasi terjadi ketika menyesuaikan diri pada informasi baru.

Piaget juga mengatakan bahwa untuk memahami dunianya, anak-anak secara kognitif mengorganisasikan pengalaman mereka. Organisasi adalah konsep Piaget yang berarti usaha mengelompokan perilaku yang terpisah-pisah kedalam urutan yang lebih teratur, kedalam sistem fungsi kognitif. Ekuilibrasi adalah suatu mekanisme yang di kemukakan Piaget untuk menjelaskan sebagaimana anak bergerak dari satu tahap pemikiran ke tahap pemikiran selanjutnya.

3. Teori Vygotsky

Seperti Piaget, Vygotsky (1896-1934) dari Rusia juga percaya bahwa anak akhir dalam menyusun pengetahuan mereka.

a. Asumsi Vygotsky

Ada tiga klaim dalam inti pandangan Vygotsky (Tappan,1998): (1) keahlian kognitif anak dapat dipahami apabila dianalisis dan diinterprestasikan secara developmental; (2) kemampuan kognitif dimediasi dengan kata, bahasa, dan bentuk diskursus, yang berfungsi sebagai alat psikologis untuk membantu dan mentransformasi aktivitas mental; dan (3) kemampuan kognitif berasal dari relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural.

Menurut Vygotsky, menggunakan pendekatan developmental  berarti memahami fungsi kognitif anak dengan memeriksa asal usulnya dan transformasinya dari bentuk awal ke bentuk selanjutnya. Jadi, tindakan mental tertentu seperti menggunakan “ucapan batin” (inner speech) tidak bisa dilihat dengan tepat secara tersendiri tetapi harus di evaluasi sebagai satu langkah dalam proses perkembangan bertahap.

Klaim kedua Vygotsky, yakni untuk memahami fungsi kognitif kita harus memeriksa alat yang memperantarai dan membentuknya, membuat Vygotsky percaya bahwa bahasa adalah alat yang paling penting (Robbins, 2001). Klaim ketiga Vygotsky, mengatakan bahwa kemampuan kognitif berasal dari hubungan sosial dan culture. Vygotsy mengatakan bahwa perkembangan anak tidak bisa dipisahkan dari kegiatan sosial dan kultural (Holland, dkk.,2001)

b. Zone of Proksimal Development

Zone of Proksimal Develpment (ZPD) adalah istilah  Vygotsky untuk serangkaian tugas yang terlalu sulit dikuasai anak secara sendirian tetapi dapat dipelajari dengan bantuan dari orang dewasa atau anak yang lebih mampu.

c. Scaffolding

Adalah sebuah teknik untuk mengubah level dukungan. Selama sesi pengajaran, orang yang lebih ahli menyesuaikan juumlah bimbingannya dengan level kinerja murid yang telah dicapai.

d. Bahasa dan Pemikiran

Vygotsky (1962) percaya bahwa anak-anak menggunakan bahasa bukan hanya untuk komunikasi sosial, tetapi juga untuk merencanakan, memonitor perilaku mereka dengan caranya sendiri. Bahasa itu digunakan untuk mengatur diri sendiri yang dinamakan “pembicaraan batin” (inner speech) atau “pembicaraan privat” (privat speech). 

e. Mengevaluasi dan Membandingkan Teori Piaget dan Vygotsky

Pengetahuan akan teori Vygotsky datang lebih belakangan ketimbang teori Piaget, sehingga teori Vygosky belum dievaluasi secara menyeluruh. Akan tetapi, teorinya sudah dianut oleh banyak guru dan berhasil diterapkan untuk pendidikan (Doolittle, 1997). (Santrock, 2004: 43-65)

Sabtu, 11 September 2021

Human's Intelligen

 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kecerdasan dalam bahasa Inggris sama dengan Intelligence. Banyak para tokoh yang mendefinisikan tentang Intelligence (kecerdasan). Seperti yang dikutip oleh Hamzah B. Uno dari Feldam mendefinisikan kecerdasan sebagai “kemampuan memahami dunia, berfikir secara rasional, dan menggunakan sumber-sumber secara efektif pada saat dihadapkan dengan tantangan”. Orang sering kali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan IQ, EQ, AQ, dan SQ pada otak?

2. Apa yang dimaksud dengan modalitas belajar?

3. Apa yang dimaksud dengan gaya berpikir?

4. Bagaimana dominasi otak pada manusia?

5. Apa yang dimaksud dengan Kecerdasan ganda?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui apa itu IQ, EQ, AQ, dan SQ pada otak

2. Untuk mengetahui apa itu modalitas belajar

3. Untuk mengetahui apa itu gaya berpikir

4. Untuk mengetahui dominasi otak pada manusia

5. Untuk mengetahui apa itu kecerdasan ganda


BAB II

PEMBAHASAN

A. IQ, EQ, AQ dan SQ pada Otak

Intellegent Qoutient (IQ)

Kecerdasan dalam bahasa Inggris sama dengan Intelligence. Banyak para tokoh yang mendefinisikan tentang Intelligence (kecerdasan). Seperti yang dikutip oleh Hamzah B. Uno dari Feldam mendefinisikan kecerdasan sebagai “kemampuan memahami dunia, berfikir secara rasional, dan menggunakan sumber-sumber secara efektif pada saat dihadapkan dengan tantangan”. Orang sering kali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional.

Intelligence Quotient atau yang biasa disebut dengan IQ merupakan istilah dari pengelompokan kecerdasan manusia yang pertama kali diperkenalkan oleh Alferd Binet, ahli psikologi dari Perancis pada awal abad ke-20. Kemudian Lewis Ternman dari Universitas Stanford berusaha membakukan test IQ yang dikembangkan oleh Binet dengan mengembangkan norma populasi, sehingga selanjutnya test IQ tersebut dikenal sebagai test Stanford-Binet. Pada masanya kecerdasan intelektual (IQ) merupakan kecerdasan tunggal dari setiap individu yang pada dasarnya hanya bertautan dengan aspek kognitif dari setiap masing-masing individu tersebut. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.

Tingkat kecerdasan seorang anak yang ditentukan secara metodik oleh IQ (Intellegentia Quotient) memegang peranan penting untuk suksesnya anak dalam belajar. Menurut penyelidikan, IQ atau daya tangkap seseorang mulai dapat ditentukan sekitar umur 3 tahun. Daya tangkap sangat dipengaruhi oleh garis keturunan (genetic) yang dibawanya dari keluarga ayah dan ibu di samping faktor gizi makanan yang cukup.  IQ atau daya tangkap ini dianggap takkan berubah sampai seseorang dewasa, kecuali bila ada sebab kemunduran fungsi otak seperti penuaan dan kecelakaan. IQ yang tinggi memudahkan seorang murid belajar dan memahami berbagai ilmu. Daya tangkap yang kurang merupakan penyebab kesulitan belajar pada seorang murid, disamping faktor lain, seperti gangguan fisik (demam, lemah, sakit-sakitan) dan gangguan emosional.

Kecerdasan Emosional (Emotional Quotient)

Hamzah B. Uno menjelaskan bahwa “kata emosi secara sederhana bisa didefinisikan sebagai menetepkan ‘gerakan’ baik secara metafora maupun harfiah, untuk mengeluarkan perasaaan”. Dalam makna paling harfiah, Goleman mengambil definisi dari Oxford English Dictionary bahwa emosi adalah “setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu; setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap”. 

Ada beberapa definisi kecerdasan emosional atau EQ (Emotional Quotient), diantaranya:

Menurut Salovey dan Mayer yang dikutip oleh Muhammad Yasin, mengatakan bahwa: Emotional Quotient merupakan himpunan bagian dari kecerdasan social yang melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, memilah-milah semuanya, dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.

Menurut Dvis seperti yang dikutip dari Satiadarma oleh Nur Efendi menjelaskan pengertian Emotional Quotient adalah “kemampuan seseorang untuk mengendalikan emosi dirinya sendiri dan orang lain, membedakan satu emosi dengan lainnya, dan menggunakan informasi tersebut untuk menuntun proses berpikir serta berperilaku seseorang”.

Menurut Stein dan Book yang dikutip oleh Hamzah B. Uno menjelaskan bahwa: EQ adalah serangkaian kecakapan yang memungkinkan kita melapangkan jalan di dunia yang rumit, mencakup aspek pribadi, social, dan pertahanan dari seluruh kecerdasan, akal sehat yang penuh misteri, dan kepekaan yang penting untuk berfungsi secara efektif setiap hari.

 Menurut Yusuf Musthofa kecerdasan emosional adalah “kemampuan seseorang dalam mengendalikan setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap yang didasarkan pada pikiran yang sehat”.

Sedangkan menurut Daniel Goleman, kecerdaan emosional (Emotional Quotient) atau EQ merupakan “kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan orang lain, kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain”.

Berangkat dari berbagai definisi di atas, dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan kecerdasan emosional adalah serangkaian kemampuan seseorang dalam mengenali dan memotivasi diri sendiri, mengelola dan mengendalikan emosi, membimbing pikiran dan tindakan dengan baik dalam hubungannya dengan diri sendiri maupun dengan orang lain.

Adversity Quotient (AQ)

Istilah Adversity Quotient diambil dari konsep yang dikembangkan oleh Paul G. Stoltz, Ph.D, presiden PEAK Leraning, Inc. Seorang konsultan di dunia kerja dan pendidikan berbasis skill (Stoltz, 2000). Konsep kecerdasan (IQ dan EQ) telah ada saat ini dianggap belum cukup untuk menjadi modal seseorang menuju kesuksesan, oleh karena itu Stoltz kemudian mengembangkan sebuah konsep mengenai kecerdasan adversity. Adversity dalam kamus bahasa Inggris berarti kesengsaraan dan kemalangan, sedangkan quotient diartikan sebagai kemampuan atau kecerdasan. Sedangkan menurut Stoltz, Adversity Quotient merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mengamati kesulitan dan mengolah kesulitan tersebut dengan kecerdasan yang dimiliki sehingga menjadi sebuah tantangan untuk diselesaikan (Stoltz, 2000).

Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient)

Sebelum memahami tentang kecerdasan spiritual, perlu dejelaskan terlebih dulu mengenai arti kata spiritual itu sendiri. Dalam hal ini, Aliah B. Purwakania menjelaskan bahwa: Menurut kamus Webster kata “spirit” berasal dari kata benda bahasa Latin “spiritus” yang berarti untuk bernapas. Melihat asal katanya, untuk hidup adalah untuk bernapas, dan memiliki napas artinya memilikiki spirit. Menjadi spiritual berarti memiliki ikatan yang lebih kepada hal yang bersifat kerohanian atau kejiwaan dibandingkan hal yang bersifat fisik atau material.

Aliah B. Purwakania juga mengatakan bahwa “spirit merupakan diri yang sesungguhnya di dalam diri manusia yang telah ada sebelum kelahiran”. Dengan demikian, “sesuatu yang spiritual memiliki kebenaran abadi yang berhubungan dengan tujuan hidup manusia”. Adapun mengenai pengertian kecerdasan spiritual, Danah Zohar dan Ian Marshall mendefinisikan kecerdasan spiritual seperti yang dikutip oleh Ary Ginanjar adalah “kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam kontekas makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain”.


B. Modalitas Belajar

Dari semua indera, yang paling aktif hanya tiga, yaitu: Visual system, auditory system, dan haptic system atau lebih dikenal sebagai kinestetik system. De Porter dan Hernacki percaya bahwa dari ketiga jenis indera inilah gaya belajar seseorang dibentuk. Modalitas belajar menunjuk pada indera mana yang paling efektif dalam proses belajar seseorang dalam memahami dunia sekitar. Ketiga-tiganya akan dikembangkan oleh setiap manusia, namun biasanya akan ada satu indera yang paling dominan dibandingkan yang lain. Indera dominan tadi yang menentukan cara belajar yang paling efektif. 

Visual System

Orang dengan modalitas visual yang dominan, akan belajar paling efektif melalui indera mata. Dalam bentuk gambar, tulisan, atau apapun media yang terlihat. Ketika berimajinasi, lebih mudah membayangkan bentuk dibandingkan modalitas lain.

Auditory System

Orang dengan modalitas auditory yang dominan, akan belajar paling efektif melalui indera telinga. Dalam bentuk suara, musik atau sejenisnya.

Kinestetik System

Orang dengan modalitas kinestetik yang dominan, akan belajar paling efektif melalui indera kulit. Dalam bentuk rabaan, percobaan langsung, gerakan, dan sejenisnya. Ketika berimajinasi, lebih mudah membayangkan interaksi fisik dibandingkan modalitas yang lain. 


C. Gaya Berpikir

Pada dasarnya gaya berpikir (Style of Thinking) hanya dibagi menjadi dua bentuk, yaitu auditory learner dan visual learner. Auditory learner adalah gaya berpikir yang lebih didasarkan pada pemrosesan informasi melalui pendengaran (auditory). Visual learner adalah lebih didasarkan pada pemrosesan melalui penglihatan (visual). Pada anak-anak cerdas istimewa digunakan istilah visual spatial learner, yang artinya bahwa seorang anak cerdas istimewa melakukan pemrosesan informasi bukan hanya melalui penglihatannya saja, namun ia juga menggunakan kekuatan lain yang ada padanya, yaitu kemampuan pandang ruang yang tinggi (kemampuan dimensi) yang disebut sebagai kemampuan spatial.

Cara Berpikir Auditory Learner VS Visual Spatial Learner

Saat anak baru dilahirkan ia akan menjadi anak yang lebih kepada visual learner daripada auditory learner. Pada saat baru dilahirkan ia lebih didominasi oleh belahan otak sebelah kanan. Ia belajar menerima informasi lebih secara visual. Apa yang diterima secara visual (penglihatan) ini kemudian dilakukan pemrosesan di dalam otak sebagai sebuah informasi. Kelak saat mana anak-anak ini sudah bisa berbicara dengan baik, yaitu sekitar usia 5 – 6 tahun, maka cara penerimaan itu akan berubah, ia menjadi anak yang lebih pada auditory learner. Perubahan ini adalah sebagai akibat dari berubahnya dominasi otak, yang semula dominasi lebih kepada dominasi belahan otak kanan (yang mengatur kemampuan visual), kini dominasi berpindah ke belahan otak yang mengatur auditory (pendengaran).

Kekuatan Auditory  Learner VS  Kekuatan Visual Learner

Anak-anak yang auditory learner akan lebih baik menerima informasi melalui bentuk suara. Misalnya dalam pemberian pelajaran di kelas, anak-anak yang auditory learner ini justru akan menangkap sangat baik saat mana guru menjelaskan secara verbal. Sementara itu anak-anak visual learner akan lebih baik menerima informasi melalui penyajian visual, seperti gambar-gambar, film, grafik, denah, tabel, peta, dan sebagainya.  

Kesadaran akan Waktu VS Kesadaran akan Ruang 

Manajemen waktu, seperti jam berapa harus bangun, mandi berpakaian, makan, gosok gigi, berangkat sekolah secara tepat waktu adalah suatu manajemen yang nyaman bagi anak-anak auditory learner. Sebaliknya anak-anak visual spatial learner lebih kuat dalam kesadaran akan ruang. Anak-anak ini sangat kuat ingatannya akan tata ruang, lingkungan, peta, dan tidak mudah tersasar di tempat keramaian. Bahkan ia sangat kuat mengingat tempat-tempat yang pernah dikunjunginya

Detail  VS  Gambaran Global 

Seorang anak auditory learner adalah seseorang yang kuat dalam kemampuan melihat secara detail, lalu menyusunnya secara teratur. Karena itu anak-anak ini akan berprestasi dengan baik saat menempuh pelajaran. Ia bisa melihat secara detail jadwal atau skedul pelajaran, dapat mengikuti urutan waktu, dapat mendengarkan dan menerima perintah verbal secara baik, dan dapat menyampaikan/memproduksi kembali apa yang diterimanya.  

Perintah secara Verbal  VS  Memberikan Bentuk Gambar 

Kedua kelompok, antara anak-anak auditory learner dan visual spatial learner, mempunyai cara penerimaan pembelajaran yang sungguh berbeda. Bila anak-anak auditory learner sangat senang mendengarkan penjelasan secara verbal, dan juga mudah menangkap pemahamannya, maka pada anak visual spatial learner akan lebih mudah jika mendapatkan penjelasan dan perintah dalam bentuk gambar.  .

Komputasi VS Pemecahan Masalah dalam Matematika

Seorang anak auditory learner akan lebih mudah menerima pelajaran yang tahap pertahap, dari yang mudah ke yang sulit. Dengan demikian, pada pelajaran-pelajaran matematika ia akan lebih mudah mempelajari yang mempunyai tahapan jelas dan bersifat komputasi, misalnya aritmatika dan aljabar. Namun pada ilmu matematika tinggi yang membutuhkan kemampuan pandang ruang, akan sulit diikuti oleh kelompok anak auditory learner.

Handal dalam Mengucapkan Kata-kata VS Kesulitan Mengeja 

Anak-anak auditory learner adalah anak-anak yang sangat handal dalam berkemampuan pencandraan auditif (pendengaran), sehingga ia akan dengan mudah mengeja kembali katakata yang diucapkan guru. Ia akan sangat berprestasi dalam pelajaran imla/dikte. Sebaliknya anak-anak visual spatial learner akan sangat kesulitan dalam pelajaran imla/dikte, terlebih pada kata-kata yang abstrak tidak ada bentuknya jika dibayangkan. 

Pintar Mengulang Hapalan VS Mendahulukan Berpikir Konsep Melihat Hubungan 

Seorang anak visual spatial learner merupakan anak yang mendahulukan cara berpikir konsep, hubungan, sebab-akibat, melakukan pemecahan masalah, dan mencari solusinya. Ia akan mengalami kesulitan pada pelajaran-pelajaran yang lebih kepada mendahulukan kemampuan hapalan, dan mengulangnya kembali. Sebaliknya seorang anak auditory learner lebih mudah menghapal urutan-urutan angka, tahapan-tahapan pekerjaan, dan sangat handal mendengarkan penjelasan verbal serta mengulangnya kembali.  

 Auditory Short-Term Memory VS Visual Long-Term Memory

Masuknya informasi ke dalam otak, mempunyai dua jalan. Pertama melalui jalur pendengaran, dan yang kedua adalah melalui jalur penglihatan. Pada anak-anak auditory learner jalur informasi yang digunakan adalah jalur pendengaran. Informasi ini akan masuk ke meori jangka pendek (short term memory). Sedangkan anak-anak visual spatial learner jika dengan cara ini, ia selain merasa kesulitan, terlalu lelah, baginya menjemukan, data yang disimpan dalam memory jangka pendek itu juga tidak akan bertahan lama. Ia cepat kembali lupa lagi. 

Pengulangan-pengulangan dan Drilling VS Gambaran Permanen 

Cara seorang anak belajar, awalnya adalah memang melalui mengetahui sesuatu, lalu menginat hal sesuatu, dan kemudian dapat menyebutkannya kembali. Tahap selanjutnya adalah apa yang sudah diketahuinya itu dapat diaplikasikan untuk kepentingan tertentu sesuai dengan konteksnya. Namun untuk anak-anak visual spatial learner yang memang mempunyai kelemahan dalam memori jangka pendek, ia akan mengalami kesulitan dan kelelahan yang menyebabkan dirinya mengalami tekanan, yangberakibat adalah justru ia tidak bisa lagi melakukan kegiatan menghapal tersebut.

Belajar dari Instruksi VS Membangun Cara-caranya Sendiri

Seorang anak visual spatial learner adalah anak yang sangat sulit untuk didikte atau diperintah. Ia belajar akan sesuatu dari berdasarkan hasil uji-cobanya. Ia adalah seorang anak yang penuh kreativitas dalam mencari upaya pemecahan masalah. Berbeda dengan anak auditory learner, yang akan dengan tertib mendengarkan bagaimana cara kerja mainan barunya. Secara bertahap ia akan mengikuti cara pemakaian atau cara bermain yang ia pelajari dari instruksi yang diberikan. Anak-anak auditory learner  dalam hal ini adalah anak yang menyenangkan karena selalu menurut dan mengikuti instruksi serta peraturan.  

Berpikir Konvergen VS Berpikir Divergen 

Berpikir konvergen adalah cara berpikir ke arah yang sempit atau ke arah mengecil. Dari global ke arah detail. Berpikir divergen adalah berpikir dari yang kecil ke arah yang luas. Dari yang detail ke arah yang global. Dua gaya berpikir ini, berpikir konvergen (auditory learner) dan berpikir divergen (visual spatial learner), adalah dua gaya berpikir yang sangat bertentangan. Apabila dalam suatu rapat, mayoritas populasi sesungguhnya adalah auditory learner, maka seseorang yang mempunyai gaya berpikir visual spatial learner ini akan sangat frustrasi. Karena populasi rapat justru hanya akan membicarakan hal-hal yang detil, kadang terjebak dalam pembicaraan yang detil itu.

Memisahkan antara Belajar dan Emosi VS Emosi Mempengaruhi Kegiatan Belajar

 Seorang anak auditory learner adalah seorang anak yang dapat melupakan sejenak kemarahannya jika ia harus belajar.  Ia dapat memisahkan antara waktu untuk berpikir mengerjakan tugas belajar dan memikirkan masalah yang membuatnya marah. Sedang anak visual spatial learner adalah anak-anak yang tidak bisa meninggalkan kemarahannya saat mana ia harus belajar. Sehingga situasi belajar akan diwarnai dengan situasi hatinya. 

Perbedaan ini disebabkan oleh faktor perkembangan dominasi belahan otak masing-masing. Anak-anak auditory learner yang memang didominasi oleh belahan otak kiri, ia akan dapat dengan mudah memisahkan antara emosi dan kegiatan belajar. Sedang anak-anak visual spatial learner, yang didominasi oleh belahan otak  kanan.


D. Dominasi Otak

Otak kanan berfungsi dalam perkembangan emotional quotient (EQ). Misalnya sosialisasi, komunikasi, interaksi dengan manusia lain serta pengendalian emosi. Pada otak kanan ini pula terletak kemampuan intuitif, kemampuan merasakan, memadukan, dan ekspresi tubuh, seperti menyanyi, menari dan melukis.

Sedangkan otak kiri berfungsi dalam hal-hal yang berhubungan dengan logika, rasio, kemampuan menulis dan membaca, serta merupakan pusat matematika. Bagian otak ini merupakan pengendali Intelligence Quotient (IQ). Daya ingat otak ini juga bersifat jangka pendek. Dominasi otak berarti tidak sepenuhnya bahwa kita akan hanya menggunakan salah satu otak kita secara keseluruhan, karena belahan otak kita saling bersinergi satu sama lain, meskipun berbeda fungsinya.

Cara sederhana untuk mengetahui dominasi otak yang sering berperan dalam otak kita bisa dengan cara:

Kita ambil selembar kertas dan buat lubang kecil saja (sebesar uang koin). Setelah itu kita melihat suatu objek (bisa melihat salah satu tombol keyboard, nomor di kalender atau sebagainya, yang intinya objek tersebut tidak terlalu besar ukurannya). Setelah itu coba anda lihat objek yang anda tentukan tadi melalui lubang kertas dengan menutup mata secara bergantian. Bila anda dapat melihat objek tersebut dengan mata sebelah kiri, maka anda lebih dominan menggunakan otak kanan, demikian sebaliknya.

Seseorang yang dominan belahan kiri, biasanya akan :

Memilih sesuatu yang berurutan

Belajar lebih baik dari bagian-bagian kemudian keseluruhan

Lebih memilih sistem membaca fonetik

Menyukai kata-kata simbol dan huruf

Lebih memilih instruksi yang berurutan secara detail

Menginginkan struktur dan prediksi

Seseorang yang dominan belahan kanan biasanya akan:

Merasa lebih nyaman dengan sesuatu yang acak

Paling baik belajar dari keseluruhan kemudian bagian-bagian

Menyukai gambar, grafik, dan diagram

Mau berbagi informasi tentang hubungan antara segala sesuatu

Menginginkan pendekatan yang tak terbatas, baru dan mengejutkan.


E. Kecerdasan Ganda

Multiple intelegensi adalah kemampuan untuk memecahkan masalah atau menciptakan suatu produk yang efektif atau bernilai dalam satu latar belakang budaya tertentu. Artinya, setiap orang jika dihadapkan pada satu masalah, ia memiliki sejumlah kemampua untuk memecahkan masalah yang berbeda sesuai dengan konteksnya. Menurut Gardner kecerdasan atau intelegensi ada sepuluh macam, diantaranya:

Kecerdasan linguistic (Linguistic Intelligence)

Adalah kemampuan untuk untuk berfikir dalam bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekpresikan dan menghargai makna yang komplek, yang meliputi kemampuan membaca, mendengar, menulis, dan berbicara.

Intelegensi logis-matematis (Logical matematich)

Adalah kemampuan dalam menghitung, mengukur dan mempertimbangkan proposisi dan hipotesis serta menyelesaikan operasi-operasi matematika.

Intelegensi musik (Musical Intelligence)

Adalah kecerdasan seseorang yang berhubungan dengan sensitivitas pada pola titk nada, melodi, ritme, dan nada.

Intelegensi kinestetik

Adalah belajar melalui tindakan dan pengalaman melalui panca indera. Intelegensi kinestetik adalah kemampuan untuk menyatukan tubuh 

atau pikiran untuk menyempurnakan pementasan fisik.

Intelegensi visual-spasial

Merupakan kemampuan yang memungkinkan memvisualisasikan informasi dan mensitesis data-data dan konsep-konsep ke dalam metavor visual.

Intelegensi interpersonal

Adalah kemampuan untuk memahami dan berkomunikasi dengan orang lain dilihat dari perbedaan, temperamen, motivasi dan kemampuan.

Intelegensi intrapersonal

Adalah kemampuan sesorang untuk memahami diri sendiri dari keinginan, tujuan dan sistem emosionalyang muncul secara nyata pada pekerjaannya. 

Intelegensi naturalis

Adalah kemampuan untuk mengenal flora dan fauna, melakukan pemilahan-pemilahan utuh dalam dunia kealaman dan menggunakan kemampuan ini secara produktif.

 Intelegensi emosional

Adalah yang dapat membuat orang bisa mengingat, memperhatikan, belajar dan membuat keputusan yang jernih tanpa keterlibatan emosi.

Intelegensi spiritual

Adalah kemampuan yang berhubungan dengan pengakuan adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta beserta isinya.


BAB III

PENUTUP


A. Kesimpulan

Banyak para tokoh yang mendefinisikan tentang Intelligence (kecerdasan). Seperti yang dikutip oleh Hamzah B. Uno dari Feldam mendefinisikan kecerdasan sebagai “kemampuan memahami dunia, berfikir secara rasional, dan menggunakan sumber-sumber secara efektif pada saat dihadapkan dengan tantangan”. Orang sering kali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar.

Otak kanan berfungsi dalam perkembangan emotional quotient (EQ). Misalnya sosialisasi, komunikasi, interaksi dengan manusia lain serta pengendalian emosi. Pada otak kanan ini pula terletak kemampuan intuitif, kemampuan merasakan, memadukan, dan ekspresi tubuh, seperti menyanyi, menari dan melukis. Sedangkan otak kiri berfungsi dalam hal-hal yang berhubungan dengan logika, rasio, kemampuan menulis dan membaca, serta merupakan pusat matematika. Bagian otak ini merupakan pengendali Intelligence Quotient (IQ). Daya ingat otak ini juga bersifat jangka pendek.


B. Saran

Demikianlah makalah ini kami buat, dan kami menyadari masih banyak kekurangan di dalam penulisan makalah ini. Demi kebenaran makalah ini kami memohon saran kepada rekan-rekan mahasiswa dan khususnya kepada dosen. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua, khususnya penulis.


DAFTAR PUSTAKA

Academia.edu makalah multiple intelegensi from: www.academia.edu/makalah-multiple-intelegensi diakses pada: 08 Mei 2018

Muslimin, Nur. Pendidikan Agama Islam Berbasis IQ, EQ, SQ dan CQ from: http://ejournal.kopertiais4.or.id diakses pada 08 Mei 2018

Ryulycos. Gaya berpikir From: http://ryulycos.file.wordpress.com/2011/02/gaya-berpikir.pdf diakses pada: 08 Mei 2018

Sultoni, M. Adversity Quotient from: http://etheses.uin-malang.ac.id diakses pada 05 Mei 2018

Senin, 20 Juli 2020

Kampung Tenun Lintau “Kelompok Tenun Batenggang di Banang Sahalai”

Kampung Tenun Lintau “Kelompok Tenun Batenggang di Banang Sahalai”

By: Nurul Aulia Fitra

Peran wanita di sektor Usaha Kecil dan Menengah umumnya terkait dengan bidang perdagangan dan industri pengolahan seperti: warung makan, toko kecil, pengolahan makanan dan industri kerajinan, karena usaha ini dapat dilakukan di rumah sehingga tidak melupakan peran wanita sebagai ibu rumah tangga. Meskipun awalnya Usaha Kecil dan Menengah yang dilakukan wanita lebih banyak sebagai pekerjaan sampingan umtuk membantu suami dan untuk menambah pendapatan rumah tangga, tetapi dapat menjadi sumber pendapatan rumah tangga utama apabila dikelola secara sungguh-sungguh (Priminingtyas, 2010; Hendrawati & Ermayanti, 2017).
Provinsi Sumatera Barat telah memiliki beberapa dokumen dan profil industri menurut cabang industri yang ada. Menurut database pendataan industri kecil dan menengah tahun 2009 terdapat di dalamnya beberapa cabang industri yang merupakan subsektor dalam klasifikasi sektor industri kreatif. Industri tersebut telah digolongkan menurut KBLI (Klasifikasi Baku Lapangan Industri) oleh Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Barat: industri bordir/ sulaman (Kode KBLI 17293) dan Pertenunan (Kode KBLI 17114). Kedua cabang industri tersebut termasuk dalam sektor industri kreatif yaitu kerajinan. Mengingat saat ini dunia industri telah berada pada era ekonomi gelombang ke empat untuk itu sangat diperlukan perumusan strategi pengembangan yang tepat agar industri kreatif potensial yang dapat bergeliat dalam era ekonomi kreatif gelombang keempat pada masa sekarang ini (Pusparini, 2011; Hendrawati & Ermayanti, 2017).
Bordir/ sulaman dan pertenunan merupakan bagian dari seni budaya yang dilahirkan secara turun temurun dalam masyarakat daerah Sumatera Barat, khususnya daerah Kabupaten Agam, Kabupaten Lima Puluh Kota, Kabupaten Tanah Datar, dan Kota Bukittinggi. Salah satu wilayah di Minang Kabau tepatnya di Jorong Tanjung Modang, Nagari Tanjung Bonai, Kecamatan Lintau Buo Utara, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat yang juga dikenal dengan nama Kampung Tenun Lintau. Kerajinan tenun tersebut bernama Kelompok Tenun Batenggang di Banang Sahalai. Awalnya, usaha kerajinan tenun tersebut merupakan usaha keluarga sejak 10 tahun lalu atau lebih, lalu seiring berjalannya waktu, ada teman-teman yang tertarik untuk bergabung membuat kerajinan tenun tersebut, sehingga terbentuk lah ide untuk membuat kelompok kerajinan tenun pada tahun 2013 dan Alhamdulillah masih aktif sampai sekarang. Kerajinan tenun merupakan kerajina yang menggunakan teknik membuat struktur dengan cara menyilangkan benang pakan dan benang lungsi/ lusi. 
Kenapa dinamakan dengan Kelompok Tenun Batenggang di Banang Sahalai?
Nama unik tersebut merupakan ide dari tujuh orang pencetus pendiri kelompok kerajinan tenun. Mereka berpikir bahwa kehidupan manusia ibaratnya berjalan di atas sehelai benang, kita sebagai seorang manusia bagai menjalani kehidupan di atas sehelai benang dalam kehidupan sehari-sehari. Batenggang artinya tempat kita bertenggang mencari kehidupan, di situ lah kita hidup. Jadi dinamakan lah kelompok tenun ini dengan kelompok tenun Batenggang di Banang Sahalai.
Kelompok tenun Batenggang di Banang Sahalai ini diketuai oleh Ibu Dewi. Beliau berusia 40 tahun dan berperan sebagai seorang ibu untuk kedua anaknya. Di awal terbentuknya kelompok kerajinan tenun ini, mereka membuat SK (Surat Keputusan) lalu mereka menapatkan bantuan modal dari PNPM sebesar Rp. 104.000.000,- (Seratus Empat Juta Rupiah). Lalu pada tahun 2016, kelompok kerajinan tenun ini mendapat bantuan dana dari bank BRI (Bank Rakyat Indonesia) untuk membuat gerbang nama pengenal kelompok tenun mereka, tujuannya dibuat gerbang dengan nama Kampung Tenun Lintau yang merupakan sebagai pengenal atau pemberitahuan kepada orang-orang bahwa di daerah atau di jorong tersebut masih dapat ditemukan budaya lokal tentang kerajinan tenun yang diproduksi sendiri secara manual oleh ibu-ibu di lokasi tersebut, serta memudahkan orang-orang untuk menemukan lokasi tempat kerajinan tenun Batenggang di Banang Sahalai.
Di awal terbentuk kelompok kerajinan ini, setelah di SK kan, mereka memiliki anggota sebanyak 25 orang, namun sampai saat ini anggota kelompok kerajinan tenun yang masih aktif hanya sekitar 11 orang saja. Hasil kerajinan tenun yang diproduksi di tempat ini adalah songket dan dasar baju. Untuk pengerjaan satu pasang songket memerlukan waktu 20 hari sampai 30 hari, yang dikerjakan oleh satu orang. Sedangkan untuk satu stel dasar baju memakan waktu pengerjaan selama tujuh sampai 10 hari oleh satu orang pekerja. 
Dalam sekali pengerjaan, biaya untuk satu pasang songket adalah bervariasi, biasanya Rp. 1.200.000,- (Satu Juta Dua Ratus Ribu Rupiah) atau Rp. 1.500.000,- (Satu Juta Lima Ratus Ribu Rupiah). Sedangkan omset yang didapat oleh satu orang untuk satu pasang tenun selama satu bulan adalah sebanyak Rp. 2000.000,- (Dua Juta Rupiah) sampai Rp. 2.500.000,- (Dua Juta Lima Ratus Ribu Rupiah). Lalu omset sebulan yang didapat oleh kelompok ini adalah sekitar Rp. 5.000.000,- (Lima Juta Rupiah). 
Kesulitan yang ditemukan dalam kerajinan tenun ini oleh kelompok tenun batenggang di Banang Sahalai adalah pada pemasaran dan pemodalan, kadang-kadang dalam satu bulan, hasil tenunan dari kelompok tenun ini terjual sebanyak dua atau tiga pasang, atau bahkan nol atau tidak ada sama sekali, dikarenakan pemasaran produk yang belum pasti. Melihat penjualan produk yang belum pasti setiap bulannya, ibu Dewi dan teman-temannya berinisiatif untuk menyimpan dana (safety) supaya nanti ke depannya jika tidak ada terjual dalam sebulan itu, mereka dapat menggunakan uang yang tersimpan tersebut dijadikan modal untuk membeli bahan-bahan pembuatan songket dan dasar baju. 
Dalam pembelian alat-alat pembuatan songket dan dasar baju, kelompok tenun ini mendapatkan bantuan dana dari PNPM dan BRI, namun untuk bahan-bahannya, seperti benang merupakan modal sendiri dari anggota kelompok kerajinan tenun. Alat-alat yang dibutuhkan dalam pembuatan songket tersebut adalah (Murnayati, dalam Devi, 2015):
Suri, yaitu kawat yang agak kasar dan kuat disusun rapat, alat ini tergantung pada tali karok. Pada setiap benang yang terentang di alat tenun akan melalui susunan kawat ini satu persatu.
Karok, yaitu alat yang mirip dengan suri hanya saja terbuat dari benang nilon. setiap benang terentang untuk disusun harus melalui karok ini. Karok terdiri dari dua macam, yakni sebagai pengatur benang lungsi yang di bawah dan pengatur benang lungsi yang di atas.
Palantah atau panta, yaitu sebuah tempat duduk bagi penenun yang terbuat dari kayu menyerupai bangku Panjang. Kata panta berasal dari kata palanta yang berarti balai tempat duduk.
Paso, yaitu alat penggulung kain yang telah ditenun akan tetapi belum dipotong dari benang pembuat dasar kain, paso ini berbentuk bulat Panjang yang terbuat dari kayu.
Penggulung benang yaitu kayu berbentuk bulat dan memanjang di depan alat tenun, berfungsi sebagai penggulung benang yang terentang untuk ditenun.
Arang babi, yaitu sebagai penyangga penggulung benang yang belum ditenun
Kaminggang, alat berupa penyangga palantah dan bersambungan dengan arang babi
Tijak-tijak, alat yang cara penggunaannya diinjak oleh kaki si penenun, berfungsi untuk merapatkan atau mengencangkan helai-helai benang ketika membuat motif.
Atua kawa, yaitu tempat masuknya karok
Kudo-kudo, adalah alat yang digunakan untuk mengikatkan karok guna mempermudah proses menarik turunkan benang.
Tandayan, adalah tali karok
Langan-langan, yakni tempat bergantungnya tali karok dan tali suri yang terbuat dari kayu.
Pakan yaitu benang yang terentang pada alat tenun yang menjadi dasar dari kain songket.
Tughak atau turak adalah alat yang terbuat dari sepotong bambu yang dipotong dan diberi lubang ditengahnya, sebagai alat bantu untuk memindahkan benang dari sisi sat uke sisi lainnya.
Pancukia, alat yang digunakan untuk mengatur motif
Palapah alat yang tebuat dari bambu yang salah satu ujungnya diruncingkan. Berfungsi untuk menyangggah kain yang telah dijungkit, kemudian dimasukkan lidi sebelum disanggah yang sesuai dengan motif yang dibentuk.
Sangka, penyangga kain yang sudah ditenun, terletak di bawah paso
Lidi, alat yang berfungsi untuk membuat dan mengatur motif
Kasali, berfungsi sebagai penggulung benang pembuat motif dan benang tambahan yang selanjutnya dimasukkan ke dalam turak
Sedangkan untuk bahan-bahannya adalah benang lungsi/ lusi (bahan dasar), benang tersebut ukuran satuannya disebut palu. Sedangkan hiasannya (songket) berupa benang ameh (emas) yang menggunakan benang Makao atau benang India. Wah, nama alatnya unik-unik ya.
Hal yang pertama dilakukan sebelum menenun adalah menentukan warna, lalu menentukan motif, dan terakhir langsung pengerjaan. Sedangkan Christyawaty dan Ernatip (dalam Devi, 2015) membagi proses pembuatan tenun menjadi tiga tahap, yakni tahap persiapan yaitu menyiapkan seluruh benang yang akan digunakan sesuai dengan motif yang akan dibuat, tahap pengerjaan sampai pada tahap terakhir yakni tahap penyelesaian. Lama tidaknya pembuatan suatu tenun songket, selain bergantung jenis pakaian yang dibuat dan ukurannya, juga kehalusan dan kerumitan motif songketnya. Semakin halus dan rumit motif songketnya, akan semakin lama pengerjaannya. Pembuatan sarung atau kain misalnya, bisa memerlukan waktu kurang lebih satu bulan. Bahkan, seringkali lebih dari satu bulan karena setiap harinya seorang pengrajin rata-rata hanya dapat menyelesaikan kain sepanjang 5-10 cm. Dalam pemeliharaan kain songket tidak boleh dilipat akan tetapi digulung dengan kayu bulat yang berdiameter 5 cm. Hal ini bertujuan untuk menjaga agar bentuk motifnya tetap bagus dan benang emas-nya tidak putus, sehingga songketnya tetap dalam keadaan baik dan rapi dan bertahan lama.

(gambar alat-alat penenunan)

Untuk peminat dalam pembelian hasil produksi kerajinan tenunan ini, pada umumnya adalah pasangan yang telah menikah atau berkeluarga. Hasil produk tenunan ini di jual di dalam kota, luar kota, seperti ke Jakarta, dan pernah ke luar negeri. Seperti dibeli sebagai cendera mata oleh orang untuk ke Jepang, serta pernah juga turis yang datang ke kampung tenun Batenggang di Banang Sahalai untuk membeli songket dan dijadikan oleh-oleh untuk di bawa pulang.
Dalam pembuatan songket atau pun dasar baju, terkadang ibu Dewi dan teman-temannya merasa jenuh atau bosan juga dalam pengerjaannya, ketika rasa bosan dan jenuh itu datang, mereka mengatasinya dengan cara istirahat atau berhenti sebentar untuk merefreshkan pikiran, jika telah relaks dan tenang, baru memulai kembali pengerjaaan songket atau pun dasar baju. 
Harapan dari ibu Dewi selaku ketua kelompok kerajinan tenun Batenggang di Banang Sahalai yaitu kelompok tenun ini semakin maju dan lebih diperhatikan oleh pemerintah setempat tentang pemasarannya serta pengadaan pelatihan-pelatihan atau swadaya manusia, misalnya pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kreativitas kelompok tenun. Selama ini, jika mereka ingin ikut pelatihan-pelatihan tentang tenunan, mereka harus pergi keluar dulu, baru bisa ikut pelatihan. Dan semoga saja pemerintah daerah setempat lebih memperhatikan kelompok tenun ini, karena dengan begitu kelompok tenun ini tetap dapat bertahan dan semakin dikenal oleh masyarakat yang lebih luas lagi.
Hasil-hasil songket dari kelompok tenun Batenggang di Banang Sahalai







DAFTAR KEPUSTAKAAN

Devi, S. (2015). Sejarah dan Nilai Songket Pandai Sikek. Jurnal Ilmu Sosial Mamangan, Vol. 2 No. 1, 24-25.

Hendrawati, & Ermayanti. (2016). Wanita Perajin Tenun Tradisional di Nagari Halaban Kecamatan Lareh Sago Halaban Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Jurnal Antropologi: Isu-isu Sosial Budaya, Vol. 18 no. 2, 69-71.

#KKNIAINBATUSANGKAR2020
#KKNDRIAINBATUSANGKAR2020

Minggu, 12 Juli 2020

Peran Psikologi Klinis Terhadap Pendemi Covid 19

Peran Psikologi Klinis Terhadap Pendemi COVID-19
By: Nurul Aulia Fitra


Pada saat ini, dunia sedang dilanda oleh wabah penyakit yang disebabkan oleh menyebarnya virus Corona atau Corona Virus Disease (COVID-19). Hal tersebut dikhawatirkan berdampak pada psikologis masing-masing individu. Pemberitaan mengenai meningkatnya jumlah penderita COVID-19, bisa memiliki dampak serius seperti timbulnya perasaan tertekan, stress, panik, paranoid, dan cemas (anxiety) di kalangan masyarakat. Menurut salah seorang dosen Program Studi (Prodi) Psikologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Rini Setyowati (dalam Galamedianews.com) mengatakan bahwa “Pemberitaan yang simpang siur atau kurang tepat, dapat memicu stress yang dapat mempengaruhi hormom stress. Sehingga mengakibatkan system imun seseorang menurun dan rentan tertular COVID-19”.
Virus Corona atau COVID-19 yang terus merebak di dunia termasuk di Indonesia, tidak hanya menimbulkan gejala penyakit fisik saja, tetapi juga perlu diwaspadai dampak psikologisnya, baik pada penderita maupun masyarakat luas. Bagi penderita, dampak psikologisnya bisa berupa perasaan tertekan, stress, cemas atau khawatir secara berlebihan, ketika privasinya atau identitasnya diketahui public sehingga berdampak pada diasingkan oleh lingkungan sekitarnya. Akibatnya, reaksi yang timbul bagi penderita yaitu tidak jujur dengan riwayat penyakitnya. Tidak ingin menyampaikan kepada tenaga medis ia melakukan perjalanan kemana sebelumnya dan apakah pernah kontak dengan penderita COVID-19. Selain itu reaksinya juga bisa penderita merasa cemas atau khawatir dengan hasil tes yang lama keluar setelah perawatan medis.
Reaksi masyarakat terhadap penyebaran COVID-19 yang meluas juga bisa berupa proteksi secara berlebihan terhadap diri sendiri maupun keluarganya. Contohnya, mencuci tangan berulang kali, membersihkan rumah dan lingkungan secara terus-menerus. Hal ini dapat menimbulkan gejala obsesif-compulsif, yaitu gangguan mental yang menyebabkan penderita harus melakukan suatu tindakan secara berulang-ulang. Jika tidak dilakukan, individu tersebut akan terus diliputi kecemasan dan ketakutan yang berlebihan. 
Terdapat dua macam coping dalam mengantisipasi dampak psikologis terhadap COVID-19, yaitu: 1) coping adaptif, yaitu cara mengatasi masalah yang adaptif baik penderita maupun masyarakat luas. Perasaan khawatir, tertekan, dan cemas, jika diolah secara tepat bisa mengarahkan individu kepada reaksi melindungi diri dengan tepat dan meningkatkan religiusitas individu. Coping inilah yang sangat penting dilakukan oleh setiap individu. 2) coping maladaptive, yaitu kebalikan dari coping adaptif, yang mana strategi coping-nya dapat mengakibatkan individu mengalami distress, cemas, gejala obsesif kompulsif atau permasalahan psikologis lainnya (dalam galamedianews.com).
Kondisi ini juga dapat menimbulkan panic buying, merupakan mekanisme psikologis ketika menghadapi ketakutan dan ketidakpastian atau sebuah fenomena yang terjadi dalam krisis yang dapat meingkatkan harga-harga dan mengambil barang-baarang penting dari tangan orang-orang yang sebenarnya jauh lebih membutuhkan, seperti masker wajah dan mulut untuk para tenaga kesehatan. Hal ini diakibatkan oleh ketakutan akan hal yang tidak diketahui, dan mempercayai bahwa peristiwa dramatis memerlukan tanggapan yang dramatis pula, yang mana dalam kasus ini tanggapan terbaik sebenarnya adalah sesuatu yang biasa saja, seperti mencuci tangan (dalam BBC News Indonesia). 
Di sini lah peran Psikologi klinis atau praktisi-praktisi psikologi klinis diperlukan, yang mana mereka dapat mendukung kesejahteraan mental banyak pihak, diantaranya:
Pasien yang telah dinyatakan positif COVID-19 dan keluarga, yang ada di ruang UGD dan isolasi.
ODP yang dikarantina
PDP yang di isolasi dan keluarga
Tenaga medis dan kesehatan
Pemerintah,
Pelajar yang belajar dengan sistem daring 
Perantau yang jauh dari keluarga
Masyarakat di wilayah yang terpapar, dan
Masyarakat yang sehat.
Psikolog klinis dapat memberikan sesi konseling kepada semua lapisan masyarakat secara langsung maupun tidak langsung. Paraktisi-praktisi psikologi klinis dapat juga membuat konten tentang relaksasi ataupun cara-cara untuk tetap tenang di tengah wabah virus Corona, lalu mengunggahnya di berbagai media social. Psikolog klinis juga bisa membantu masyarakat luas dengan cara melakukan sesi konseling menggunakan media social, seperti di Instagram, WhatsApp, Telegram, dll. Hal ini dapat mengurangi kepanikan, kekhawatiran serta kecemasan yang dirasakan masyarakat di tengah wabah virus Corona ini, serta ditambah adanya physical distancing yang mengakibatkan individu yang biasanya banyak beraktivitas di luar rumah menjadi di dalam rumah, dan tentunya ini sangat mempengaruhi kesehatan mental individu. Sehingga kesehatan fisik dan mental harus tetap terjaga bagi semua masyarakat, siapapun itu tanpa terkecuali.
Dalam pelayanan kesehatan, psikolog klinis bisa berkolaborasi dengan tenaga kesehatan dalam memudahkan proses karantina pasien di ruangan isolasi sehingga pasien merasa terkuatkan dan tidak mengalami kondisi traumatis. Psikolog klinis harus berperan aktif di tengah masyarakat yang berusaha keras mempertahankan diri dan membutuhkan validasi optimisme. Sebab strategi-strategi dalam menghadapi pandemic dapat menyebabkan timbulnya berbagai efek psikologis dan perilaku tidak nyaman. Respon umum yang dapat terjadi misalnya, insomnia, kecemasan, takut akan terjangkit, keinginan berlebih untuk makan, pesimisme, dan merokok. Anak-anak dan remaja dapat menolak isolasi social dengan perilaku agresif yang dapat diartikan sebagai acting out. 
Hal ini sejalan dengan salah satu teori tentang perilaku, yaitu teori behaviorist. Teori ini mempelajari perilaku manusia. Perspektif behavioral berfokus pada peran dari belajar dalam menjelaskan tingkah laku manusia dan terjadi melalui rangsangan berdasarkan (stimulus) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respons) hukum-hukum mekanistik. Asumsi dasar mengenai tingkah laku menurut teori ini adalah bahwa tingkah laku sepenuhnya ditentukan oleh aturan, bisa diramalkan, dan bisa ditentukan. Menurut teori ini, seseorang terlibat dalam tingkah laku tertentu karena mereka telah mempelajarinya, melalui pengalaman-pengalaman terdahulu, menghubungkan tingkah laku tersebut dengan hadiah. Seseorang menghentikan suatu tingkah laku, mungkin karena tingkah laku tersebut belum diberi hadiah atau telah mendapat hukuman. Karena semua tingkah laku yang baik bermanfaat ataupun yang merusak, merupakan tingkah laku yang dipelajari.
Jadi, behaviorisme sebenarnya adalah sebuah kelompok teori yang memiliki kesamaan dalam mencermati dan menelaah perilaku manusia yang menyebar di berbagai wilayah, selain Amerika teori ini berkembang di daratan Inggris, Perancis, dan Rusia. Menurut Watson (dalam Amalia & Fadholi, 2019) stimulus dan respons tersebut harus berbentuk tingkah laku yang bisa diamati (observable), mengabaikan berbagai perubahan mental yang mungkin terjadi dalam belajar dan menganggapnya sebagai faktor yang tidak perlu diketahui. Bukan berarti semua perubahan mental yang terjadi dalam benak individu tidak penting. Semua itu penting. Akan tetapi, faktor-faktor tersebut tidak bisa menjelaskan apakah proses belajar sudah terjadi atau belum.
Hanya dengan asumsi demikianlah, menurut Watson, dapat diramalkan perubahan apa yang bakal terjadi pada individu. Hanya dengan demikian pula psikologi dan ilmu belajar dapat disejajarkan dengan ilmu lainnya seperti fisika atau biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empiris. Berdasarkan uraian ini, penganut aliran tingkah laku lebih suka memilih untuk tidak memikirkan hal-hal yang tidak bisa diukur, meskipun mereka tetap mengakui bahwa hal itu penting. Jadi, dapat dilihat, setelah penyebaran COVID-19 ini banyak masyarakat yang telah mengubah kebiasaan buruknya menjadi lebih baik, seperti mencuci tangan dan tetap menjaga kebersihan. Hal ini tentunya terjadi karena proses belajar, manusia mengubah perilakunya menjadi ke arah yang lebih baik agar terhindar dari virus corona ini.
Di tengah kondisi yang bisa dikatakan tidak baik ini, sangat diperlukan kontribusi psikologi klinis dalam membantu pemerintah dan tenaga kesehatan dalam mengatasi wabah yang melanda Indonesia. Tidak hanya sehat fisik, sehat mental juga diperlukan, hal ini untuk menjaga system imun kita untuk tetap baik. Karena jika dalam situasi ini kita stress, cemas, khawatir, panik serta paranoid hal itu menandakan mental kita tidak sehat, yang dapat menyebabkan imunitas kita lemah, dan menjadi celah bagi virus Corona bisa masuk dan menyerang tubuh manusia. 
Dalam mengatasi wabah ini, pemerintah telah menghimbau dan megajak masyarakat untuk di rumah saja, dan keluar rumah untuk hal yang benar-benar urgent atau penting. Masyarakat melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing, yang di kenal dengan istilah social distancing, namun istilah itu berubah menjadi psychally distancing, karena manusia tidak menjaga jarak dengan lingkungan social, tapi menjaga jarak antara diri individu dengan individu yang lain, yang mana aktivitas sehari-hari tetap dilakukan, tetapi di dalam rumah, yang dikenal dengan work from home (WFH). Di sini, pekerja dan pelajar bekerja dan belajar melalui sistem daring, misalnya melalui grup WhatsApp, e-Learning, Google Classroom, Skype, dan aplikasi lainnya.
Hal tersebut, tentu bukan hal yang mudah, memerlukan adaptasi yang tidak singkat. Oleh karena itu diperlukan kontribusi Psikolog klinis untuk mendorong atau memotivasi masyarakat untuk tetap tenang dan menjaga kesehatan mentalnya, serta tetap mematuhi ajakan pemerintah. Kita tidak hanya melihat dari satu sisi saja, pasti ada hikmah atau dampak positif dari setiap kejadian ini, diantaranya:
Lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarga di rumah,
Mengjarkan Indonesia seberapa siap dengan system pembelajaran digital menyongsong digital society 5.0
Mengingatkan kita pentingnya menjaga kebersihan
Sebagai seorang muslim, tentunya dengan banyak menghabiskan waktu di rumah dapat menjadikan kita untuk lebih banyak waktu untuk beribadah, mendekatkan diri kepada sang pencipta, yaitu Allah SWT.
Pemerintah juga mengajak masyarakat untuk tetap safety jika bepergian, yaitu menggunakan masker dan cuci tangan selama 20 detik, serta tidak memegang area wajah, seperti mata, hidung dan mulut sebelum cuci tangan. Di sini juga diperlukan kontrol supaya tidak membuat individu mengalami obsesif-compulsiv, dengan mencuci tanga berulang-ulang, karena merasa belum bersih. Jika tidak dipenuhi maka individu tersebut merasa ketakutan, cemas dan khawatir. 
Pemerintah juga telah menghimbau masyarakat Indonesia untuk berdiam diri di rumah, beribadah di rumah, cuci tangan dengan sabun selama 20 detik dan tetap menghindar dari keramaian. Namun sangat disayangkan dengan masyarakat yang bebal dan tidak menghiraukan pemerintah. Masyarakat terutama anak-anak dan remaja banyak yang tetap keluar rumah, bahkan banyak para perantau yang pulang ke kampung halamannya masing-masing. Tentunya ini memiliki dampak buruk bagi orang-orang di lingkungan sekitarnya. Karena di Indonesia sendiri, belum dilakukan tes secara massif, jadi kita tidak tahu apakah kita membawa virus itu atau tidak. Apalagi para perantau tersebut berada di daerah yang terpapar sebelumnya. Bahkan sampai saat ini, sudah ada seribu kasus lebih dan angka menuju seratus untuk kematian, sedangkan yang sembuh hanya setengah dari itu.
Tidak hanya itu, banyak juga para jamaah masjid yang ngeyel untuk tetap sholat berjamaah. Jika dalam keadaan normal itu sangat baik, namun dalam keadaan seperti ini tentu berdampak buruk. Hal ini dilakukan juga bukan untuk selamanya, sampai wabah ini berlalu. Akibatnya sekarang sudah ada tiga jamaah masjid yang positif, akibatnya 300 lebih jamaah di karantina di masjid tersebut. Bukankah Allah tidak akan menyulitkan hamba-hambanya. Sholat jamaah juga tetap bisa dilaksanakan di rumah, yang penting suara azan tetap berkumandang. Kita bisa belajar dari kisah-kisah terdahulu, seperti
Ketika perang Nabi tetap shalat berjamaah karena musuhnya kelihatan, dan sholatnya bergantian
Umar bin Khatab menghindar dari wabah penyakit Tho’un di Syam, dan berkata “Saya lari dari taqdir Allah menuju taqdir Allah yang lain”
Jaman Nabi juga pernah terjadi wabah tapi ciri-cinya kelihatan. Nabi bersabda “jangan dicampur yang sehat dengan yang sakit. Bahkan Nabi membaiat utusan Tsaqif tanpa berjabat tangan.
Dapat kita lihat bahwa, Allah tidaklah mempersulit hambanya, meskipun untuk sementara masjid kosong, namun Azan tetap berkumandang, dan ibadah kita tidak terhenti. Tentunya, sebagai seorang muslim, kita tidak hanya sekedar mengandalkan diri dengan usaha sendiri, tapi kita juga butuh doa. Kita butuh pertolongan Allah swt., yang membuat makhluk sekecil itu mampu memporak-porandakan jutaan manusia. Maka, Allah lebih mampu untuk meredam ini semua, menjadikannya kembali ke keadaan normal, dengan cara yang paling baik pula. 
Jadi, dapat disimpulkan bahwa dalam menghadapi COVID-19 ini tidak hanya tanggungjawab satu pihak saja, tapi seluruh lapisan masyarakat. Masyarakat harus mendengarkan himbauan pemerintah untuk tetap di rumah, cuci tangan dengan sabun selama 20 deitk serta menghindari keramain, karena kita tidak tahu siapa yang sedang terinfeksi virus tersebut. Serta di Indonesia sendiri belum ada tes yang dilakukan secara massif. 
Oleh karena itu tetap jaga kebersihan dan jaga kesehatan mental untuk tetap tenang dan tidak panik. Kita juga harus sadar, bahwa kita memiliki kesempatan untuk berusaha melindungi diri kita sendiri, namun, tidak demikian dengan pelayan kesehatan atau tenaga kesehatan. Mereka harus menangani pasien dengan penyakit menular yang tentu sngat menimbulkan ketegangan dan mengguncang kesejahteraan mental. Dukungan moril yang berlandaskan empati bagi mereka sangatlah penting. Kita harus memberikan minimal sedikit saja perhatian kita kepada mereka yang sedang berjuang di garda terdepan melawan wabah COVID-19. Di sini tentunya kontribusi psikolug klinis sangat diperlukan, psikolog klinis dapat memberikan pelatihan-pelatihan ataupun memberikan sesi konseling kepada para tenaga medis agar mental nya tetap sehat. Agar mereka mampu menghadapi tekanan-tekanan yang datang kepada mereka. Psikolog klinis juga dapat mengajarkan mereka untuk tetap relaks dalam menghadapi kekisruhan di rumah sakit.



DAFTAR KEPUSTAKAAN

Nahar, Novi Irawan. Penerapan Teori Belajar Behavioristik Dalam Proses Pembelajaran. Desember 2016. Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol.1.

Robson, D. (2020, April 08). BBC News Indonesia. Retrieved from bbc.com: https://www.bbc.com 

Sundberg, Norman D dkk. (2007). Psikologi Klinis: Perkembangan Teori, Praktik, dan Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sutanto. (2020, Maret 19). PT. Galamedia Bandung Perkasa. Retrieved from Galamedianews.com: https://www.galamedianews.com  


#KknIainBatusangkar2020
#KKNDRIAINBATUSANGKAR2020

Fenomena Psikologi Panic Buying Akibat Covid - 19 di Tengah Masyarakat

FENOMENA PSIKOLOGI PANIC BUYING AKIBAT COVID-19 DI TENGAH MASYARAKAT
BY: NURUL AULIA FITRA


Akhir-akhir ini, banyak ditemukan fenomena panic buying yang terjadi di tengah masyarakat. Tidak hanya di Indonesia, bahkan hampir di seluruh dunia. Negara-negara yang terjangkit pandemic Covid-19, masyarakatnya banyak yang menunjukkan perilaku ini. Di Indonesia sendiri, banyak kasus-kasus yang bermunculan, diantaranya yaitu pembelian barang pokok, snack atau pun perangkat kesehatan seperti hand sanitizer, masker, sabun, alat pengukur suhu dan sejenisnya yang dibeli dalam jumlah yang besar dan sangat berlebihan. Hal ini merupakan tindakan yang irrasional dan salah, karena tindakan tersebut sangat egois, bukan hanya diri kita yang butuh, tapi juga orang lain. Tindakan ini bisa berakibat pada langkanya barang tersebut dan harga barang-barang itu naik. 
Dilansir dari cermati.com tanggal 23 Maret 2020, Tutum Rahanta (Anggota Dewan Penasehat HIPPINDO) mengatakah bahwa di Indonesia sendiri sudah dua kali terjadi rush atau belanja besar-besaran, pertama terjadi setelah pengunguman kasus pertama Covid-19 oleh Presiden Jokowi tanggal 2 Maret. Terlihat rak-rak kosong, tapi bukan karena stok tidak ada, melainkan sudah habis sebelum dipajang. Kedua, terjadi pada 14 Maret 2020 karena ada isu lockdown. Selanjutnya terjadi lagi peningkatan pembelian, namun aksi panic buying dalam skala yang tidak terlau besar.
Hal ini dapat terjadi karena banyaknya informasi simpang siur mengenai Covid-19. Dengan meningkatnya kasus postif yang terjadi di Indonesia, tentunya hal ini membuat masyarakat semakin resah, panik dan takut. Akibatnya tidak ada lagi perasaan tenang dan aman. Tidak hanya masyarakat Indonesia, hampir seluruh masyarakat di dunia dilanda kecemasan yang berlebihan. Timbulnya kekhawatiran jika pendemi ini menjangkiti dirinya maupun keluarganya.
Selain menciptakan masalah kesehatan dan dampak ekonomi ke hampir semua negara di dunia, COVID-19 juga telah menyebabkan banyak individu untuk mengadopsi perilaku pembelian yang tidak biasa. Misalnya, belum pernah terjadi sebelumnya membeli kertas toilet di Hong Kong dan Australia, antri untuk membeli senjata di AS dan permintaan berlebihan untuk banyak barang kebutuhan sehari-hari di semua hampir semua negara di dunia (Altsdter & Hong, dalam Kuruppu 2020).
Sejak awal pandemi corona virus telah ada peningkatan penggunaan masker (Feng et al., dalam Roy, et al., 2020) dan pembersih yang menghasilkan kelelahan sumber daya di pasar. Kekurangan peralatan perlindungan pribadi membahayakan pekerja kesehatan di seluruh dunia (WHO, 2020c). Tidak adanya tindakan perlindungan yang tepat merupakan penyebab utama kekhawatiran di antara tenaga medis. Kecemasan dan kekhawatiran dalam masyarakat secara global mempengaruhi individu secara luas. Bukti terbaru menunjukkan bahwa individu yang ditempatkan dalam isolasi dan karantina mengalami kesulitan yang signifikan dalam bentuk kecemasan, kemarahan, kebingungan dan gejala stres pasca-trauma (Brooks et al., dalam Roy, et al., 20202020).
Ekonomi penimbunan barang yang dilakukan oleh konsumen atau masyarakat ketika ada situasi tertentu yang dipandang gawat atau darurat sering dikenal dengan istilah panic buying. Perilaku panic buying menurut Enny Sri Hartati, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) dipicu oleh factor psikologis yang biasanya terjadi karena informasi tidak sempurna atau tidak menyeluruh yang diterima oleh masyarakat. Akibatnya, timbul kekhawatiran di masyarakat sehingga menimbulkan respons tindakan belanja secara pasif sebagai upaya penyelamatan diri. Terdapat dua bentuk kekhawatiran yang terjadi di masyarakat. Pertama adalah khawatir kalau tidak belanja sekarang, bisa saja besok harga barang naik. Kedua, jika tidak belanja sekarang, maka esok hari barangnya sudah tidak ada.
Panic Buying adalah sebuah fenomena yang terjadi selama krisis besar. Analisis perilaku pembelian selama krisis mengungkapkan beberapa hal temuan yang menarik. Pertama, beberapa pola permintaan terjadi secara alami dan dapat dibenarkan ketika mereka melakukan tindakan spontan yang bertujuan untuk mencegah atau melindungi diri dari penyakit. Kedua, Intervensi media memang membantu individu untuk melakukan akses informasi yang akurat dan bermanfaat, terutama dalam situasi bencana. Namun, media juga dapat menyebarkan informasi yang salah dan secara tidak sengaja orang-orang melakukan tindakan yang tidak perlu meskipun niatnya untuk menyebarkan informasi yang akurat. 
Perilaku irasional yang timbul akibat panic buying dapat menyebabkan meroketnya harga produk dan juga menyebabkan semakin banyaknya sampah rumah tangga. Alhasil, dapat memperburuk dampak ekonomi dan sosial dari pandemi Covid-19. Demikian pula, panic buying biasanya dipimpin oleh kelas atas dan menengah karena kapasitas mereka untuk melakukannya, kelas berpenghasilan rendah adalah kelompok yang tidak akan melakukan hal itu. Orang-orang di kelas ini umumnya kurang atau tidak memiliki kemampuan untuk melakukan panic buying dan akibatnya ketinggalan barang-barang penting untuk kehidupan mereka. Kelompok lain yang mungkin terpengaruh oleh panic buying adalah petugas kesehatan garda terdepan karena mereka akan merasa sulit ketika bekerja karena kurangnya alat perlindungan diri. Hal ini akan semakin memperburuk konsekuensi kesehatan dan sosial selama pandemi. 
Perilaku menimbun adalah salah satu tindakan yang menonjol selama krisis Covid-19. Selama krisis corona virus terus berlangsung di seluruh dunia tanpa adanya vaksin, ketidakpastian, dan isolasi sosial akan muncul di benak orang. Hal ini mendorong pembelian panik dan perilaku menimbun. Penimbunan membutuhkan lebih banyak barang daripada yang biasa digunakan, sampai menghalangi fungsi rumah. Perilaku yang terlihat di tengah Covid-19 mungkin tidak "menimbun" dalam arti sebenarnya, mereka cenderung didorong oleh mekanisme psikologis yang sama. Perilaku menimbun menghasilkan ketidakmampuan individu yang dirasakan untuk mentolerir kesusahan, dan untuk menghindari kesusahan, mereka membeli lebih banyak produk daripada mereka dapat digunakan secara layak selama pandemic.
Pilihan atau keputusan konsumen merupakan masalah signifikan dalam perilaku konsumen. Mengenai pilihan, konsumen dihadapkan dengan ketidakpastian yang disebabkan oleh ketidakpastian akan masa depan (Taylor, dalam Wijaya, 2020). Taylor (dalam Wijaya, 2020) menyatakan bahwa ketidakpastian akan menyebabkan kegelisahan, begitu pula individu membutuhkan cara untuk mengurangi kecemasan melalui pengurangan risiko. Kecemasan juga terbentuk oleh harga diri dan kepercayaan diri individu. Setiap pilihan konsumen melibatkan dua aspek, yaitu ketidakpastian dalam hasil dan dampak. Ketidakpastian yang terkait dengan hasil dapat diminimalkan oleh informasi atau pengetahuan, sementara ketidakpastian dampak dapat dikurangi dengan mengurangi jumlah yang dipertaruhkan atau menunda pilihan. 
Aspek risiko adalah bagian dari perilaku panik pada konsumen (Fei et al., dalam Wijaya, 2020). Hessels et al., (dalam Wijaya, 2020) menyatakan bahwa ketakutan akan kegagalan dikaitkan dengan penghindaran risiko. Dalam kepanikan tertentu membeli adalah masalah umum di lingkungan yang bergerak cepat seperti saat ini, penyebabnya termasuk kondisi cuaca buruk, pemogokan, bencana alam, dan perubahan kebijakan pemerintah (Tsao et al., 2019). Peristiwa ini menimbulkan risiko bagi pilihan konsumen. Secara pribadi, risiko dapat digambarkan sebagai ancaman potensial terhadap kesehatan dan kesejahteraan individu (Wildavsky & Dake, 1990). Pilihannya sangat ditentukan oleh manfaat dan persepsi risiko itu muncul. Sikap konsumen menentukan keduanya. Konsumen yang memiliki Sikap positif cenderung merasakan manfaat yang lebih tinggi, sedangkan konsumen yang memiliki sikap negatif akan memiliki persepsi risiko yang lebih tinggi (Slovic & Peters, 2006).
Ketika konsumen merasakan spesifik risiko, mereka cenderung mencari konfirmasi persepsi mereka (Slovic, 1987). Konsumen yang merasa risiko wabah akan mengambil spekulasi untuk bertindak untuk mengurangi tingkat risiko dirasakan melalui pembelian skala besar. Misalnya, risiko kekurangan makanan, jika ada karantina di daerah tersebut dan jika tidak ada peralatan kesehatan saat wabah. Aspek persepsi risiko juga terkait dengan pengetahuan. Konsumen yang punya pengetahuan tentang cara mengurangi risiko akan memiliki kemampuan untuk mengurangi kepanikan yang ada, menurut pendapat Taylor (dalam Wijaya, 2020) informasi mampu mengurangi hasil ketidakpastian. Kecemasan eksternal juga muncul sebagai akibat dari pengaruh luar. Individu menilai sesuatu jika mereka tidak memiliki informasi yang cukup akan menggunakan model lain sebagai sumber informasi.
Menurut Azjen (dalam Wijaya, 2020), konsep ini disebut norma subyektif yang merupakan faktor situasional yang mempengaruhi individu untuk berperilaku. Norma akan mengarah ke sikap dan tindakan yang cenderung homogen (Azjen, 2005), sehingga konsumen dalam kondisi yang tidak stabil memiliki kecenderungan untuk mengikuti perilaku orang-orang di sekitar mereka. Itulah kelompok referensi yang memiliki pengaruh kuat pada pilihan produk dan pilihan merek untuk konsumen dalam model perilaku konsumen adalah keluarga (Kotler, 2006; Engel et al, 2005). Anggota keluarga menjadi bagian dari pertimbangan konsumen dalam menentukan pilihan.
Panic buying (PB)/ peningkatan pembelian perilaku telah diamati selama keadaan darurat kesehatan masyarakat sejak zaman kuno. Persepsi kelangkaan (efek kelangkaan yang dirasakan) sangat terkait dengan kepanikan perilaku membeli dan perilaku menimbun yang meningkat sehingga terjadi kelangkaan. (Wilkens 2020; Dholakia 2020; Bonneux dan Van Damme 2006). Hal ini juga menciptakan perasaan tidak aman yang pada gilirannya mengaktifkan mekanisme lain untuk mengumpulkan barang-barang (Dholakia dalam Arafat, et al., 2020). Perasaan kehilangan kendali atas lingkungan dapat dianggap sebagai penyebabnya. Selama masa krisis, orang umumnya suka mengendalikan sesuatu dan mereka membawa beberapa aspek kepastian (Wilkens, dalam Arafat, et al., 2020).
Pembelian panik juga telah dikaitkan dengan perasaan tidak aman dan instabilitas yang dirasakan di situasi tertentu (Hendrix, dalam Arafat, et al., 2020). Status pandemi korona pada tahun 2020 meninggalkan komunitas dengan ketidakpastian. Orang-orang tidak yakin kapan bencana akan berakhir, sehingga menghemat kebutuhan dasar dan membeli sebanyak mungkin adalah jalan pintas untuk mengatasi perasaan tidak aman. Selanjutnya, gangguan pasokan, suatu kondisi dimana pasokan produk normal dalam rantai pasokan terganggu, telah diamati selama bencana atau bencana lain yang tidak diinginkan (Shou, at al., 2013). 
Fenomena ini juga dapat dikaitkan dengan hal-hal serupa yang terjadi selama epidemi dan bencana alam lainnya di masa lalu. Persediaan dari obat-obatan dan vaksin dianggap sebagai metode persiapan dalam kasus pandemi (Jennings et al., 2008). Selama krisis, orang kadang percaya bahwa Pemerintah tidak akan dapat mengendalikan pemasaran gelap dan memberikan dukungan kepada warga negara. Kurangnya kepercayaan dan antisipasi kehabisan sumber daya mungkin bertanggung jawab atas kepanikan pembelian. Mereka tanpa pikir panjang meremehkan risiko bahaya dan meremehkan risiko kemungkinan bantuan (Bonneux dan Van Damme, 2006). Singkatnya, ketakutan akan kelangkaan dan kehilangan kendali atas lingkungan, ketidakamanan (yang bisa karena ketakutan), pembelajaran sosial, memperburuk kecemasan, respon primitif dasar manusia adalah faktor inti yang bertanggung jawab atas fenomena panic buying. 
Untuk mengantisipasi dan memitigasi terulangnya panic buying, maka diperlukan kejelasan informasi dari otoritas yang berwenang. Selain itu, informasi yang disajikan pemerintah, idealnya tidak tumpang tindih. Jelasnya informasi yang diterima oleh masyarakat dapat meredam tekanan psikologis masyarakat termasuk dari berbagai macam berita hoax. Langkah konkret lain yang juga bisa dilakukan oleh pemerintah adalah dengan membagikan masker secara gratis kepada masyarakat. Hal ini seperti yang pernah pemerintah RI lakukan saat mengatasi masalah kebakaran hutan dan lahan. Distribusi pembagian masker ini pun bisa dilakukan secara fleksibel, seperti di pusat keramaian umum, perkantoran, sekolah-sekolah, dan sebagainya dengan syarat menggunakan protocol kesehatan COVID-19.
Steven Taylor, Profesor sekaligus Psikolog Klinis di University of British Columbia, mengungkapkan, dalam kasus terjadinya bencana alam, terdapat perbedaan gagasan yang jelas antara persiapan untuk menghadapi bencana dan sekedar pembelian berlebih. Dalam kasus sebaran Virus Corona, ada banyak ketidakpastian yang mendorong terjadinya perilaku pembelian berlebih. Panic buying menurut Taylor didorong oleh kecemasan dan keinginan untuk berusaha keras menghentikan ketakutan tersebut. “Panic buying membantu orang merasa mengendalikan situasi. Dalam keadaan seperti ini, orang-orang merasa perlu untuk melakukan sesuatu yang sebanding dengan apa yang mereka anggap sebagai tingkatan krisis.”
Panic buying tidak terjadi begitu saja, ada alasan ilmiah di balik timbulnya keinginan untuk memborong barang-barang dan makanan di tempat perbelanjaan. Panik adalah perpanjang dari cemas. Sementara cemas itu perpanjangan dari takut. Takut adalah keinginann untuk menghindari sesuatu yang ada saat ini. Jika ketakutan tersebut berdasarkan ketidakpastian di masa depan, maka akan terjadi kecemasan (Nurkholis, 2020). Ketika seseorang punya kecemasan, pada titik tertentu area prefrontal cortex pada otak tidak bisa bekerja. Prefrontal cortex adalah bagian otak yang memproses hal-hal yang rasional/ ketika area ini tidak bekerja karena kecemasan akan ketidakpastian, bagian yang bekerja adalah limbic system (system limbik), akibatnya rasa takut dan cemas jadi tidak bisa dikontrol. Jika hal itu terjadi, maka yang harus dilakukan adalah bernafas, ambil napas dalam-dalam, 10-20 hitungan, lalu keluarkan secara perlahan. Sehingga aliran darah menjadi lebih lancar dan oksigen bisa naik ke otak sehingga prefrontal cortex bisa berfungsi kembali, lalu individu bisa berpikir dengan jernih. 
Perilaku panic buying dan menimbun barang tidak diperbolehkan di dalam Islam, hal ini bertolak belakang dengan spirit etika bisnis dan nilai-nilai ekonomi islam. Karena, perbuatan tersebut telah mengancam dan merugikan sesama manusia. Orang yang menampilkan perilaku seperti itu disebut serakah, egois dan mementingkan diri sendiri. Contohnya, kondisi kelangkaan dan melonjaknya harga masker di berbagai wilayah, akibat keserakahan manusia yang memanfaatkan wabah Corona sebagai peluang bisnis.
Beberapa tips dalam mengatasi Panic buying menurut Dicky Palupessy, Wasekjen IABI (dalam Audina, 2020) adalah sebagai berikut: 
Belanja dengan cerdas/ smart buying
Maksudnya yaitu belilah keperluan yang memang sangat dibutuhkan dalam jumlah yang cukup untuk sekeluarga sesuai dengan kemampuan dan dalam waktu yang rasional, misalnya kwbutuhan untuk sekali seminggu.
Jangan langsung panik dengan pemberitaan di media
Pintarlah dalam memilih dan menyikapi pemberitaan oleh media, baik itu media elektronik maupun cetak. Tetap tenang dan cari informasi yang terpercaya dan valid.



DAFTAR KEPUSTAKAAN

Arafat, S. Y., Kar, S. K., Marthoenis, M., Sharma, P., Apu, E. H., & Russel, K. (2020). Psychological underpinning of panic buying during pandemic (COVID-19). Elsevier, 2-4.

Ariyanti, Fiki. (23 Maret 2020). Panic Buying Akibat Corona, Belanja Sembako di Swalayan Dibatasi. Ini Daftarnyaǃ. Diakses pada tanggal 15 Juni 2020. Link: https://www.cermati.com

Audina, Nur Indah Farah. (22 Maret 2020). Tips Mengatasi Panic Buying dan Cara Cerdas dalam Berbelanja. Diakses pada tanggal 17 Juni 2020. Link: https://www.google.com 

Kuruppu, G. (2020). COVID-19 and Panic Buying: an Examination of the Impact of Behavioural Biases. SSRN, 1-6.

Ling, G. H., & Ho, C. M. (2020). Effects of the Coronavirus (COVID-19) Pandemic on Social Behaviours: From a Social Dilemma Perspective. Technium Social Sciences Journal, Vol. 7, 312-320, 312-314.

Mawandha, H. G. (2009). Cognitive Behavior Therapy and Anxiety Facing Medical Procedures in Children with Leukemia . Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 1, No. 1, 77-78.

Nurkholis. (2020). Dampak Pandemi Novel-Corona Virus Disiase (Covid-19) Terhadap Psikologi Dan Pendidikan Serta Kebijakan Pemerintah . Jurnal PGSD, Vol. 6, No. 1, 42-43.

Roy, D., Tripathy, S., Kar, S. K., Sharma, N., Verma, S. K., & Kaushal, V. (2020). Study of Knowlwdge, Attitude, Anxiety & Perceived Mental Healthcare Need in Indian Population During COVID-19 Pandemic. Asian Journal of Psychiatry, Vol. 51, 1-3.

Sanyata, S. (2012). Teori dan Aplikasi Pendekatan Behavioristik dalam Konseling . Jurnal Paradigma, No. 14 , 3-6.

Shou, B., Xiong, H., & Shen, Z. M. (2013). Consumer Panic Buying and Quota Policy Under Supply Disruptions. Manufacturing & Service Operations Management, 1-5.

Wijaya, T. (2020). Factor Analysis Panic Buying During the COVID-19 Period in Indonesia. SSRN, 1-5.


#KKNIAINBATUSANGKAR2020
#KKNDRIAINBATUSANGKAR2020

Minggu, 06 Januari 2019

Pengaruh ilmu fisiologi terhadap psikologi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Psikologi merupakan ilmu yang relative muda apabila dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainnya. Dimana perkembangan psikologi dalam era sekarang sangat meningkat pesat. Sejarah perkembangan ilmu psikologi hampir sama dengan ilmu-ilmu lainnya. Telah pula diketahui bahwa psikologi sebagai suatu ilmu telah memisahkan diri dari filsafat, tetapi ini tidak bahwa psikologi tidak terkena pengaruh dari filsafat. Filsafat murupakan akar dari suatu ilmu yang muncul di dunia ini. Dengan adanya filsafat ini memudahkan kita untuk mengatahui asal mula suatu ilmu tersebut. Untuk itu kita perlu mengetahui sampai dimana filsafat mempengaruhi psikologi tersebut. Disamping itu juga psikologi juga di pengaruhi oleh Fisiologi dan Pengetahuan Alam.
Proses pengaruh yang terdapat dalam fisiologi dan pengetahuan alam apakan sangat banyak pengaruhnya atau hanya sekedar saja. Dengan adanya pengaruh ini, kita bisa mengatahui perkembangan dari Ilmu Psikologi tersebut. Karena masih banyak masyarakat yang belum mengatahui proses perkembangan psikologi tersebut. Karena dalam perkembangannya Psikologi mengalami banyak psoses yang terjadi. Maka dari itu kita wajib untuk mengatui proses perkebangan psikologi yang akan dibahas pada bab selajutnya.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana  Pengaruh Ilmu Fisiologi Terhadap Ilmu Psikologi?
2. Siapakah Ahli yang mengadakan eksperimen dalam psikologi ?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui  Pengaruh Ilmu Fisiologi Terhadap Ilmu Psikologi
2. Untuk mengetahui Ahli yang mengadakan eksperimen dalam psikologi

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengaruh Ilmu Fisiologi Terhadap Ilmu Psikologi

Pengaruh pengetahuan alam dan fisiologi pada psikologi merupakan permulaan dari psikologi eksperimental. Seperti telah dikemukakan terlebih dahulu Wilhelm Wundt dapat dipandang sebagai bapak dari psikologi eksperimental. Namun demikian tidak berarti bahwa sebelum Wundt belum ada yang melakukan eksperimen-eksperimen dalam kaitannya dengan psikologi.
Ada empat orang ahli yang dapat dipandang sebagai orang yang mengadakan eksperimen-eksperimen, yang kemudian sangat berpengaruh penggunaan eksperimen dalam psikologi, yaitu Hermann von Helmholtz, Ernst Weber, Gustav Theodore Fechner dan Wilhelm Wundt (Schultz dan Schultz, 1992). Eksperimen-eksperimen tersebut berkembang di Jerman ,tidak di Perancis ataupun di Inggris. Untuk selanjutnya maka Jerman merupakan sumber eksperimen-eksperimen yang berkaitan dengan psikologi.

A. Hermann von Helmholtz (1821 - 1894)
Helmholtz mempunyai minat dalam bidang psikologi dan penelitiannya mengenai kecepatan stimulus pada penglihatan dan pendengaran. Helmholtz juga mengadakan eksperimen menganai waktu reaksi. Penelitian tersebut menghasilkan bahwa terdapat perbedaan individual, juga terdapat perbedaan pada orang yang sama dari satu eksperimen ke eksperimen yang lain. Eksperimen Helmholtz kemudian dicoba oleh ahli-ahli lain. Helmholtz juga mengembangkan teori mengenai warna yang dikemukakan oleh Thomas Young, yang sekarang dikenal dengan teori Young-Helmholtz  mengenai soal warna. Helmholtz juga seorang psikolog , tetapi ia mempunyai sumbangan yang berarti dalam psikologi, khususnya psikologi sensoris, dan digunakannya eksperimen dalam psikologi.

B. Ernzt Weber (1795 - 1878)
Sumbangan Weber dalam psikologi ialah hasil eksperimennya menegenai ambang dua-titik pada kulit, yaitu bagaimana atau sejauh mana subjek dapat merasakan atau mempersepsi dua buah titik atau stimulus yang dikenakan pada bagian kulitnya. Apabila jarak antara  kedua titik itu relatif  pendek subjek merasa adanya satu stimulus. Tetapi pada jarak tertentu (jarak kedua titik itu agak renggang), subjek merasakan adanya dua stimulus. Eksperimen ini mendemonsrasikan tentang ambang dua-titik (the two-point threshold), yaitu ambang dimana dua titik stimulus dapat dirasakan atau dipersepsi oleh objek coba.
Weber juga mendapatkan bahwa the two-point threshold itu bervariasi dalam bagian-bagian badan yang berbeda pada subjek yang sama, dan juga bervariasi dari subjek satu dengan subjek yang lain pada bagian badan yang sama. Sumbangan lainnya mengenai the just noticeable, yaitu perbedaan yang paling kecil khususnya mengenai berat benda yang dapat dirasakan atau dapat di persepsi oleh subjek. Subjek disuruh mengevaluasi dua benda yang diangkat, dan mengevaluasi manakah yang lebih berat diantara kedua benda atau stimulus tersebut. Satu benda sebagai standar, sedangkan yang satunya sebagai yang diperbandingkan (variable).
Hasil eksperimen menunjukkan bahwa, apabila perbedaan stimulus kecil, di persepsi sebagai stimulus yang sama beratnya. Tetapi sampai perbedaan kedua benda atau stimulus itu pada perbedaan tertentu, kedua stimulus itu dapat di persepsi. Weber menemukan bahwa the just noticeable difference sebagai antara dua benda sebagai stimulus merupakan perbandingan yang konstan, misalnya 1 : 40 dari standar. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa benda dengan berat 41 gram dapat dipersepsi perbedaannya dengan standari 40 gram.
Selanjutnya Weber meneliti peranan dari peng inderaan otot (muscular sensation) ¬dalam membedakan berat. Ia mendapat hasil bahwa subjek dapat membedakan lebih tepat atau lebih teliti apabila berat yang harus dibedakan itu diangkat sendiri oleh subjek dari pada ditempatkan oleh eksperimenter pada tangannya.
Dengan mengangkat sendiri benda tersebut, yang berperan adalah penginderaan taktil dan otot, sedangkan apabila ditaruhkan oleh eksperimenter yang berperan hanya penginderaan taktil. Apabila benda itu diangkat sendiri maka ratio adalah 1 : 40, sedangkan kalau ditaruhkan oleh eksperimenter ratio 1 : 30. Ia berkesimpulan bahwa internal muscular sensation yang ada dalam dii individu mempengaruhi kemampuan individu untuk membedakannya. Hal ini lebih jauh akan dibicarakan dalam rangka pembicaraan mengenai persepsi.

C. Gustav Theodore Fechner (1801 – 1887)
Menurut Fechner ada dua cara untuk mengukur penginderaan, yaitu:
1. Orang dapat menentukan apakah stimulus itu ada atau tidak, dapat diindera atau tidak.
2. Orang dapat mengukur intensitas, yaitu subjek dapat menyatakan penginderaannya yang pertama terjadi, ini merupakan ambang absolut bawah (the obsolute lower threshold) (Underwood, 1994) atau ambang stimulus (Towsend, 1953). Ini berarti stimulus dibawahnya belum dapat diindera ataupun dipersepsi. Fechner juga mengemukakan tentang ambang perbedaan (the difference threshold), yaitu perbedaan dua stimulus yang paling kecil yang dapat dipersepsi oleh subjek coba.
Metode ini dikenal dengan metode psikofisik, yang memberikan gambaran kaitan psikis dan fisik (material world). Dalam penelitiannya  Fechner menggunakan cara dengan mengangkat berat, seperti pada Weber. Metode yang dikembangkan oleh Fechner masih digunakan oleh para ahli hingga pada waktu ini, yaitu:
1. Metode kesalahan rata-rata (the method of average error)
Sering juga disebut the method of adjustment, yaitu suatu metode subjek dihadapkan pada dua stimuli, yaitu stimulus standard dan stimulus variabel. Tugas subjek adalah sampai subjek dapat mempersepsi bahwa stimulus variabel sama dengan stimulus standar.
 Seberapa besar kesalahan yang ditunjukkan oleh subjek, yaitu perbedaan antara stimulus standar dengan stimulus variabel menunjukkan sampai sejauh mana ketetapan subjek dalam mengadakan persepsi.
2. Metode stimulasi konstan (the method of constant stimuli)
Semula disebut sebagai metode right and wrong, yaitu suatu metode subjek dihadapkan pada stimulus standar dan stimulus variabel. Stimulus variabel dalam keadaan lebih ringan dan lebih berat dari stimulus standar. Misalnya stimulus standar seberat 100 gram, stimulus variabel dengan berat 92, 96, 98 gram dan ada  yang lebih berat dari standar, misalnya 104, 106 gram. Tugas subjek memberikan evaluasi (judgment) apakah stimulus variabel itu lebih ringan, sama atau lebih berat dari pada standar pada waktu subjek membandingkan antara dua stimuli tersebut.
The method of limits semula disebut sebagai  the method of just noticeable differences, yaitu suatu metode subjek dihadapkan pada dua stimuli, satu sebagai stimulus standar dan yang lain sebagai stimulus variabel. Stimulus variabel diubah naik atau turun sampai subjek dapat mempersepsi bahwa stimulus variabel itu sama dengan stimulus standar. Ttitik berangkat penyajian stimulus variabel dalam keadaan sangat nyata perbedaannya dengan stimulus standar, baik dalam keadaan lebih dari standar maupun dalam keadaan kurang dari standar.
Dari data eksperimen kemudian dapat diketahui tentang just noticeable differences-nya, yaitu rerata dari penentuan ambang perbedaan (difference threshold). Hal ini lebih jauh akan dipaparkan dibagian belakang dalam kaitannya dengan persepsi. Eksperimen Fechner tersebut kemudian dibukukan dalam bukunya yang bertitel “Elemente der Psychophysik” merupakan buku yang menunjukkan hubungan antara psikis dengan fisik.

D. Wilhelm Wundt (1832-1920)
Telah dipaparkan didepan mulai wundt psikologi mempunyai corak baru. Wundt dapat dipandang sebagai penyekat antara psiologi lama dengan psikologi modern. Semula sebagai mayornya adalah bidang kedokteran, namun kemudian beralih kefisiologi (Schultz dan Schultz, 1992). Semula ia mengajar fisiologi di Universitas Heidelberg, kemudian juga ditunjuk untuk membantu dilaboratoriumnya Helmholtz. Pada waktu bekerja Heidelberg inilah wunth mengajukan pendapatnya bahwa psikologi adalah merupakan ilmu yang perlu mandiri, tidak bergantung pada ilmu yang lain, dan merupakan ilmu yang eksperimental. Ia mengajukan pemikirannya itu dalam bukunya yang berjudul “Contributions to the theory of sensory perception”. Dalam buku ini digunakan istilah “Eksperimental Psychology” untuk pertama kalinya, atas eksperimen-eksperimennya yang dilakukannya sendiri dalam laboratorium yang didirikannya sendiri.
Pada tahun 1867 Wundt membuka course di Heidelberg dalam bidang Physiological itu tidak seperti arti yang sekarang ini, tetapi menurut Wundt arti dari istilah physiological itu sama dengan eksperimental. Jadi Wundt mengajar dan menulis mengenai Physiological Psychology itu dalam arti Physiological Psychology seperti pada waktu ini (Schultz dan Schultz, 1992). Seperti diketahui laboratorium Wundt kemudian diakui oleh dunia ilmu pengetahuan pada tahun 1879, dan akhirnya menjadi pusat studi para ahli psikologi lain yang datang dari berbagai-bagai negara.
 Eksperimen wundt didasarkan atas eksperimen-eksperimen dalam bidang fisiologi yang dapat membantu penelitian-penelitian psikologi modern. Pokok bahasan (subject matter)  psikologi Wundt adalah kesadaran. Pengaruh dari empirisme dan asosiasi Nampak pengaruhnya pada sistem wundt. Pandangan wundt kesadaran itu mencakup berbagai-berbagi bagian, yang dapat dipelajari bagian demi bagian, jadi dapat dipelajari dengan metode analisis atau metode reduksi.
Wundt adalah seorang srukturalis, sehingga ia menitikberatkan pada stuktur dari kesadaran yang terdiri atas bagian-bagiannya. Salah satu tulisannya Wundt mengemukakan “The first step in the investigation of a fact must therefore be a description of the individual elements … of which it consists” (dalam Schultz dan Schultz, 1992). Wundt berpendapat bahwa kesadaran adalah aktif dalam mengorganisasi isinya.
 Wundt lebih menitikberatkan studinya mengenai pengalaman yang tidak langsung (immediate experience) dari pada pengalaman yang langsung (mediate experience). Pengalaman lansung memberikan informasi atau pengetahuan tentang sesuatu yang lain dari pada elemen pengalaman itu sendiri. Misalnya kalau seseorang melihat bunga dan menyatakan bahwa “ bunga itu merah”. Pernyataan ini memberikan gambaran bahwa perhatian seseorang yang utama  adalah dalam bunga itu sendiri, bukan pada fakta bahwa seseorang mengalami kemerahannya itu sendiri.
 The immediate experience dalam melihat bunga itu tidak pada objek itu sendiri, tetapi pada pengalaman mengenai sesuatu yang berwarna merah. Jadi menurut Wundt  immediate experience itu tidak dibatasi oleh interpretasi, seperti halnya pada pernyataan pengalaman “ bunga itu merah”, dalam arti pada objek bunga itu sendiri.
Psikologi Wundt adalah ilmu mengenai pengalaman kesadaran (consicious experience), maka metode yang digunakan dalam psikologi adalah observasi mengenai pengalaman tersebut. Hanya orang yang mempunyai  pengalaman tersebut yang dapat mengadakan observasi. Karena itu metodenya adalah introspeksi, yaitu penelitian seseorang dengan observasi dirinya sendiri mengenai keadaan psikisnya, yang kemudian dilanjutkan oleh Titchener, salah seorang muridnya.
Mengenai introspeksi Wundt mengajukan beberapa hukum atau ketentuan, yaitu (1) observer harus mampu menentukan kapan proses itu terjadi; (2) observer harus memusatkan perhatiannya; (3) observer harus mampu mengulangi observasi berulangkali; (4) eksperimenter harus mampu mengontrol manipulasi dari stimulus.
Wundt berpendapat bahwa perasaan itu tidak hanya satu dimensi saja yaitu senang atau tidak senang tetapi masih ada dimensi yang lain.

E. Herman Ebbinghaus (1850-1909)
Setelah membaca bukunya Fechner”Elements of Psychophysics”, ia ingin mengadakan eksperimen dalam bidang proses mental yang lebih tinggi (higher mental processes), yaitu mrngenai ingatan.
Ebbinghaus adalah  psikolog yang pertama kali mengadakan eksperimen-eksperimen dalam masalah belajar dan ingatan. Dalam hal ini Ebbinghaus tidak hanya menjawab pendapat wunth bahwa proses mental yang tinggi tidak dapat dikuliti dengan eksperimen, tetapi juga sekaligus juga ,membuktikan bahwa ingatan dapat diteliti secara eksperimental. Dengan demikian maka kerja Ebbinghaus memperluas kanca psikologi eksperimental.
Materi yang digunakan dalam eksperimennya adalah yang sekarang dikenal dengan nonsense syllables, merupakan langkah yang cukup maju dalam eksperimen mengenai belajar. Bahkan Titchener menyatakan bahwa penggunaan nonsense syllables merupakan kemajuan yang sangat berarti sejak Aristoteles (Schultz dan Schultz, 1992). Nonsense syllables akan memberikan kesulitan yang sama pada subjek coba. Nonsense syllables  dibentuk dengan dua konsonan  dengan satu vowel ditengah, misalnya lef, bok, yat. Dari materi tersebut kemudian disusun kombinasi-kombinasi, yang kemudian ddiberikan kepada subjek coba secara acak untuk dipelajari. Disamping nonsense syllables juga diguunakan deretan angka yang juga tidak berarti (Woodworth, 1951). Ada beberapa metode yang digunakan ebbinghaus dalam eksperimennya mengenai belajar, antara lain the learning time method dan the relearning method.

F. Oswald Kulpe (1862-1915)
Setelah menamatkan pendidikannya di Leipzig, ia kemudian menjadi asisten Wundt, dan mengadakan eksperimen-eksperimen dilaboratoriumnya, namun kemudian ia memisahkan diri dari Wundt, dan ia bekerja pada permasalahan yang oleh Wundt tidak diperhatikan. Semula ia belajar dalam bidang sejarah, tetapi karena pengaruh Wundt ia pindah ke filsafat, dan akhirnya pindah ke  experimental psychology. Oswald Kulpe menulis buku “An Outline of Psychology”. Menurutnya yang dimaksud dengan psikologi adalah merupakan ilmu (science) mengenai fakta-fakta dari pengalaman yang bergantung pada pengalaman pribadi
Pada tahun 1894 ia menjadi guru besar di Universitas Wurzburg, dan dua tahun kemudian ia mendirikan laboratorium sebagai saingan laboratorium Wundt. Kulpe mengetrapkan metode yang disebut sebagai a systematic experimental introspection. Kulpe menekankan pada aspek subjektif, kualitatif dan report yang mendetail dari subjek mengenai sifat proses berpikirnya. Tujuan Kulpe adalah ingin meneliti secara langsung apa yang terjadi dalam diri subjek selama berlangsungnya kesadaran pada diri subjek. Kulpe tidak menentang pendapat Wundt yang menekankan pada pengalaman kesadaran, introspeksi, sebagai alat untuk mengadakan penelitiannya, atau menganalisis kesadaran dalam elemen-elemennya. Kerja dari Kulpe ialah memperluas konsep Wund tmengenai pokok bahasan dari psikologidengan dimasukkannya berpikir yang teliti secara eksperimental, dan menyempurnakanmetode introspeksi.
Disamping berfikir, juga diteliti mengenai motivasi, yang merupakan kontribusi yang cukup berarti dalam psikologi modern. Juga dikemukakan bahwa pengalaman tidak hanya bergantung pada elemen=elemen  kesadaran, tetapi elemen-elemen tidak kesadaran  juga berpengaruh pada prilaku, yang kemudian dikembangkan oleh Freud.


                                          BAB III
                                        PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pengaruh pengetahuan alam dan fisiologi pada psikologi merupakan permulaan dari psikologi eksperimental. Seperti telah dikemukakan terlebih dahulu Wilhelm Wundt dapat dipandang sebagai bapak dari psikologi eksperimental.
Ada empat orang ahli yang dapat dipandang sebagai orang yang mengadakan eksperimen-eksperimen, yang kemudian sangat berpengaruh penggunaan eksperimen dalam psikologi, yaitu Hermann von Helmholtz, Ernst Weber, Gustav Theodore Fechner dan Wilhelm Wundt (Schultz dan Schultz, 1992). Eksperimen-eksperimen tersebut berkembang di Jerman ,tidak di Perancis ataupun di Inggris.

B. SARAN
 Dalam penyelesaiannya, makalah ini masih banyak memiliki kekurangan, akan tetapi penulis sudah berupaya menyelesaikan pembahasan dari makalah ini, untuk itu penulis meminta maaf kepada pembaca atas semua kekurangan, serta mohon kepada pembaca untuk memberikan kritik dan sarannya, agar makalah ini bisa disempurnakan kembali dalam penyelesaiannya.

LONELINESS (KESEPIAN)

A. Pengertian Kesepian Kesepian adalah perasaan terasing, tersisihkan, terpencil dari orang lain. Sering orang kesepian karena merasa berbed...