Minggu, 12 Juli 2020

Fenomena Psikologi Panic Buying Akibat Covid - 19 di Tengah Masyarakat

FENOMENA PSIKOLOGI PANIC BUYING AKIBAT COVID-19 DI TENGAH MASYARAKAT
BY: NURUL AULIA FITRA


Akhir-akhir ini, banyak ditemukan fenomena panic buying yang terjadi di tengah masyarakat. Tidak hanya di Indonesia, bahkan hampir di seluruh dunia. Negara-negara yang terjangkit pandemic Covid-19, masyarakatnya banyak yang menunjukkan perilaku ini. Di Indonesia sendiri, banyak kasus-kasus yang bermunculan, diantaranya yaitu pembelian barang pokok, snack atau pun perangkat kesehatan seperti hand sanitizer, masker, sabun, alat pengukur suhu dan sejenisnya yang dibeli dalam jumlah yang besar dan sangat berlebihan. Hal ini merupakan tindakan yang irrasional dan salah, karena tindakan tersebut sangat egois, bukan hanya diri kita yang butuh, tapi juga orang lain. Tindakan ini bisa berakibat pada langkanya barang tersebut dan harga barang-barang itu naik. 
Dilansir dari cermati.com tanggal 23 Maret 2020, Tutum Rahanta (Anggota Dewan Penasehat HIPPINDO) mengatakah bahwa di Indonesia sendiri sudah dua kali terjadi rush atau belanja besar-besaran, pertama terjadi setelah pengunguman kasus pertama Covid-19 oleh Presiden Jokowi tanggal 2 Maret. Terlihat rak-rak kosong, tapi bukan karena stok tidak ada, melainkan sudah habis sebelum dipajang. Kedua, terjadi pada 14 Maret 2020 karena ada isu lockdown. Selanjutnya terjadi lagi peningkatan pembelian, namun aksi panic buying dalam skala yang tidak terlau besar.
Hal ini dapat terjadi karena banyaknya informasi simpang siur mengenai Covid-19. Dengan meningkatnya kasus postif yang terjadi di Indonesia, tentunya hal ini membuat masyarakat semakin resah, panik dan takut. Akibatnya tidak ada lagi perasaan tenang dan aman. Tidak hanya masyarakat Indonesia, hampir seluruh masyarakat di dunia dilanda kecemasan yang berlebihan. Timbulnya kekhawatiran jika pendemi ini menjangkiti dirinya maupun keluarganya.
Selain menciptakan masalah kesehatan dan dampak ekonomi ke hampir semua negara di dunia, COVID-19 juga telah menyebabkan banyak individu untuk mengadopsi perilaku pembelian yang tidak biasa. Misalnya, belum pernah terjadi sebelumnya membeli kertas toilet di Hong Kong dan Australia, antri untuk membeli senjata di AS dan permintaan berlebihan untuk banyak barang kebutuhan sehari-hari di semua hampir semua negara di dunia (Altsdter & Hong, dalam Kuruppu 2020).
Sejak awal pandemi corona virus telah ada peningkatan penggunaan masker (Feng et al., dalam Roy, et al., 2020) dan pembersih yang menghasilkan kelelahan sumber daya di pasar. Kekurangan peralatan perlindungan pribadi membahayakan pekerja kesehatan di seluruh dunia (WHO, 2020c). Tidak adanya tindakan perlindungan yang tepat merupakan penyebab utama kekhawatiran di antara tenaga medis. Kecemasan dan kekhawatiran dalam masyarakat secara global mempengaruhi individu secara luas. Bukti terbaru menunjukkan bahwa individu yang ditempatkan dalam isolasi dan karantina mengalami kesulitan yang signifikan dalam bentuk kecemasan, kemarahan, kebingungan dan gejala stres pasca-trauma (Brooks et al., dalam Roy, et al., 20202020).
Ekonomi penimbunan barang yang dilakukan oleh konsumen atau masyarakat ketika ada situasi tertentu yang dipandang gawat atau darurat sering dikenal dengan istilah panic buying. Perilaku panic buying menurut Enny Sri Hartati, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) dipicu oleh factor psikologis yang biasanya terjadi karena informasi tidak sempurna atau tidak menyeluruh yang diterima oleh masyarakat. Akibatnya, timbul kekhawatiran di masyarakat sehingga menimbulkan respons tindakan belanja secara pasif sebagai upaya penyelamatan diri. Terdapat dua bentuk kekhawatiran yang terjadi di masyarakat. Pertama adalah khawatir kalau tidak belanja sekarang, bisa saja besok harga barang naik. Kedua, jika tidak belanja sekarang, maka esok hari barangnya sudah tidak ada.
Panic Buying adalah sebuah fenomena yang terjadi selama krisis besar. Analisis perilaku pembelian selama krisis mengungkapkan beberapa hal temuan yang menarik. Pertama, beberapa pola permintaan terjadi secara alami dan dapat dibenarkan ketika mereka melakukan tindakan spontan yang bertujuan untuk mencegah atau melindungi diri dari penyakit. Kedua, Intervensi media memang membantu individu untuk melakukan akses informasi yang akurat dan bermanfaat, terutama dalam situasi bencana. Namun, media juga dapat menyebarkan informasi yang salah dan secara tidak sengaja orang-orang melakukan tindakan yang tidak perlu meskipun niatnya untuk menyebarkan informasi yang akurat. 
Perilaku irasional yang timbul akibat panic buying dapat menyebabkan meroketnya harga produk dan juga menyebabkan semakin banyaknya sampah rumah tangga. Alhasil, dapat memperburuk dampak ekonomi dan sosial dari pandemi Covid-19. Demikian pula, panic buying biasanya dipimpin oleh kelas atas dan menengah karena kapasitas mereka untuk melakukannya, kelas berpenghasilan rendah adalah kelompok yang tidak akan melakukan hal itu. Orang-orang di kelas ini umumnya kurang atau tidak memiliki kemampuan untuk melakukan panic buying dan akibatnya ketinggalan barang-barang penting untuk kehidupan mereka. Kelompok lain yang mungkin terpengaruh oleh panic buying adalah petugas kesehatan garda terdepan karena mereka akan merasa sulit ketika bekerja karena kurangnya alat perlindungan diri. Hal ini akan semakin memperburuk konsekuensi kesehatan dan sosial selama pandemi. 
Perilaku menimbun adalah salah satu tindakan yang menonjol selama krisis Covid-19. Selama krisis corona virus terus berlangsung di seluruh dunia tanpa adanya vaksin, ketidakpastian, dan isolasi sosial akan muncul di benak orang. Hal ini mendorong pembelian panik dan perilaku menimbun. Penimbunan membutuhkan lebih banyak barang daripada yang biasa digunakan, sampai menghalangi fungsi rumah. Perilaku yang terlihat di tengah Covid-19 mungkin tidak "menimbun" dalam arti sebenarnya, mereka cenderung didorong oleh mekanisme psikologis yang sama. Perilaku menimbun menghasilkan ketidakmampuan individu yang dirasakan untuk mentolerir kesusahan, dan untuk menghindari kesusahan, mereka membeli lebih banyak produk daripada mereka dapat digunakan secara layak selama pandemic.
Pilihan atau keputusan konsumen merupakan masalah signifikan dalam perilaku konsumen. Mengenai pilihan, konsumen dihadapkan dengan ketidakpastian yang disebabkan oleh ketidakpastian akan masa depan (Taylor, dalam Wijaya, 2020). Taylor (dalam Wijaya, 2020) menyatakan bahwa ketidakpastian akan menyebabkan kegelisahan, begitu pula individu membutuhkan cara untuk mengurangi kecemasan melalui pengurangan risiko. Kecemasan juga terbentuk oleh harga diri dan kepercayaan diri individu. Setiap pilihan konsumen melibatkan dua aspek, yaitu ketidakpastian dalam hasil dan dampak. Ketidakpastian yang terkait dengan hasil dapat diminimalkan oleh informasi atau pengetahuan, sementara ketidakpastian dampak dapat dikurangi dengan mengurangi jumlah yang dipertaruhkan atau menunda pilihan. 
Aspek risiko adalah bagian dari perilaku panik pada konsumen (Fei et al., dalam Wijaya, 2020). Hessels et al., (dalam Wijaya, 2020) menyatakan bahwa ketakutan akan kegagalan dikaitkan dengan penghindaran risiko. Dalam kepanikan tertentu membeli adalah masalah umum di lingkungan yang bergerak cepat seperti saat ini, penyebabnya termasuk kondisi cuaca buruk, pemogokan, bencana alam, dan perubahan kebijakan pemerintah (Tsao et al., 2019). Peristiwa ini menimbulkan risiko bagi pilihan konsumen. Secara pribadi, risiko dapat digambarkan sebagai ancaman potensial terhadap kesehatan dan kesejahteraan individu (Wildavsky & Dake, 1990). Pilihannya sangat ditentukan oleh manfaat dan persepsi risiko itu muncul. Sikap konsumen menentukan keduanya. Konsumen yang memiliki Sikap positif cenderung merasakan manfaat yang lebih tinggi, sedangkan konsumen yang memiliki sikap negatif akan memiliki persepsi risiko yang lebih tinggi (Slovic & Peters, 2006).
Ketika konsumen merasakan spesifik risiko, mereka cenderung mencari konfirmasi persepsi mereka (Slovic, 1987). Konsumen yang merasa risiko wabah akan mengambil spekulasi untuk bertindak untuk mengurangi tingkat risiko dirasakan melalui pembelian skala besar. Misalnya, risiko kekurangan makanan, jika ada karantina di daerah tersebut dan jika tidak ada peralatan kesehatan saat wabah. Aspek persepsi risiko juga terkait dengan pengetahuan. Konsumen yang punya pengetahuan tentang cara mengurangi risiko akan memiliki kemampuan untuk mengurangi kepanikan yang ada, menurut pendapat Taylor (dalam Wijaya, 2020) informasi mampu mengurangi hasil ketidakpastian. Kecemasan eksternal juga muncul sebagai akibat dari pengaruh luar. Individu menilai sesuatu jika mereka tidak memiliki informasi yang cukup akan menggunakan model lain sebagai sumber informasi.
Menurut Azjen (dalam Wijaya, 2020), konsep ini disebut norma subyektif yang merupakan faktor situasional yang mempengaruhi individu untuk berperilaku. Norma akan mengarah ke sikap dan tindakan yang cenderung homogen (Azjen, 2005), sehingga konsumen dalam kondisi yang tidak stabil memiliki kecenderungan untuk mengikuti perilaku orang-orang di sekitar mereka. Itulah kelompok referensi yang memiliki pengaruh kuat pada pilihan produk dan pilihan merek untuk konsumen dalam model perilaku konsumen adalah keluarga (Kotler, 2006; Engel et al, 2005). Anggota keluarga menjadi bagian dari pertimbangan konsumen dalam menentukan pilihan.
Panic buying (PB)/ peningkatan pembelian perilaku telah diamati selama keadaan darurat kesehatan masyarakat sejak zaman kuno. Persepsi kelangkaan (efek kelangkaan yang dirasakan) sangat terkait dengan kepanikan perilaku membeli dan perilaku menimbun yang meningkat sehingga terjadi kelangkaan. (Wilkens 2020; Dholakia 2020; Bonneux dan Van Damme 2006). Hal ini juga menciptakan perasaan tidak aman yang pada gilirannya mengaktifkan mekanisme lain untuk mengumpulkan barang-barang (Dholakia dalam Arafat, et al., 2020). Perasaan kehilangan kendali atas lingkungan dapat dianggap sebagai penyebabnya. Selama masa krisis, orang umumnya suka mengendalikan sesuatu dan mereka membawa beberapa aspek kepastian (Wilkens, dalam Arafat, et al., 2020).
Pembelian panik juga telah dikaitkan dengan perasaan tidak aman dan instabilitas yang dirasakan di situasi tertentu (Hendrix, dalam Arafat, et al., 2020). Status pandemi korona pada tahun 2020 meninggalkan komunitas dengan ketidakpastian. Orang-orang tidak yakin kapan bencana akan berakhir, sehingga menghemat kebutuhan dasar dan membeli sebanyak mungkin adalah jalan pintas untuk mengatasi perasaan tidak aman. Selanjutnya, gangguan pasokan, suatu kondisi dimana pasokan produk normal dalam rantai pasokan terganggu, telah diamati selama bencana atau bencana lain yang tidak diinginkan (Shou, at al., 2013). 
Fenomena ini juga dapat dikaitkan dengan hal-hal serupa yang terjadi selama epidemi dan bencana alam lainnya di masa lalu. Persediaan dari obat-obatan dan vaksin dianggap sebagai metode persiapan dalam kasus pandemi (Jennings et al., 2008). Selama krisis, orang kadang percaya bahwa Pemerintah tidak akan dapat mengendalikan pemasaran gelap dan memberikan dukungan kepada warga negara. Kurangnya kepercayaan dan antisipasi kehabisan sumber daya mungkin bertanggung jawab atas kepanikan pembelian. Mereka tanpa pikir panjang meremehkan risiko bahaya dan meremehkan risiko kemungkinan bantuan (Bonneux dan Van Damme, 2006). Singkatnya, ketakutan akan kelangkaan dan kehilangan kendali atas lingkungan, ketidakamanan (yang bisa karena ketakutan), pembelajaran sosial, memperburuk kecemasan, respon primitif dasar manusia adalah faktor inti yang bertanggung jawab atas fenomena panic buying. 
Untuk mengantisipasi dan memitigasi terulangnya panic buying, maka diperlukan kejelasan informasi dari otoritas yang berwenang. Selain itu, informasi yang disajikan pemerintah, idealnya tidak tumpang tindih. Jelasnya informasi yang diterima oleh masyarakat dapat meredam tekanan psikologis masyarakat termasuk dari berbagai macam berita hoax. Langkah konkret lain yang juga bisa dilakukan oleh pemerintah adalah dengan membagikan masker secara gratis kepada masyarakat. Hal ini seperti yang pernah pemerintah RI lakukan saat mengatasi masalah kebakaran hutan dan lahan. Distribusi pembagian masker ini pun bisa dilakukan secara fleksibel, seperti di pusat keramaian umum, perkantoran, sekolah-sekolah, dan sebagainya dengan syarat menggunakan protocol kesehatan COVID-19.
Steven Taylor, Profesor sekaligus Psikolog Klinis di University of British Columbia, mengungkapkan, dalam kasus terjadinya bencana alam, terdapat perbedaan gagasan yang jelas antara persiapan untuk menghadapi bencana dan sekedar pembelian berlebih. Dalam kasus sebaran Virus Corona, ada banyak ketidakpastian yang mendorong terjadinya perilaku pembelian berlebih. Panic buying menurut Taylor didorong oleh kecemasan dan keinginan untuk berusaha keras menghentikan ketakutan tersebut. “Panic buying membantu orang merasa mengendalikan situasi. Dalam keadaan seperti ini, orang-orang merasa perlu untuk melakukan sesuatu yang sebanding dengan apa yang mereka anggap sebagai tingkatan krisis.”
Panic buying tidak terjadi begitu saja, ada alasan ilmiah di balik timbulnya keinginan untuk memborong barang-barang dan makanan di tempat perbelanjaan. Panik adalah perpanjang dari cemas. Sementara cemas itu perpanjangan dari takut. Takut adalah keinginann untuk menghindari sesuatu yang ada saat ini. Jika ketakutan tersebut berdasarkan ketidakpastian di masa depan, maka akan terjadi kecemasan (Nurkholis, 2020). Ketika seseorang punya kecemasan, pada titik tertentu area prefrontal cortex pada otak tidak bisa bekerja. Prefrontal cortex adalah bagian otak yang memproses hal-hal yang rasional/ ketika area ini tidak bekerja karena kecemasan akan ketidakpastian, bagian yang bekerja adalah limbic system (system limbik), akibatnya rasa takut dan cemas jadi tidak bisa dikontrol. Jika hal itu terjadi, maka yang harus dilakukan adalah bernafas, ambil napas dalam-dalam, 10-20 hitungan, lalu keluarkan secara perlahan. Sehingga aliran darah menjadi lebih lancar dan oksigen bisa naik ke otak sehingga prefrontal cortex bisa berfungsi kembali, lalu individu bisa berpikir dengan jernih. 
Perilaku panic buying dan menimbun barang tidak diperbolehkan di dalam Islam, hal ini bertolak belakang dengan spirit etika bisnis dan nilai-nilai ekonomi islam. Karena, perbuatan tersebut telah mengancam dan merugikan sesama manusia. Orang yang menampilkan perilaku seperti itu disebut serakah, egois dan mementingkan diri sendiri. Contohnya, kondisi kelangkaan dan melonjaknya harga masker di berbagai wilayah, akibat keserakahan manusia yang memanfaatkan wabah Corona sebagai peluang bisnis.
Beberapa tips dalam mengatasi Panic buying menurut Dicky Palupessy, Wasekjen IABI (dalam Audina, 2020) adalah sebagai berikut: 
Belanja dengan cerdas/ smart buying
Maksudnya yaitu belilah keperluan yang memang sangat dibutuhkan dalam jumlah yang cukup untuk sekeluarga sesuai dengan kemampuan dan dalam waktu yang rasional, misalnya kwbutuhan untuk sekali seminggu.
Jangan langsung panik dengan pemberitaan di media
Pintarlah dalam memilih dan menyikapi pemberitaan oleh media, baik itu media elektronik maupun cetak. Tetap tenang dan cari informasi yang terpercaya dan valid.



DAFTAR KEPUSTAKAAN

Arafat, S. Y., Kar, S. K., Marthoenis, M., Sharma, P., Apu, E. H., & Russel, K. (2020). Psychological underpinning of panic buying during pandemic (COVID-19). Elsevier, 2-4.

Ariyanti, Fiki. (23 Maret 2020). Panic Buying Akibat Corona, Belanja Sembako di Swalayan Dibatasi. Ini Daftarnyaǃ. Diakses pada tanggal 15 Juni 2020. Link: https://www.cermati.com

Audina, Nur Indah Farah. (22 Maret 2020). Tips Mengatasi Panic Buying dan Cara Cerdas dalam Berbelanja. Diakses pada tanggal 17 Juni 2020. Link: https://www.google.com 

Kuruppu, G. (2020). COVID-19 and Panic Buying: an Examination of the Impact of Behavioural Biases. SSRN, 1-6.

Ling, G. H., & Ho, C. M. (2020). Effects of the Coronavirus (COVID-19) Pandemic on Social Behaviours: From a Social Dilemma Perspective. Technium Social Sciences Journal, Vol. 7, 312-320, 312-314.

Mawandha, H. G. (2009). Cognitive Behavior Therapy and Anxiety Facing Medical Procedures in Children with Leukemia . Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 1, No. 1, 77-78.

Nurkholis. (2020). Dampak Pandemi Novel-Corona Virus Disiase (Covid-19) Terhadap Psikologi Dan Pendidikan Serta Kebijakan Pemerintah . Jurnal PGSD, Vol. 6, No. 1, 42-43.

Roy, D., Tripathy, S., Kar, S. K., Sharma, N., Verma, S. K., & Kaushal, V. (2020). Study of Knowlwdge, Attitude, Anxiety & Perceived Mental Healthcare Need in Indian Population During COVID-19 Pandemic. Asian Journal of Psychiatry, Vol. 51, 1-3.

Sanyata, S. (2012). Teori dan Aplikasi Pendekatan Behavioristik dalam Konseling . Jurnal Paradigma, No. 14 , 3-6.

Shou, B., Xiong, H., & Shen, Z. M. (2013). Consumer Panic Buying and Quota Policy Under Supply Disruptions. Manufacturing & Service Operations Management, 1-5.

Wijaya, T. (2020). Factor Analysis Panic Buying During the COVID-19 Period in Indonesia. SSRN, 1-5.


#KKNIAINBATUSANGKAR2020
#KKNDRIAINBATUSANGKAR2020

Minggu, 06 Januari 2019

Pengaruh ilmu fisiologi terhadap psikologi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Psikologi merupakan ilmu yang relative muda apabila dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainnya. Dimana perkembangan psikologi dalam era sekarang sangat meningkat pesat. Sejarah perkembangan ilmu psikologi hampir sama dengan ilmu-ilmu lainnya. Telah pula diketahui bahwa psikologi sebagai suatu ilmu telah memisahkan diri dari filsafat, tetapi ini tidak bahwa psikologi tidak terkena pengaruh dari filsafat. Filsafat murupakan akar dari suatu ilmu yang muncul di dunia ini. Dengan adanya filsafat ini memudahkan kita untuk mengatahui asal mula suatu ilmu tersebut. Untuk itu kita perlu mengetahui sampai dimana filsafat mempengaruhi psikologi tersebut. Disamping itu juga psikologi juga di pengaruhi oleh Fisiologi dan Pengetahuan Alam.
Proses pengaruh yang terdapat dalam fisiologi dan pengetahuan alam apakan sangat banyak pengaruhnya atau hanya sekedar saja. Dengan adanya pengaruh ini, kita bisa mengatahui perkembangan dari Ilmu Psikologi tersebut. Karena masih banyak masyarakat yang belum mengatahui proses perkembangan psikologi tersebut. Karena dalam perkembangannya Psikologi mengalami banyak psoses yang terjadi. Maka dari itu kita wajib untuk mengatui proses perkebangan psikologi yang akan dibahas pada bab selajutnya.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana  Pengaruh Ilmu Fisiologi Terhadap Ilmu Psikologi?
2. Siapakah Ahli yang mengadakan eksperimen dalam psikologi ?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui  Pengaruh Ilmu Fisiologi Terhadap Ilmu Psikologi
2. Untuk mengetahui Ahli yang mengadakan eksperimen dalam psikologi

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengaruh Ilmu Fisiologi Terhadap Ilmu Psikologi

Pengaruh pengetahuan alam dan fisiologi pada psikologi merupakan permulaan dari psikologi eksperimental. Seperti telah dikemukakan terlebih dahulu Wilhelm Wundt dapat dipandang sebagai bapak dari psikologi eksperimental. Namun demikian tidak berarti bahwa sebelum Wundt belum ada yang melakukan eksperimen-eksperimen dalam kaitannya dengan psikologi.
Ada empat orang ahli yang dapat dipandang sebagai orang yang mengadakan eksperimen-eksperimen, yang kemudian sangat berpengaruh penggunaan eksperimen dalam psikologi, yaitu Hermann von Helmholtz, Ernst Weber, Gustav Theodore Fechner dan Wilhelm Wundt (Schultz dan Schultz, 1992). Eksperimen-eksperimen tersebut berkembang di Jerman ,tidak di Perancis ataupun di Inggris. Untuk selanjutnya maka Jerman merupakan sumber eksperimen-eksperimen yang berkaitan dengan psikologi.

A. Hermann von Helmholtz (1821 - 1894)
Helmholtz mempunyai minat dalam bidang psikologi dan penelitiannya mengenai kecepatan stimulus pada penglihatan dan pendengaran. Helmholtz juga mengadakan eksperimen menganai waktu reaksi. Penelitian tersebut menghasilkan bahwa terdapat perbedaan individual, juga terdapat perbedaan pada orang yang sama dari satu eksperimen ke eksperimen yang lain. Eksperimen Helmholtz kemudian dicoba oleh ahli-ahli lain. Helmholtz juga mengembangkan teori mengenai warna yang dikemukakan oleh Thomas Young, yang sekarang dikenal dengan teori Young-Helmholtz  mengenai soal warna. Helmholtz juga seorang psikolog , tetapi ia mempunyai sumbangan yang berarti dalam psikologi, khususnya psikologi sensoris, dan digunakannya eksperimen dalam psikologi.

B. Ernzt Weber (1795 - 1878)
Sumbangan Weber dalam psikologi ialah hasil eksperimennya menegenai ambang dua-titik pada kulit, yaitu bagaimana atau sejauh mana subjek dapat merasakan atau mempersepsi dua buah titik atau stimulus yang dikenakan pada bagian kulitnya. Apabila jarak antara  kedua titik itu relatif  pendek subjek merasa adanya satu stimulus. Tetapi pada jarak tertentu (jarak kedua titik itu agak renggang), subjek merasakan adanya dua stimulus. Eksperimen ini mendemonsrasikan tentang ambang dua-titik (the two-point threshold), yaitu ambang dimana dua titik stimulus dapat dirasakan atau dipersepsi oleh objek coba.
Weber juga mendapatkan bahwa the two-point threshold itu bervariasi dalam bagian-bagian badan yang berbeda pada subjek yang sama, dan juga bervariasi dari subjek satu dengan subjek yang lain pada bagian badan yang sama. Sumbangan lainnya mengenai the just noticeable, yaitu perbedaan yang paling kecil khususnya mengenai berat benda yang dapat dirasakan atau dapat di persepsi oleh subjek. Subjek disuruh mengevaluasi dua benda yang diangkat, dan mengevaluasi manakah yang lebih berat diantara kedua benda atau stimulus tersebut. Satu benda sebagai standar, sedangkan yang satunya sebagai yang diperbandingkan (variable).
Hasil eksperimen menunjukkan bahwa, apabila perbedaan stimulus kecil, di persepsi sebagai stimulus yang sama beratnya. Tetapi sampai perbedaan kedua benda atau stimulus itu pada perbedaan tertentu, kedua stimulus itu dapat di persepsi. Weber menemukan bahwa the just noticeable difference sebagai antara dua benda sebagai stimulus merupakan perbandingan yang konstan, misalnya 1 : 40 dari standar. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa benda dengan berat 41 gram dapat dipersepsi perbedaannya dengan standari 40 gram.
Selanjutnya Weber meneliti peranan dari peng inderaan otot (muscular sensation) ¬dalam membedakan berat. Ia mendapat hasil bahwa subjek dapat membedakan lebih tepat atau lebih teliti apabila berat yang harus dibedakan itu diangkat sendiri oleh subjek dari pada ditempatkan oleh eksperimenter pada tangannya.
Dengan mengangkat sendiri benda tersebut, yang berperan adalah penginderaan taktil dan otot, sedangkan apabila ditaruhkan oleh eksperimenter yang berperan hanya penginderaan taktil. Apabila benda itu diangkat sendiri maka ratio adalah 1 : 40, sedangkan kalau ditaruhkan oleh eksperimenter ratio 1 : 30. Ia berkesimpulan bahwa internal muscular sensation yang ada dalam dii individu mempengaruhi kemampuan individu untuk membedakannya. Hal ini lebih jauh akan dibicarakan dalam rangka pembicaraan mengenai persepsi.

C. Gustav Theodore Fechner (1801 – 1887)
Menurut Fechner ada dua cara untuk mengukur penginderaan, yaitu:
1. Orang dapat menentukan apakah stimulus itu ada atau tidak, dapat diindera atau tidak.
2. Orang dapat mengukur intensitas, yaitu subjek dapat menyatakan penginderaannya yang pertama terjadi, ini merupakan ambang absolut bawah (the obsolute lower threshold) (Underwood, 1994) atau ambang stimulus (Towsend, 1953). Ini berarti stimulus dibawahnya belum dapat diindera ataupun dipersepsi. Fechner juga mengemukakan tentang ambang perbedaan (the difference threshold), yaitu perbedaan dua stimulus yang paling kecil yang dapat dipersepsi oleh subjek coba.
Metode ini dikenal dengan metode psikofisik, yang memberikan gambaran kaitan psikis dan fisik (material world). Dalam penelitiannya  Fechner menggunakan cara dengan mengangkat berat, seperti pada Weber. Metode yang dikembangkan oleh Fechner masih digunakan oleh para ahli hingga pada waktu ini, yaitu:
1. Metode kesalahan rata-rata (the method of average error)
Sering juga disebut the method of adjustment, yaitu suatu metode subjek dihadapkan pada dua stimuli, yaitu stimulus standard dan stimulus variabel. Tugas subjek adalah sampai subjek dapat mempersepsi bahwa stimulus variabel sama dengan stimulus standar.
 Seberapa besar kesalahan yang ditunjukkan oleh subjek, yaitu perbedaan antara stimulus standar dengan stimulus variabel menunjukkan sampai sejauh mana ketetapan subjek dalam mengadakan persepsi.
2. Metode stimulasi konstan (the method of constant stimuli)
Semula disebut sebagai metode right and wrong, yaitu suatu metode subjek dihadapkan pada stimulus standar dan stimulus variabel. Stimulus variabel dalam keadaan lebih ringan dan lebih berat dari stimulus standar. Misalnya stimulus standar seberat 100 gram, stimulus variabel dengan berat 92, 96, 98 gram dan ada  yang lebih berat dari standar, misalnya 104, 106 gram. Tugas subjek memberikan evaluasi (judgment) apakah stimulus variabel itu lebih ringan, sama atau lebih berat dari pada standar pada waktu subjek membandingkan antara dua stimuli tersebut.
The method of limits semula disebut sebagai  the method of just noticeable differences, yaitu suatu metode subjek dihadapkan pada dua stimuli, satu sebagai stimulus standar dan yang lain sebagai stimulus variabel. Stimulus variabel diubah naik atau turun sampai subjek dapat mempersepsi bahwa stimulus variabel itu sama dengan stimulus standar. Ttitik berangkat penyajian stimulus variabel dalam keadaan sangat nyata perbedaannya dengan stimulus standar, baik dalam keadaan lebih dari standar maupun dalam keadaan kurang dari standar.
Dari data eksperimen kemudian dapat diketahui tentang just noticeable differences-nya, yaitu rerata dari penentuan ambang perbedaan (difference threshold). Hal ini lebih jauh akan dipaparkan dibagian belakang dalam kaitannya dengan persepsi. Eksperimen Fechner tersebut kemudian dibukukan dalam bukunya yang bertitel “Elemente der Psychophysik” merupakan buku yang menunjukkan hubungan antara psikis dengan fisik.

D. Wilhelm Wundt (1832-1920)
Telah dipaparkan didepan mulai wundt psikologi mempunyai corak baru. Wundt dapat dipandang sebagai penyekat antara psiologi lama dengan psikologi modern. Semula sebagai mayornya adalah bidang kedokteran, namun kemudian beralih kefisiologi (Schultz dan Schultz, 1992). Semula ia mengajar fisiologi di Universitas Heidelberg, kemudian juga ditunjuk untuk membantu dilaboratoriumnya Helmholtz. Pada waktu bekerja Heidelberg inilah wunth mengajukan pendapatnya bahwa psikologi adalah merupakan ilmu yang perlu mandiri, tidak bergantung pada ilmu yang lain, dan merupakan ilmu yang eksperimental. Ia mengajukan pemikirannya itu dalam bukunya yang berjudul “Contributions to the theory of sensory perception”. Dalam buku ini digunakan istilah “Eksperimental Psychology” untuk pertama kalinya, atas eksperimen-eksperimennya yang dilakukannya sendiri dalam laboratorium yang didirikannya sendiri.
Pada tahun 1867 Wundt membuka course di Heidelberg dalam bidang Physiological itu tidak seperti arti yang sekarang ini, tetapi menurut Wundt arti dari istilah physiological itu sama dengan eksperimental. Jadi Wundt mengajar dan menulis mengenai Physiological Psychology itu dalam arti Physiological Psychology seperti pada waktu ini (Schultz dan Schultz, 1992). Seperti diketahui laboratorium Wundt kemudian diakui oleh dunia ilmu pengetahuan pada tahun 1879, dan akhirnya menjadi pusat studi para ahli psikologi lain yang datang dari berbagai-bagai negara.
 Eksperimen wundt didasarkan atas eksperimen-eksperimen dalam bidang fisiologi yang dapat membantu penelitian-penelitian psikologi modern. Pokok bahasan (subject matter)  psikologi Wundt adalah kesadaran. Pengaruh dari empirisme dan asosiasi Nampak pengaruhnya pada sistem wundt. Pandangan wundt kesadaran itu mencakup berbagai-berbagi bagian, yang dapat dipelajari bagian demi bagian, jadi dapat dipelajari dengan metode analisis atau metode reduksi.
Wundt adalah seorang srukturalis, sehingga ia menitikberatkan pada stuktur dari kesadaran yang terdiri atas bagian-bagiannya. Salah satu tulisannya Wundt mengemukakan “The first step in the investigation of a fact must therefore be a description of the individual elements … of which it consists” (dalam Schultz dan Schultz, 1992). Wundt berpendapat bahwa kesadaran adalah aktif dalam mengorganisasi isinya.
 Wundt lebih menitikberatkan studinya mengenai pengalaman yang tidak langsung (immediate experience) dari pada pengalaman yang langsung (mediate experience). Pengalaman lansung memberikan informasi atau pengetahuan tentang sesuatu yang lain dari pada elemen pengalaman itu sendiri. Misalnya kalau seseorang melihat bunga dan menyatakan bahwa “ bunga itu merah”. Pernyataan ini memberikan gambaran bahwa perhatian seseorang yang utama  adalah dalam bunga itu sendiri, bukan pada fakta bahwa seseorang mengalami kemerahannya itu sendiri.
 The immediate experience dalam melihat bunga itu tidak pada objek itu sendiri, tetapi pada pengalaman mengenai sesuatu yang berwarna merah. Jadi menurut Wundt  immediate experience itu tidak dibatasi oleh interpretasi, seperti halnya pada pernyataan pengalaman “ bunga itu merah”, dalam arti pada objek bunga itu sendiri.
Psikologi Wundt adalah ilmu mengenai pengalaman kesadaran (consicious experience), maka metode yang digunakan dalam psikologi adalah observasi mengenai pengalaman tersebut. Hanya orang yang mempunyai  pengalaman tersebut yang dapat mengadakan observasi. Karena itu metodenya adalah introspeksi, yaitu penelitian seseorang dengan observasi dirinya sendiri mengenai keadaan psikisnya, yang kemudian dilanjutkan oleh Titchener, salah seorang muridnya.
Mengenai introspeksi Wundt mengajukan beberapa hukum atau ketentuan, yaitu (1) observer harus mampu menentukan kapan proses itu terjadi; (2) observer harus memusatkan perhatiannya; (3) observer harus mampu mengulangi observasi berulangkali; (4) eksperimenter harus mampu mengontrol manipulasi dari stimulus.
Wundt berpendapat bahwa perasaan itu tidak hanya satu dimensi saja yaitu senang atau tidak senang tetapi masih ada dimensi yang lain.

E. Herman Ebbinghaus (1850-1909)
Setelah membaca bukunya Fechner”Elements of Psychophysics”, ia ingin mengadakan eksperimen dalam bidang proses mental yang lebih tinggi (higher mental processes), yaitu mrngenai ingatan.
Ebbinghaus adalah  psikolog yang pertama kali mengadakan eksperimen-eksperimen dalam masalah belajar dan ingatan. Dalam hal ini Ebbinghaus tidak hanya menjawab pendapat wunth bahwa proses mental yang tinggi tidak dapat dikuliti dengan eksperimen, tetapi juga sekaligus juga ,membuktikan bahwa ingatan dapat diteliti secara eksperimental. Dengan demikian maka kerja Ebbinghaus memperluas kanca psikologi eksperimental.
Materi yang digunakan dalam eksperimennya adalah yang sekarang dikenal dengan nonsense syllables, merupakan langkah yang cukup maju dalam eksperimen mengenai belajar. Bahkan Titchener menyatakan bahwa penggunaan nonsense syllables merupakan kemajuan yang sangat berarti sejak Aristoteles (Schultz dan Schultz, 1992). Nonsense syllables akan memberikan kesulitan yang sama pada subjek coba. Nonsense syllables  dibentuk dengan dua konsonan  dengan satu vowel ditengah, misalnya lef, bok, yat. Dari materi tersebut kemudian disusun kombinasi-kombinasi, yang kemudian ddiberikan kepada subjek coba secara acak untuk dipelajari. Disamping nonsense syllables juga diguunakan deretan angka yang juga tidak berarti (Woodworth, 1951). Ada beberapa metode yang digunakan ebbinghaus dalam eksperimennya mengenai belajar, antara lain the learning time method dan the relearning method.

F. Oswald Kulpe (1862-1915)
Setelah menamatkan pendidikannya di Leipzig, ia kemudian menjadi asisten Wundt, dan mengadakan eksperimen-eksperimen dilaboratoriumnya, namun kemudian ia memisahkan diri dari Wundt, dan ia bekerja pada permasalahan yang oleh Wundt tidak diperhatikan. Semula ia belajar dalam bidang sejarah, tetapi karena pengaruh Wundt ia pindah ke filsafat, dan akhirnya pindah ke  experimental psychology. Oswald Kulpe menulis buku “An Outline of Psychology”. Menurutnya yang dimaksud dengan psikologi adalah merupakan ilmu (science) mengenai fakta-fakta dari pengalaman yang bergantung pada pengalaman pribadi
Pada tahun 1894 ia menjadi guru besar di Universitas Wurzburg, dan dua tahun kemudian ia mendirikan laboratorium sebagai saingan laboratorium Wundt. Kulpe mengetrapkan metode yang disebut sebagai a systematic experimental introspection. Kulpe menekankan pada aspek subjektif, kualitatif dan report yang mendetail dari subjek mengenai sifat proses berpikirnya. Tujuan Kulpe adalah ingin meneliti secara langsung apa yang terjadi dalam diri subjek selama berlangsungnya kesadaran pada diri subjek. Kulpe tidak menentang pendapat Wundt yang menekankan pada pengalaman kesadaran, introspeksi, sebagai alat untuk mengadakan penelitiannya, atau menganalisis kesadaran dalam elemen-elemennya. Kerja dari Kulpe ialah memperluas konsep Wund tmengenai pokok bahasan dari psikologidengan dimasukkannya berpikir yang teliti secara eksperimental, dan menyempurnakanmetode introspeksi.
Disamping berfikir, juga diteliti mengenai motivasi, yang merupakan kontribusi yang cukup berarti dalam psikologi modern. Juga dikemukakan bahwa pengalaman tidak hanya bergantung pada elemen=elemen  kesadaran, tetapi elemen-elemen tidak kesadaran  juga berpengaruh pada prilaku, yang kemudian dikembangkan oleh Freud.


                                          BAB III
                                        PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pengaruh pengetahuan alam dan fisiologi pada psikologi merupakan permulaan dari psikologi eksperimental. Seperti telah dikemukakan terlebih dahulu Wilhelm Wundt dapat dipandang sebagai bapak dari psikologi eksperimental.
Ada empat orang ahli yang dapat dipandang sebagai orang yang mengadakan eksperimen-eksperimen, yang kemudian sangat berpengaruh penggunaan eksperimen dalam psikologi, yaitu Hermann von Helmholtz, Ernst Weber, Gustav Theodore Fechner dan Wilhelm Wundt (Schultz dan Schultz, 1992). Eksperimen-eksperimen tersebut berkembang di Jerman ,tidak di Perancis ataupun di Inggris.

B. SARAN
 Dalam penyelesaiannya, makalah ini masih banyak memiliki kekurangan, akan tetapi penulis sudah berupaya menyelesaikan pembahasan dari makalah ini, untuk itu penulis meminta maaf kepada pembaca atas semua kekurangan, serta mohon kepada pembaca untuk memberikan kritik dan sarannya, agar makalah ini bisa disempurnakan kembali dalam penyelesaiannya.

Minggu, 10 Juni 2018

Attachment Theory


A. Tokoh-tokoh dalam Teori Kelekatan 

1. John Bowlby (1907-1990)
Bowlby adalah seorang psikiater dan psikoanalis, dan terkenal karena minatnya dalam perkembangan anak. Bowlby lahir di London, Inggris pada tahun 1907. Teori Bowlby disebut teori kelekatan karena banyak dipengaruhi oleh teori evolusi dalam observasinya pada perilaku hewan. Terkait dengan kelekatan, menurut teori Etologi (Berndt dalam Crain, 1992), tingkah laku sangat lekat pada anak, bisa diprogram secara evolusioner dan instinktif. Sebenarnya tingkah laku kelekatan tidak hanya ditujukan pada anak namun juga pada ibu. Ibu dan anak dipersiapkan untuk saling merespon perilaku. Bowlby percaya bahwa perilaku sudah diprogram secara biologis. Reaksi bayi berupa tangisan, senyuman, isapan akan mendatangkan reaksi ibu dan perlindungan atas kebutuhan bayi. Proses ini akan meningkatkan hubungan ibu dan anak. Sebaliknya bayi dipersiapkan untuk merespon tanda, suara dan perhatian yang diberikan ibu. Hasil dari respon biologis yang terprogram ini adalah anak dan ibu akan membangun hubungan kelekatan yang saling menguntungkan (mutuality attachment). Ikatan psikologis antara ibu dan anak yang bertahan lama sepanjang rentang hidup dan berhubungan dengan kehidupan social, dinamakan psychological bonding. Bowlby menyatakan bahwa kita dapat memahami perilaku manusia dengan mengamati lingkungan yang diadaptasinya, yaitu lingkungan dasar tempat hidup dan berkembang. Proses-proses yang dipelajari individu untuk mengarahkan perilaku dalam kelompok spesiesnya disebut imprinting.Pada penelitian cross-fostering (ibu asuh) yang dilakukan, dimana suatu individu dibesarkan oleh orang tua yang berbeda dari individu tersebut, memperlihatkan bahwa imprintingnya juga akan muncul pada awal-awal kehidupannya.

2. Mary Ainsworth (1919-1999) dan Teori Situasi Asing
Ainsworth lahir di Glendale, Ohio, tahun 1919. Ia lahir sebagai putri presiden pengusaha barang-barang aluminium. Ia memperoleh gelar BA, MA dan Ph.D dari University of Toronto dimana ia bekerja sebagai instruktur dan dosen. Selama karirnya yang panjang, ia mengajar dan melakukan penelitian dibeberapa universitas dan institut di Cananda, Amerika Serikat, Inggris, dan Uganda. Ainsworth dan rekan-rekannya (Ainsworth, Biehar, Waters & Wall, 1978) banyak dipengaruhi oleh teori Bowlby dalam mengembangkan suatu teknik untuk mengukur jenis gaya kelekatan yang ada diantara pengasuh dan bayinya, yang dikenal sebagai situsi asing (strange situation). Prosedur situasi asing meliputi sesi laboratorium selama 20 menit dengan situasi dimana seorang ibu dan bayi pada awalnya hanya berduaan disuatu kamar bermain. Kemudian masuk orang asing kedalam ruangan tersebut, setelah beberapa menit orang asing tersebut mulai melakukan interaksi yang singkat dengan bayi.Lalu sang ibu pergi menjauh sebanyak dua kali (periode) masing-masing selama dua menit. Selama periode yang pertama, bayi tersebut ditinggalkan sendirian bersama orang asing. Namun diperiode yang kedua bayi tersebut ditinggalkan sepenuhnya sendirian. Perilaku yang penting adalah bagaimana bayi bereaksi ketika sang ibu kembali. Perilaku inilah yang dijadikan dasar pengukuran skala gaya kelekatan. Ainsworth dan rekan-rekannya menemukan 3 skala gaya kelekatan, yaitu rasa aman, cemas-menolak dan cemas menghindar.


B. Kelekatan dan Perkembangannya Attachment (kelekatan) adalah sebuah istilah yang pertama kali diperkenalkan oleh John Bowlby tahun 1958 untuk menggambarkan pertalian atau ikatan antara ibu dan anak (Johnson & Medinnus, 1974 dalam Desmita 2013). Menurut Martin Herbert dalam The Social Sciences Encyclopedia, “attachment (kelekatan) mengacu pada ikatan antara dua orang individu atau lebih; sifatnya adalah hubungan psikologis yang diskriminatif dn spesifik, serta mengikat seseorang dengan orang lain dalam rentang waktu dan ruang tertentu” (Kuper & Kuper, 2000 dalam Desmita 2013). Feldman (1996), mendefinisikan attachment sebagai “the positive emotional bond that develops between a child and a particular individual”. Menurut Seifert & Hoffnung (1994 dalam Desmita 2013), attachment adalah “an intimate and enduring emotional relationship between two people, such as infant and caregiver, characterized by reciprocal affection and a periodic desire to maintain physical closeness”. Kelekatan merupakan suatu ikatan emosional yang kuat antara dua individu. Ada cukup banyak teori mengenai kelekatan bayi. Freud, Erikson dan Bowlby mengajukan pandangan-pandangan teoritis yang berpengaruh dibidangnya. Menurut Freud, bayi semakin menjadi dekat dengan orang atau benda yang menyuguhkan kepuasan oral. Bagi kebanyakan bayi, kepuasan seperti ini tentu saja di dapat dari ibu yang paling sering memberi makanan kepada bayi. Dalam pandangan Erik Erikson (1968) mengenai perkembangan bayi satu tahun pertama kehidupan merupakan tahap munculnya kepercayaan vs ketidakpercayaan. Kenyamanan fisik dan perawatan yang peka merupakan hal yang esensial untuk mencapai kepercayaan dasar bayi. Selanjutnya kepercayaan pada masa bayi merupakan basis bagi kelekatan dan harapan seumur hidup bahwa dunia akan menjadi tempat yang baik dan menyenangkan untuk dihuni. Persepektif etologis dari John Bowlby juga menekankan pentingnya kelekatan pada tahun pertama kehidupan dan responsivitas dari pengasuh. Bowlby yakin bahwa bayi dan ibunya secara naluriyah membentuk suatu kelekatan. Ia menyatakan bahwa bayi yang baru lahir secara biologis diberi perlengkapan untuk membangkitkan prilaku kedekatan dengan ibunya. Bayi menangis, menempel, merengek dan tersenyum kemudian merangkak berjalan dan mengikuti ibunya, semua ini dilakukan bayi untuk mempertahankan kedekatannya dengan pengasuh utamanya. Dampak jangka panjangnya adalah meningkatkan peluang kelangsungan hidup bayi tersebut. Empat tahapan yang didasarkan konsep kelekatan Bowlby :
a. Indicriminate Sociability Terjadi pada anak yang berusia dibawah dua bulan. Bayi menggunakan tangisan untuk menarik perhatian orang dewasa, menghisap dan menggeram, tersenyumdan berceloteh digunakan untuk menarik perhatian orang dewasa agar mendekat padanya.
b. Discriminate Sociability Terjadi pada anak yang berusia dua hingga tujuh bulan. Pada fase ini bayi mulai dapat membedakan objek lekatnya, mengingat orang yang memberikan perhatian dan menunjukan pilihannya pada orang tersebut.
c. Spesific Attachment Terjadi pada anak yang berusia tujuh bulan hingga dua tahun. Bayi mulai menunjukan kelekatannya pada figur tertentu. Fase ini merupakan fase munculnya intensional behavior dan independent locomosi yang bersifat permanen. Anak untuk pertama kalinya menyatakan protes ketika figur lekat pergi.Anak sudah tahu orang-orang yang diinginkan dan memilih orang-orang yang sudah dikenal. Mereka mulai mendekatkan diri pada objek lekat. Anak mulai menggunakan kemampuan motorik untuk mempengaruhi olang lain.
d. Partnership Terjadi pada usia dua sampai seterusnya. Fase ini sama dengan fase egosentris yang dikemukakan Piaget. Memasuki usia dua tahun anak mulai mengerti bahwa orang lain memiliki perbedaan keinginan dan kebutuhan yang mulai diperhitungkannya. Kemampuan berbahasa membantu anak bernegoisasi dengan ibu atau objek lekatnya. Kelekatan membuat anak jadi lebih matang dalam hubungan sosial. Bowlby menamakan goal corrected partnership, hal ini membuat anak lebih mampu berhubungan dengan peer dan orang yang tidak dikenal.

C. Perbedaan Individual dalam Kelekatan Mary Ainsworth (dalam Crain, 2010) berpendapat bahwa selama tahun pertama, bayi memiliki pengalaman kelekatan yang lebih positif dibandingkan dengan bayi lainnya. Ia menciptakan situasi asing, yakni suatu metode observasi untuk mengukur kelekatan bayi berupa serangkaian perkenalan, perpisahan, dan reuni dengan pengasuh dan orang dewasa asing dalam urutan tertentu. Berdasarkan respon bayi dalam situasi asing para peneliti mendiskripsikan bayi memiliki kelekatan aman dan kelekatan tidak aman terhadap pengasuh diantaranya:
1. Insecurely Attached Avoidant Infant (Type A) Ditemukan pada 20% sampe penelitian. Anak menolak kehadiran ibu, menampakkan permusuhan, kurang memilik resiliensi ego dan kurang mengekpresikan emosi negatif (Cicchetti dan Toth, 1995). Selain itu anak juga tampak mengacuhkan dan kurang tertarik dengan kehadiran ibu (Dishion, French dan Patterson, 1995 dalam Ervika 2000).
2. Securely AttachedInfant (Type B) Ditemukan pada 70% subjek penelitian. Ibu digunakan sebagai dasar eksplorasi. Anak berada didekat ibu untuk beberapa saat kemudian melakukan eksplorasi, anak kembali kepada ibu ketika ada orang asing , tapi memberikan senyuman apabila ada ibu didekatnya. Anak merasa terganggu ketika ibu pergi dan menunjukan kebahagiaan ketika ibu kembali.
3. InsecurelyAttachedResinstant Infant (Type C) Ditemukan pada 10% sabjek penelitian. Menunjukkan keengganan untuk mengeksplorasi lingkungan. Tampak impulsive, helpless, dan kurang kontrol. Beberapa tampak selalu menempael pada ibu dan bersembunyi dari orang asing. Anak tampak sedih ketika ditinggal ibu dan sulit untuk tenang kembali meskipun ibu telah kembali. Mampu mengekspresikan emosi negatif namun denagn reaksi yang berlebihan.
4. Disorganized/ Disoriented Attached (Type D) Ini merupakan tipe keempat yang dihasilkan dari eksperimen yang dilakukan oleh Main, Hesse dan Solomon (dalam Dishion, French dan Patterson, 1995; Cummings, 2003). Ditemukan pada anak-anak yang mengalami salah pengasuhan (maltreated) dimana kekacauan emosi terlihat saat episode pertemuan kembali dengan ibu. Perilaku mereka tampak sangat tidak terorganisasi, mengalami konflik dalam dirinya serta menunjukkan kekhawatiran dan penolakan yang lebih besar pada ibu dibandingkan dengan orang asing. Atau bisa tonton di https://youtu.be/uSAPfiSw_Ic

D. Evaluasi Terhadap Situasi Asing Menurut Van Ijzendoorn dkk (1988), sebagai suatu cara untuk mengukur kelekatan. Situasi Asing mungkin mengandung bias budaya. Sebagai contoh bayi-bayi Jerman dan Jepang lebih memperlihatkanpola kelekatan dibanding bayi-bayi Amerika. Pola menghindar pada bayi-bayi Jerman cenderung lebih memperlihatkan pola kelekatan menghindar sementara bayi-bayi Jepang tidaklah memperlihatkan pola-pola ini sebanyak yang diperlihatkan oleh bayi-bayi Amerika.Menurut Grossman dkk (Santrock, 2013) pola menghindar pada bayi-bayi Jerman lebih banyak terjadi karena para pengasuh mendorong mereka untuk mandiri. Selain itu dibandingkan dengan bayi-bayi Amerika, bayi-bayi Jepang lebih banyak dikategorikan sebagai bayi yang menolak. Hal ini mungkin lebih berkaitan dengan situasi asing sebagai suatu metode untuk mengukur kelekatan. Para ibu di Jepang sedikit membiarkan orang yang tidak akrab untuk merawat bayinya. Dengan demikian, situasi asing mungkin dapat menciptakan lebih banyak sress untuk bayi-bayi Jepang dibandungkan untuk bayi-bayi Amerika yang lebih terbiasa dipisahkan dari ibunya Miyake, Chen, & Campos dalam Santrock, 2013). Menurut Thompson (2006) dan Van Ijzendoorn dkk (1988), meskipun terdapat variasi budaya dalam klasifikasi kelekatan, sampai sejauh ini klasifikasi yang paling sering dijumpai diberbagai budaya adalah kelekatan aman. E. Interpretasi Terhadap Perbedaan Kelekatan Ainsworth meyakini bahwa kelekatan yang aman dalam satu tahun pertama kehidupan memberikan landasan yang penting bagi perkembangan psikologis dikehidupan selanjutnya. Bayi dengan kelekatan aman dapat menjauh secara bebas dari ibunya namun masih tetap secara rutin memeriksa keberadaan ibunya. Bayi dengan kelekatan aman berespon positif ketika digendong oleh orang lain, dan ketika diletakan kembali, ia bisa menjauh secara bebas untuk bermain. Sebaliknya, seorang bayi dengan kelekatan tidak aman akan menghindari atau bersikap ambivalen terhadap orang asing, dan bingung pada setiap perpisahan kecil. Dalam sebuah studi longitudinal berskala luas yang dilakukan oleh Alan Sroufe dan rekan-rekannya, kelekatan aman diusia awal, diukur dengan Situasi Asing pada usia 12 dan 18 bulan, berkaitan dengan kesehatan emosional, tingginya harga diri, dan keyakinan diri serta kompetensi dalam interaksi sosial dengan teman, guru, konselor kampus, dan kekasih pada masa remaja. Baru-baru ini, metaanalisis menemukan bahwa kelekatan tidak teratur lebih kuat kaitannya dengan ekstemalisasi masalah (misalnya agresi, kekerasan, masalah oposisi) dibandingkan kelekatan menghindar dan kelekatan menolak (Fearon dkk, 2010 dalam Santrock 2013). Meskipun demikian, beberapa anak tidak memperlihatkan adanya kesinambungan seperti itu (Thompson, 2008 dalam Santrock 2013). Tidak semua penelitian menemukan bahwa kelekatan dimasa bayi dapat memprediksi rangkaian perkembangan selanjutnya. Dalam sebuah studi longitudinal, klasifikasi kelekatan di masa bayi tidak memprediksikan klasifikasi kelekatan diusia 18 tahun (Lewis, Feiring, Rosenthal, 1997 dalam Santrock 2013). Dalam studi ini, predictor terbaik dari klasifikasi yang tidak aman diusia 18 tahun adalah terjadinya perceraian orang tua. Pengasuhan positif yang diberikan secara konsisten selama kelekatan dimasa awal dengan bagaimana anak tersebut berfungsi dimasa perkembangan selanjutnya. Memang, para peneliti telah menemukan bahwa kelekatan yang aman di masa awal dan rangkaian pengalaman selanjutnya, khususnya pengasuhan ibu dan tekanan hidup, berkaitan dengan perilaku dan penyesuaian anak dikemudian hari (Thompson, 2008 dalam Santrock 2013). F. Gaya Pengasuhan dari Kelekatan Bayi-bayi dengan kelekatan aman memiliki pengasuh yang sensitive terhadap isyarat-isyarat yang mereka berikan dan secara konsisten hadir untuk memberikan respon terhadap kebutuhan mereka. Para pengasuh ini seringkali membiarkan bayi-bayinya berperan aktif dalam menentukan awal dan kecepatan interaksi ini di tahun pertama kehidupan.Sebuah studi menemukan bahwa sensitivitas maternal dalam pengasuhan berkaitan dengan kelekatan aman pada bayi didua budaya yang berbeda yaitu, Amerika Serikat dan Kolombia (Carbonel dkk, 2002).Meski sensitivitas maternal berkaitan positif dengan pengembangan kelekatan aman dimasa bayi, penting untuk mengingat bahwa kaitannya tidak begitu kuat (Campos, 2009 dalam Santrock 2013). Berlin & Cassidy menyebutkan bahwa pengasuh dari anak yang avoidant cenderung tidak selalu siap atau menunjukan penolakan. Seringkali mereka tidak merespon sinyal yang diberikan bayi atau hanya memberikan kontak fisik yang sedikit dengan bayi mereka. Ketika mereka berinteraksi dengan bayi mereka cenderung berinteraksi dengan cara marah atau kesal. Sedangkan pengasuh bayi resistant cenderung bersikap yang tidak konsisten, kadang-kadang mereka merespon kebutuhan bayi dan kadangkala tidak. Secara umum mereka cenderung tidak terlalu hangat terhadap bayi dan ketika berinteraksi cenderung tidak sinkron. Pengasuh dari disorganized seringkali menelantarkan atau bahkan melakukan kekerasa terhadap bayi mereka. Dalam banyak kasus, biasanya pengasuh yang mengalami depresi.

G. Kelekatan pada Orang Dewasa Meskipun relasi dengan pasangan berbeda dari relasi dengan orang tua, pasangan memenuhi sejumlah kebutuhan yang sama seperti yang dipenuhi oleh orangtua pada anak-anaknya (Shaver & Mikulincer, 2011 dalam Santrock 2013). Melalui sebuah studi retrospektif mengungkapkan bahwa orang dewasa yang menunjukan kelekatan yang aman dalam relasi romantisnya cenderung memiliki kelekatan yang aman dengan orangtua dimasa anak-anak. Meskipun demikian, dalam studi longitudinal lainnya, kaitan antara gaya kelekatan awal dengan gaya kelekatan dimasa selanjutnya diperlemah oleh pengalaman yang menekan dan sangat merugikan, seperti kematian orangtua atau ketidakstabilan pengasuh (Lewis dakk dalam Santrock 2013). Para peneliti juga mempelajari kaitan antara gaya kelekatan orang dewasa dengan berbagai aspek kehidupan lainnya dari orang dewasa tersebut. Orang dewasa yang mempunyai kelekatan yang aman lebih puas dengan relasi dekatnya dibandingkan orang dewasa dengan kelekatan tidak aman. Disamping itu, relasi orang dewasadenagn kelekatan yang aman, cenderung diwarnai oleh kepercayaan, komitmen, dan usia yang panjang (Feney dalam Santrock 2013). Ulasan sebuah penelitian atas wawancara kelekatan 10.000 orang dewasa mengungkapkan bahwa ketidakamanan kelekatan berkaitan perilaku marah. Ulasan lebih lanjut dari Shaver (dalam Santrock 2013) juga menyimpulkan bahwa ketidakamanan kelekatan menempatkan pasangan pada masalah relasi. Para peneliti juga menemukan bahwa ketika pasangan sama-sama memiliki pola kelekatan pencemas, pasangan tersebut biasanya menciptakan ketiidakpuasan dalam pacaran dan bisa mengarah pada saling mengancam dan menyerang dalam relasi (cemas dan menghindar).

H. Kritikan terhadap Teori Kelekatan Teori kelekatan Bowlby dan Ainsworth agaknya menomorduakan konteks sosial yang terdapat pada dunia bayi. Kondidsi lingkungan dimana tempat bayi dilahirkan, termasuk sistem sosial kemasyarakatan dan sistem budaya turut mempengaruhi sifat dasar dari kelekatan. Di dalam budaya Jawa terutama di desa, saudara kandung dan nenek turut merawat bayi. Dalam budaya agraris kakak kandung diberi tugas untuk merawat bayi. Meskipun demikian, ada tidaknya kelekatan yang aman merupakan hal penting yang sepantasnya menjadi perhatian, khususnya pengasuh tunggal. Kelekatan pada masa bayi tetap merupakan hal yang penting karena mencerminkan relasi antara orangtua-bayi yang psotif dan memberikan perkembangan sosioemosional yang sehat diperkembangan selanjutnya.


Senin, 21 Mei 2018

Psikologi Pendidikan (Inteligensi dan Kreativitas)

INTELIGENSI DAN KREATIVITAS


Untuk Memenuhi Mata Kuliah Psikologi Pendidikan

OLEH

KELOMPOK 3

          1. NURUL AULIA FITRA 1730306023
               2. RAUDHATUL FHADILLA 1730306026
 3. RINDU ALDINA 1730306028
    4. SOFHIA MARJENI 1730306030
5. TUTI MARLENI 1730306034






DOSEN PEMBIMBING :
Dra. DESMITA, M. Si
DANI YOSELISA, M. Si., Psikolog



JURUSAN PSIKOLOGI ISLAM
FAKULTAS USULUDIN ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BATUSANGKAR
TAHUN 2018




DAFTAR ISI 



DAFTAR  ISI………………………………………………………………………...i
A. Inteligensi
1. Definisi Inteligensi…………………………………………………..……...............1
2. Factor yang Mempengaruhi Inteligensi…………………………………...................3
3. Bentuk-bentuk Inteligensi………………………………………………..................4
4. Pengukuran Inteligensi………………………………………………...............…....5
5. Upaya Peningkatan Kecerdasan……………………………………..............……..6
B. Kreativitas
1. Pengertian Kreatifitas………………………………………………….....................7
2. Factor-faktor yang Mempengaruhi Kreatifitas………………………….....................8
3. Tipe Kreatifitas………………………………………………………................….10
4. Mengembangkan Sikap Kreatifitas……………………………………....................11
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................ii

BAB I
PEMBAHASAN

A. INTELIGENSI
1. Defenisi Inteligensi
Istilah inteligensi berasal dari kata Latin “intelligere” yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain (to organize, to relate, to bind together) (Walgito, 1997 dalam Khodijah 2014). Inteligensi sering diartikan dengan kecerdasan. Istilah “cerdas” sendiri sudah lazim dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bila seseorang tahu banyak hal, mampu belajar cepat, serta berulang kali dapat memilih tindakan yang efektif dalam situasi yang rumit, maka disimpulkan bahwa ia orang yang cerdas. Meski fenomena yang dipelajari sama, namun para psikolog yang mempelajari inteligensi memberikan pengertian yang berbeda-beda. Berikut ini beberapa definisi tentang inteligensi yang dikemukakan oleh para ahli:
a. William Stern, menyatakan bahwa inteligensi adalah daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan mempergunakan alat-alat berpikir menurut tujuannya. Orang yang inteligensinya tinggi akan lebih cepat dan lebih tepat di dalam menghadapi masalah-masalah baru dibandingkan dengan orang yang inteligensinya rendah.
b. Edward L. Thorndike mengatakan bahwa intelligenceis demonstrable in ability of the individual to make good responses from the stand point of truth or fact, artinya inteligensi ditunjukkan dengan kemampuan individual untuk memberikan respons yang tepat atas dasar kebenaran atau fakta (Skinner, 1959 dalam Khodijah 2014). Orang dianggap memiliki inteligensi tinggi bila responsnya merupakan respons yang tepat terhadap stimulus yang diterimanya. Kemampuan untuk memberikan respons yang tepat ini ditentukan oleh pengalaman.

c. Terman mengemukakan bahwa inteligensi adalah the ability to carry on abstract thinking, artinya kemampuan untuk berpikir abstrak (Harriman, 1995 dalam Khodijah 2014). Orang yang memiliki inteligensi tinggi akan lebih mampu berpikir secara abstrak dibandingkan orang yang memiliki inteligensi rendah.
d. L.J. Cronbach, dalam bukunya yang berjudul Essential of Psychological Testing, mendefinisikan inteligensi sebagai efektivitas menyeluruh dalam aktivitas yang diarahkan oleh pikiran.
e. Freeman (1962) memandang inteligensi sebagai: 1) capacity to integrate experiences and to meet a new situation by means of appropriate and adaptive response (kapasitas untuk memadukan pengalaman dan menghadapi situasi baru dengan pengertian yang tepat  dan respons yang adaptif), 2) capacity to learn (kapasitas untuk belajar), 3) capacity to perform tasks regarded by psychologists as intellectual (kapasitas untuk melaksanakan tugas-tugas psikologis secara intelektual), dan 4) capacity to carry on abstact thinking (kapasitas untuk berpikir abstrak).
f. Sternberg mendefinisikan inteligensi sebagai tiga dimensi, yaitu: 1) kapasitas untuk memperoleh pengetahuan, 2) kemampuan untuk berpikir dan logika dalam bentuk abstrak, dan 3) kapabilitas untuk memecahkan masalah.
g. Murphy dan David Shofer menyatakan bahwa inteligensi mengacu pada adanya perbedaan individual dalam mengerjakan tugas-tugas yang berkaitan dengan manipulasi, menampilkan kembali ingatan, evaluasi maupun pemrosesan informasi.
h. Anastasi menyatakan bahwa inteligensi adalah kombinasi dari kemampuan yang dipersyaratkan untuk bertahan hidup dan meningkatkan diri dalam budaya tertentu.
i. J.P Chaplin (1999) mendefinisikan inteligensi sebagai: 1) kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efktif, 2) kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif, dan 3) kemampuan memahami pertalian-pertalian dan belajar dengan cepat sekali.
Berdasarkan definisi-definisi yang dikemukakan oleh para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah kemampuan potensial umum untuk belajar dan bertahan hidup, yang dicirikan dengan kemampuan untuk belajar, kemampuan untuk berpikir abstrak, dan kemampuan memecahkan masalah.
2. Factor yang Mempengaruhi Inteligensi
Inteligensi dapat berubah sepanjang waktu. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa inteligensi berubah sebanyak dalam 28 point antara usia 2,5 tahun hingga 17 tahun, bahkan sepertujuh dari siswa dapat berubah hingga 40 point (McCall, Appelbaum & Hogarty, dalam Khodijah 2014). Perubahan ini dimungkinkan karena ada faktor-faktor yang memengaruhinya.
Para ahli psikologi berbeda pendapat tentang faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan inteligensi. Isu yang diperdebatkan adalah antara factor genetic dan factor lingkungan. Menurut sebagian ahli, inteligensi sepenuhnya ditentukan oleh factor genetic, sebagian ahli lain berpendapat bahwa perkembangan inteligensi dipengaruhi oleh factor lingkungan. Akan tetapi, sebagian besar ahli justru mengambil posisi di tengah, mereka meyakini bahwa inteligensi sesorang dipengaruhi oleh keduanya, yaitu pembawaan dan juga lingkungan.
Meski sebagian ahli telah sependapat bahwa factor yang memengaruhi perkembangan inteligensi adalah factor genetic dan lingkungan. Akan tetapi, mereka tetap berbeda pendapat tentang berapa banyak yang disumbangkan oleh masing-masing factor atau sejauh mana factor-faktor tersebut berpengaruh. Menurut sebagian ahli, factor yang paling dominan berpengaruh terhadap inteligensi adalah factor pembawaan. 
Hal ini dapat dipahami karena orang yang terlahir dengan inteligensi yang sangat rendah tidak mungkin ditingkatkan meski dengan lingkungan dan teknik pendidikan sebaik apapun. Akan tetapi, factor lingkungan juga berperan penting karena seorang anak yang terlahir sebagai jenius bila tidak mendapat pengasuhan dan pendidikan yang layak maka tidak akan menjadi jenius.
3. Bentuk-bentuk Inteligensi
Menurut Cattel-Horn-Carrol, yang selanjutnya akan disebut sebagai teori CHC, Inteligensi terbagi dua jenis yaitu:
a. Crystallized Intiligence yaitu intiligensia yang melibatkan pengetahuan dari proses pembelajaran sebelumnya yang berdasar pada fakta dan berakar pada pengalaman. Seiring waktu, semakin banyak pengalaman dan pengajaran yang diperoleh. Jenis intiligensia ini relative stabil dan tetap. Dengan kata lain, crystallized intiligence pun akan semakin kuat dan meningkat seiring bertambanya usia dan cenderung tidak berubah tingkatannya. 
b. Fluid Intelligence adalah kemampuan proses informasi secara cepat, hubungan berpikir dan ingatan dalam bentuk analogi, mengingat rangkaian angka dan kategorisasi (Turner dan Helms, 1995; Feldman, 2003, 2008 dalam Sarwono) atau melibatkan kemampuan berfikir secara logika dan abstrak serta memecahkan masalah dan mengurangi ketergantungan terhadap keterampilan tertentu serta pemahaman symbol dan kata-kata. Kecerdasan tipe ini dianggap merupakan refleksi dari kecerdasan yang sebenarnya karena diasumsikan tidak dipengaruhi factor pendidikan.

4. Pengukuran Inteligensi
Untuk mengetahui tingkat inteligensi seseorang tidak bisa hanya dengan berdasarkan perkiraan melalui pengamatan, akan tetapi harus  menggunakan alat khusus yang dinamakan tes inteligensi atau IQ (Intelligence Quotient). Orang yang dapat dipandang sebagai orang yang pertama-tama menciptakan tes inteligensi adalah Binet (Walgito, 1997 dalam Khodijah 2014).
Bagi masyarakat umum, istilah IQ sering kali disamakan dengan inteligensi, padahal keduanya berbeda. Inteligensi adalah kemampuan umum sesungguhnya yang dimiliki seseorang, akan tetapi IQ adalah suatu indeks tingkat relative inteligensi seseorang, setelah dibandingkan dengan orang lain yang seusia dengannya. Dengan demikian, IQ pada dasarnya hanyalah sebuah ukuran tingkat kecerdasan, dan bukan kecerdasan yang sebenarnya. Ukuran-ukuran yang biasanya digunakan untuk mengetahui tingkat inteligensi seseorang adalah sebagai berikut:

IQ Tafsiran
140- Berbakat 
120-140 Sangat superior
110-120 Superior
90-110 Normal; rata-rata
70-90 Normal yang tumpul
50-70 Moron
20-50 Imbesil
0-20 Idiot

Tes IQ ini banyak bentuknya. Beberapa tes menggunakan tipe item tunggal, contohnya Peabody Picture Vocabulary Test (untuk anak-anak) dan Raven Progressive Matrices (tes non verbal, yang membutuhkan penalaran induktif mengenai pola perseptual). Bentuk tes lain menggunakan tipe item yang bervariasi, verbal maupun non verbal, karena mengukur inteligensi umum. Tes inteligensi umum ini dapat menghasilkan skor untuk bagian-bagain (sub skor) maupun untuk total (global-tunggal). Contohnya tes Stanford-Binet dan tes Wechsler.
5. Upaya Peningkatan Kecerdasan
Montessori mengatakan bahwa ketika mendidik anak-anak kita hendaknya ingat bahwa mereka adalah individu-individu yang unik dan akan berkembang sesuai dengan kemampuan mereka sendiri. Pendekatan pendidikan usia dini yang paling tepat seuai dengan ciri-ciri psikologis, pendagogis, dan tahap perkembangan moral mereka adah pendekatan yang mengedepankan aspek-aspek aktivitas bermain, bernyanyi dan bekerja dalam arti berkegiatan.ketiga hal itu akan mengasah kecerdasan otak, kecerdasan emosi dan keterampilan fisik yang dilakukan dengan ceria, bebas, dan tanpa beban.
a. Bermain
Kak Seto Mulyadi dalam bukunya “Bermain itu penting” (dalam Wifilhani, 2009) menyebutkan bahwa bermain tidak bertentangan dengan kegiatan belajar. Justru sesuai dengan tahap perkembangan anak dan sangat membantu proses belajar anak.
Fungsi bermain pada anak usia dini adalah untuk merangsang perkembangan motoric anak, merangsang perkembangan bahasa anak, merangsang perkembangan hubungan social anak, mengembangkan kecerdasan emosi anak, mengembangkan kecerdasan nalar/ pikir anak, dan menembangkan keterampilan fisik dalam arti tangan anak-anak.
b. Bernyanyi
Bernyanyi merupakan salah satu unsur yang menciptakan kegembiraan dan suasana riang. Lagu dapat memperkuat tingakat pengendalian vocal anak dengan cara melatih pita suara dan otot-otot yang terlibat dalam kegiatan bernyanyi. Lagu-lagu yang dinyanyikan pada usia ini perlu mencakup pelatihan teknik berbicara, pengembangan kosa kata, dan penguatan kemampuan daya ingat.
c. Berkegiatan
Berdasarkan prinsip pembelajaran konstruktivisme disebutkan bahwa setiap anak berkemampuan untuk membangun pengetahuannya sendiri dengan aktivitas berpikir, merasakan, dan kegiatan fisik. Melakukan kegiatan seperti menggambar bebas alam sekitar, menghitung, membangun menara dengan balok kayu, menari perseorangan dan kelompok, berolahraga bersama dan sebagainya.

B. Kreativitas 
1. Pengertian Kreativitas
Kreativitas didefinisikan secara berbeda-beda oleh para pakar berdasarkan sudut pandangnya masing masing dan penekanan yang berebeda-beda pula.
Barron (1982) mendefinisikan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Guilford (1970) menyatakan bahwa kreativitas mengacu pada kemampuan yang mememdai ciri-ciri  seorang kreatif. Utami munandar (1992) mendefinisikan: “ktreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas dalam berfikir serta kemampuan untuk mengelaborasi suatu gagasan”. Rogers mendefinisikan kreativitas sebagai proses munculnya hasil-hasil baru kedalam suatu tindakan (Utami Munandar, 1992 dalam Desmita 2014).
Drevdahl mendefinisikan kreativitas sebagai kemampuan unruk memproduksi komposisi dan gagasan baru yang dapat berwujud aktivitas imajinatif atau sintesis yang mungkin melibatkan pembentukan pola-pola baru dan kombinasi dari pengalaman masa lalu yang dihubungkan dengan yang sudah ada pada situasi sekarang (Hurlock, 1978 dalam Desmita 2014). Jadi yang dimaksud dengan kreativitas adalah ciri-ciri khas yang dimiliki oleh individu yang menandai adanya kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang sama sekali baru atau kombinasi dari karya-karya yang telah ada sebelumnya menjadi suatu karya baru yang dilakukan melalui interaksi dengan lingkungannya untuk menghadapi permasalahan dan mencari alternatif pemecahannya melalui cara-cara berfikir divergen. 
2. Factor-factor yang Mempengaruhi Kreativitas
Pada mulanya, kreativitas dipandang sebagai faktor bawaan yang hanya dimilki oleh individu tertentu. Beberapa ahli mengemukakan factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kreativitas.
Utami munandar (1988 dalam Desmita, 2014) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas adalah: 
a. Usia 
b. Tingkat pendidikan orang tua
c. Tersedianya fasilitas 
d. Penggunaan waktu luang 
Clark (1983, dalam Desmita, 2014) mengkategorikan faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas kedalam dua kelompok, yakni faktor yang mendukung dan yang menghambat. Faktor-faktor yang mendukung kreativitas adalah: 
a. Situasi yang menghadirkan ketidaklengkapan beserta keterbukaan 
b. Situasi yang memungkinkan dan mendorong timbulnya banyak pertanyaan 
c. Situasi yang dapat mendorong dalam rangka menghasilkan sesuatu 
d. Situasi yang mendorong tanggung jawab dan kemandirian 
e. Situsi yang menekankan inisiatif diri untuk menggali, mengamati, bertanya, merasa, mengklasifikasikan, mencatat, menerjemahkan, memperkirakan, menguji, hasil mengji dan mengkomunikasikan.
Perhatian dari orang tua terhadap minat anaknya, stimulasi dari lingkungan sekolah dan motivasi diri. Sedangkan faktor-faktor yang menghambat berkembanganya kreativitas adalah  sebagai berikut:
a. Adanya kebutuhan akan keberhasilan, ketidakberatian dalam menanggung risiko atau upaya mengejar sesuatu yang belum diketahui. 
b. Konfromitas terhadap teman-teman kelompoknya dan teman sosial 
c. Kurang berani dalam melakukan eksplorasi, menggunakan imajinasi, dan penyelidikan.
d. Stereotip peran seks/ jenis kelamin 
e. Diferensisasi antara berkuda dan bermain 
f. Tidak menghargai terhadap fantasi dan khayalan 
Miller dan Gerard (Adams dan Gullota, 1979 dalam Desmita 2014) mengemukakan adanya pengaruh keluarga pada perkembangan kreativitas anak dan remaja sebagai berikut: 
a. Orang tua yang memberikan rasa aman 
b. Orang tua yang mempunyai berbagai macam minat pada kegiatan didalam dan diluar rumah 
c. Orang tua memberikan kepercayaan dan menghargai kemampuan anaknya 
d. Orang tua memberikan otonomi dan kebebasan kepada anak 
e. Orang tua mendorong anak agar dalam mengadakan sesuatu dilakukan dengan sebaik-baiknya 
Torrence (1981, dalam Desmita, 2014) mengemukakan lima bentuk interaksi orang tua dengan anak/ remaja yang dapat mendorong berkembangnya kreativitas, yakni: 
a. Menghormati pertanyaan-pertanyaan yang tidak lazim 
b. Menghormati gagasan imajinatif 
c. Menunjukkan kepada anak/ remaja bahwa gagasan yang dikemukakan itu bernilai 
d. Memberikan kesempatan kepada anak/ remaja untuk belajar atas prakarsanya sendiri dan memberikan reward  kepadanya 
Disamping mengemukakan interaksi yang dapat mendorong berkembangnya kreativitas itu, berdasarkan hasil penelitiannya yang mendalam, Torrence (1981) juga mengemukakan beberapa interaksi orang tua dengan anak (reamaja) yang dapat menghambat berkembangnya kreativitas, yaitu: 
a. Terlalu dini untuk mengeliminasi fantasi anak 
b. Membatasi rasa ingin tahu anak 
c. Terlalu menekankan peran berdasarkan perbedaan jenis kelamin (sexsual roles)
d. Terlalu banyak melarang anak 
e. Terlalu menekankan kepada anak agar memilki rasa malu 
f. Terlalu menekankan pada keterampilan verbal tertentu 
g. Sering memberikan kritik yang bersifat destruktif 
Jadi menurut Torrence (1981), interaksi antara orang tua dengan anak/ remaja yang dapat mendorong berkembangnya kreativitas bukanlah interaksi yang didasarkan atas situasi stimulus-respon, melainkan atas dasar hubungan kehidupan sejati (a living relationship) dan saling tukar pengalaman (coexperienceing). 
3. Tipe Kreativitas
Menurut para peneliti ada tiga tipe kreatif yang berbeda, yaitu:
a. Jenis pertama adalah membuat atau menciptakan. Penciptaan merupakan proses membuat sesuatu dari tidak ada menjadi ada.
b. Jenis yang kedua adalah mengombinasikan atau menyentesiskan dua hal atau lebih yang sebelumnya tidak saling berhubungan. Kenyataannya banyak penemuan yang memudahkan kehidupan kita hari ini, seperti telepon dan modem, diciptakan karena hasil sintesis.
c. Jenis yang ketiga adalah memodifikasi sesuatu yang memang sudah ada. Modifikasi ini berupaya untuk mencari cara-cara untuk membentuk fungsi-fungsi baru atau menjadikan sesuatu menjadi berbeda penggunaannya oleh orang lain.
4. Mengembangkan Sikap Kreativitas
Berikut ini adalah hal-hal yang dapat membantu mengembangkan kemampuan pribadi dalam program peningkatan kreativitas sebagaimana dikemukakan oleh James L. Adams (1986, dalam Supardi 2004):
a. Mengenali hubungan 
Untuk membantu meningkatkan kreativitas, kita dapat melakukan cara pandang kita yang statis terhadap hubungan orang dan lingkungan yang telah ada. Dari sini kita coba melihat mereka dengan cara pandang yang baru dan berbeda. Orang yang kreatif memiliki intuisi tertentu untuk dapat mengembangkan dan mengenali hubungan yang baru dan berbeda dari fenomena tersebut.
b. Pengembangan pespektif fungsional
Kita dapat melihat adanya suatu perspektif yang fungsional dari benda dan orang. Seseorang yang kreativ akan dapat melihat orang lain sebagai alat untuk memenuhi keinginannya dan membantu menyeleseikan suatu pekerjaan.
c. Gunakan akal
Fungsi otak pada bagian yang terpisah anatara kiri dan kanan telah dilakukan sejak tahun 1960-an. Otak bagian kanan dipakai untuk hal-hal seperti analogi, imajinasi dan lain-lain. Sedangkan otak bagian kiri dipakai untuk kerja-kerja seperti analisis, melakukan pendekatan yang rasional terhadap pemecahan masalah dan lain-lain. Meski secara fungsi ia berbeda, tapi dalam kerjanya ia harus saling berhubungan.
d. Hapus perasaan ragu-ragu
Kebiasaan mental yang membatasi dan menghambat pemikirn kreatif, diantaranya adalah sebagai beikut:
1) Pemikiran lain, perkembangan kehidupan sesorang banyak terpenuhi oleh hal-hal yang tidk pasti dan meragukan. Bagi orang yang kreatif lebih baik belajar menerima keadaan tersebut dalam hidupnya, bahkan mereka sering menemukan sesuatu yang berharga dalam kondisi tersebut.
2) Mencari selamat, dalam kehidupannya orang akan cenderung menghindari resiko seminimal mungkin, tetapi seorang inovator akan senang menghadapi resiko. 
3) Stereotype, seperti sudah ada ketentuan atau karakteristik tertentu untuk suatu hal, begitu pula halnya akan kesuksesanyang dapat diraih, karena asas stereotype ini, akan terlimitasi cara pandang dan persepsinya terhadap kemungkinan lain yang sebenarnya dapat diraih.
4) Pemikiran kemungkinan/ probabilitas, guna memperoleh keamanan dalam membuat keputusan, seseorang cenderung percaya kepada teori kemungkinan. Bila berlebihan, akan menghambat sesorang mencari kesempatan yang hanya akan datang sekali saja dalam hidupnya.
Desmita. 2014. Psikologi Pendidikan. Batusangkar: STAIN Batusangkar Press
Khodijah, Nyayu. 2014. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers
Sarlito, Sarlito W. 2017. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Pers
Supardi, Endang. 2004. Kiat Mengembangkan Sikap Kreatif dan Inovatif [Jurnal]. Jakarta: Indonesia University of Education dari https://mufari.files.wordpress.com diakses pada tanggal 19 Mei 2018
Wiflihani. 2009. Musik Sebagai Salah Satu Cara Untuk Meningkatkan Kecerdasan Anak [Skripsi]. Medan (ID): Universitas Negeri Medan dari digilib.unimed.ac.id diakses pada 19 Mei 2018

Minggu, 29 April 2018

Perkembangan emosi pada remaja

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Remaja berada dalam periode yang banyak mengalami masalah pertumbuhan  dan perkembangan, khususnya menyangkut dengan penyesuaian diri terhadap tuntutan lingkungan dan masyarakat serta orang dewasa. Kematangan hormon seks yang ditandai dengan datangnya menstruasi bagi remaja putri dan keluarnya mani melalui mimpi basah bagi remaja putra dapat menimbulkan kebingungan dan rasa cemas, khususnya apabila mereka belum disiapkan untuk menyikapi peristiwa tersebut secara positif.
Begitu juga dengan perubahan yang dialami tersebut akan berpengaruh terhadap perkembangan dan hubungan social remaja. Para remaja mulai tertarik pada lawan jenis, ketertarikan ini di satu sisi dapat menimbulkan konflik dalam diri mereka karena mungkin muncul perasaan malu, kurang percaya diri dan kebingungan dalam penyesuaian diri, agar bertingkahlaku seperti yang diinginkan orang dewasa.
Apabila mereka tidak mampu akan dianggap kurang matang, mereka akan dicela. Sebaliknya masyarakat terutama orang tua masih memperlakukan mereka sebagai anak-anak dan tidak diberi kesempatan untuk mandiri dalam mengambil keputusan tentang diri merekasendiri. Keadaan ini akan menimbulkan konflik dan perasaan tidak puas dalam diri remaja sehingga dapat menjadi sumber timbulnya emosi negative.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu pengertian emosi dan bentuk emosi?
2. Apa saja karakteristik dan gangguan emosi remaja?
3. Apa saja factor yang mempengaruhi emosi remaja?
4. Apa saja ciri-ciri remaja yang matang dan tidak matang?
5. Bagaimana kajian Islam tentang emosi remaja?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian emosi dan bentuk emosi.
2. Untuk mengetahui karakteristik dan gangguan emosi remaja.
3. Untuk mengetahui factor yang mempengaruhi emosi remaja.
4. Untuk mengetahui ciri-ciri remaja yang matang dan tidak matang.
5. Untuk mengetahui kajian Islam tentang emosi remaja.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Emosi dan Bentuk Emosi Remaja
1. Pengertian Emosi
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa emosi adalah suatu keadaan kejiwaan yang mewarnai tingkah laku. Emosi dapat juga diartikan sebagai suatu reaksi psikologis yang ditampilkan dalam bentuk tingkahlaku gembira, bahagia, sedih, berani, takut, marah, muak, haru, cinta dan sejenisnya. Hathersall (1985, dalam Fadhilah Syafwar, 2011), merumuskan pengertian emosi sebagai situasi psikologis yang merupakan pengalaman subjektif yang dapat dilihat dari reaksi wajah dan tubuh.
Keleinginna and Keleinginna (1981, dalam Fadhilah Syafwar, 2011) berpendapat bahwa emosi sering kali berhubungan dengan tingkah laku. Emosi sering didefinisikan dalam istilah perasaan (filling). Emosi juga berhubungan dengan respon-respon psikologis deperti sakit kepala, berkeringat, dan mau buang air. Dalam Santrock, 2007 (dalam Fadhilah Syafwar, 2011) emosi (emotion) sebagai perasaan, afek, yang terjadi ketika sesorang berada dalam sebuah kondisi atau sebuah interaksi yang penting baginya, khususnya bagi kesejahteraan.
2. Bentuk-bentuk emosi
Crider dan kawan-kawan (1983, dalam Fadhilah Syafwar, 2011) mengemukakan dua jenis emosi yaitu, emosi positif dan emosi negative. Emosi positif misalnya: gembira, bahagia, sayang, cinta dan berani. Emosi negative misalnya: benci, takut, marah, geram dan lain-lain. Emosi negative merupakan reaksi ketidakpuasan dan emosi positif merupakan kepuasan terhadap terpenuhinya kebutuhan yang dirasakan remaja. Apabila kebutuhan itu terpuaskan, maka remaja merasa senang, bahagia, dan gembira, sebaliknya apabila mereka tidak terpuaskan mereka menjadi kecewa, marah, cemas, takut dan sedih.


B. Karakteristik dan Gangguan Emosi Remaja
1. Karakteristik Emosi
Menurut Hurlock, 1980 (dalam Fadhilah Syafwar, 2011) remaja memiliki karakteristik pemunculan emosi yang berbeda bila dibandingkan dengan pada masa kanak-kanak maupun dengan orang dewasa. Emosi remaja seringkali meluap-luap, dan emosi negative mereka lebih mudah muncul. Keadaan ini lebih banyak disebabkan masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka, dan lingkungan yang menghalangi terpuaskannya kebutuhan tersebut.
Luella Cole (1963, dalam Fadhilah Syafwar, 2011) mengemukakan bahwa ada tiga jenis emosi yang menonjol pada periode remaja, yaitu:
a. Emosi Marah
Emosi marah lebih mudah timbul apabila dibandingkan dengan emosi lainnya dalam kehidupan remaja. Penyebab timbulnya emosi marah pada remaja ialah apabila mereka direndahkan, dipermalukan, dihina, atau dipojokan dihadapan kawan-kawannya. Remaja yang sudah cukup matang menunjukan rasa marahnya tidak lagi dengan berkelahi seperti pada masa kanak-kanak sebelumnya, tetapi lebih memilih menggerutu, mencaci atau dalam bentuk ungkapan verbal lainnya.
Remaja juga melakukan tindakan kekerasan dalam melampiaskan emosi marah, meskipun mereka berusaha menekankan keinginan untuk bertingkah laku seperti itu. Pada dasarnya remaja cenderung mengganti emosi kekanak-kanakan mereka dengan cara yang lebih sopan, misalnya dengan cara diam, mogok kerja, pergi keluyuran ke luar rumah, dan melakukan latihan fisik yang keras sebagai cara pelarian emosi marah mereka.
b. Emosi Takut
Jenis emosi lain yang sering muncul pada diri remaja adalah emosi takut. Ketakutan tersebut banyak menyangkut dengan ujian yang akan diikuti, sakit, kekurangan uang, rendahnya prestasi, tidak dapat pekerjaan atau kehilangan pekerjaan, keluarga yang kurang harmonis, tidak popular dilawan mata jenis,  tidak dapat pacar, memikirkan kondisi fisik yang tidak seperti diharapkan. Ketakutan lain adalah kesepian, kehilangan pegangan agama, perubahan fisik, pengalaman seksual seperti onani dan manstrubasi, selalu berkhayal, menemui kegagalan belajar di sekolah ataupun karier, berbeda dengan teman sebaya, takut terpengaruh teman yang kurang baik, diejek dan sebagainya.(Dra. Fadhilah Syafwar, 2011).
Menurut Luella Cole (1963, dalam Fadhilah Syafwar, 2011), ketakutan yang dialami selama masa remaja dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1) Ketakutan terhadap masalah atas sikap orang tua yang tidak adildan cenderung menolak di dalam keluarga.
2) Ketakutan terhadap masalah yang mendapatkan status, baik dalam kelompok sebaya maupun dalam keluarga.
3) Ketakutan terhadap masalah penyesuaian pendidikan atau pilihan pendidikan yang sesuai dengan kemampuan dan cita-cita.
4) Ketakutan terhadap masalah pilihan jabatan yang sesuai dengan kemampuan dan keinginan.
5) Ketakutan terhadap masalah-masalah seks.
6) Ketakutan terhadap ancaman keberadaan diri.
Pada saat akhir remaja dan saat memasuki perkembangan dewasa awal, ketakutan atu kecemasan yang baru muncul adalah menyangkut masalah keuangan, pekerjaan, kemunduran usaha, pendirian/ pandangan politik, kepercayaan/ agama, perkawinan dan keluarga. Remaja yang sudah matang akan berusaha untuk mengatasi masalah-masalah yang menimbulkan rasa takut.
c. Emosi Cinta
Jenis emosi yang menonjol pada remaja adalah emosi cinta. Emosi ini telah ada semenjak masa bayi dan terus berkembang sampai dewasa, sedangkan pada masa remaja rasa cinta diarahkan pada lawan jenis. Pada masa bayi rasa cinta diarahkan pada orang tua terutama kepada ibu. Pada masa kanak-kanak (3-5 tahun) rasa cinta diarahkan pada orang tua yang berbeda jenis kelamin, misalnya anak laki-laki akan jatuh cinta pada ibu dan anak perempuan pada ayah. Pada masa remaja arah dan objek cinta itu berubah yaitu terhadap teman sebaya yang berlawan jenis.
Remaja wanita yang mengalami perkembangan perasaan cinta yang normal adalah jika remaja mengarahkan rasa cintanya kepada pemuda sesama remaja. Demikian juga dengan remaja pria punya cinta normal mengarahkan cintanya kepada seorang gadis. Pada akhir remaja, mereka memilih satu lawan jenis yang paling disayangi. Perkembangan yang normal mengenal emosi cinta dapat disimpulkan sebagai berikut:
1) Objek cinta mula-mula adalah orang dewasa yang sejenis atau berbeda.
2) Kemudian objek cinta beralih pada teman sebaya yang sama jenis kelamin, yaitu pada masa pre-remaja.
3) Pada akhirnya remaja menjadikan teman sebaya sebagai objek cintanya.
2. Gangguan Emosi Remaja
Dari semua hal yang dialami oleh remaja dengan emosi negative tersebut, lebih lanjut dapat berkibat terjadi gangguan-gangguan emosional. Gejala gangguan emosional tersebut adalah:
1) Depresi atau sedih yang mendalam, biasanya akibat kesedihan yang tidak mendapat tanggapan dari orang lain atau tanggapan yang diterimanya justru meningkatkan kesedihan yang ada. Depresi dapat terjadi akibat kehilangan orang yang sangat dicintai atau kegagalan yang bertubi-tubi dialami.
2) Mudah pingsan, karena terlalu sensitive dan perasa, khususnya terhadap sesuatu yang menakutkan dan menyedihkan.
3) Mudah tersinggung, dan sensitive terhadap orang lain. Misalnya sesuatu yang dilihat, didengar atau direspon orang lain, dianggapi secara inpulsif.
4) Sering cemas, karena terlalu banyak memikirkan bahaya atau kegagalan. Apabila dihadapkan pada sesuatu tugas atau tujuan yang diharapkan orang lain yang terbayangkan bukannya keberhasilan dalam menjalankan tugas tersebut namun justru kegagalan yang akan ditemui.
5) Sering ragu-ragu dan memutuskan sesuatu dalam bertindak, kemungkinankarena terlalu banyak pertimbangan yang kadang-kadang tidak rasional.



C. Faktor yang Mempengaruhi Emosi Remaja
Munculnya emosi negative pada diri remaja disebabkan oleh berbagai hal. Hurlock (1980) dan Luella Cole (1963,dalam Fadhilah Syafwar, 2011) menyimpulkan factor penyebab yang menimbulkan emosi negative pada diri remaja, yaitu:
1. Orang tua atau guru memperlakukan mereka seperti anak kecil yang membuat harga diri mereka dilecehkan
2. Apabila dirintangi membina keakraban dengan lawan jenis
3. Terlalu banyak dirintangi daripada disokong
4. Disikapi secara tidak adil oleh orang tua
5. Merasa kebutuhan tidak terpenuhi oleh orang tua
6. Merasa disikapi secara otoriter
Berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi emosi remaja diatas, sesungguhnya pengalaman lingkunganlah yang dapat memberikan konstribusi terhadap remaja dibandingkan perubahan hormonal.
Kondisi emosi remaja yang bergejolak menyebabkan mereka menjadi nakal (sebutan terhadap emosi remaja yang dominan negatif dan merugikan dirinya dan orang lain). Remaja nakal biasanya mengalami gangguan emosi yang menyebabkan mereka bertingkah laku nakal, mereka merasa tidak puas, benci terhadap diri sendiri, dan tidak bahagia. Adapun gangguan emosi yang mereka alami adalah:
a) Merasa tidak terpenuhi kebutuhan fisik mereka secara layak, sehingga timbul ketidak puasan, kecemasan dan kebencian terhadap apa yang mereka alami
b) Merasa dibenci, di sia-siakan, tidak dimengerti dan tidak diterima oleh siapa pun termasuk orang tua mereka
c) Merasa lebih banyak dirintangi, dibantah dihina serta dipatahkan daripada disokong, disayangi dan ditanggapi khususnya ide-ide mereka
d) Merasa tidak mampu atau bodoh. Mereka merasa bodoh mungkin mereka tidak mengenal potensi mereka atau karena khayalan mereka semata
e) Merasa tidak menyenagi kehidupan keluarga mereka yang tidak harmonis seperti sering bertengkar
f) Merasa menderita karena iri terhadap saudara karena disikapi dan dibedakan secara tidak adil
Dari semua hal yang dialami oleh remaja dengan emosi negatif tersebut, lebih lanjut dapat berakibat terjadi gangggua-ganggguan emosional. Gejala gangguan emosional tersebut diantaranya:
a. Depresi atau sedih yang mendalam, biasanya akibat kesediahan yang tidak memndapat tanggapan dari orang lain atau tanggapan yang diterimanya justru meningkatkan kesedihan yang ada
b. Mudah pingsan, karena teralalu sensitif dan perasa, khususnya terhadap sesuatu yang menakutkan dan menyedihkan
c. Mudah tersinggung dan sensitif terhadap orangg lain. Misalnya sesuatu yang dilihat, didengar atau direspon orang lain.
d. Sering cemas, karena terlalu banyak memikirkan bahaya atau kegagalan
e. Sering ragu-ragu dan memutuskan sesuatu dalam bertindak, kemungkinan karena teralu banyak pertimbangan yang kadang-kadang tidak rasional

D. Ciri-ciri Emosi Remaja yang Matang dan yang Tidak Matang
1. Ciri-ciri remaja yang matang
a. Mandiri dalam arti emosional, yaitu bertanggung jawab atas masalahnya sendiri dan bertanggung jawab atas orang lain
b. Mampu menerima diri sendiri dan orang lain apa adanya. Mereka tidak cenderung menmyalahkan diri sendiri ataupun menyalahkan orang lain atas kegagalan yamg dialaminya
c. Mampu menampilkan ekspresi emosi sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada
d. Mampu mengendalikan emosi-emosi negatif sehingga pemunculannya tidak impulisve

2. Ciri-ciri remaja yang tidak matang
a. Cenderung melihat sisi negatif orang lain
b. Impulsif, kurang mampu mengendalikan emosi dan mudah emosional
c. Kurang mampu menerima diri sendiri dan orang lain apa adanya
d. Kurang mampu memahami orang lain dan cenderung untuk selalu minta dipahami orang lain

E. Kajian Islam tentang Emosi Remaja
Dalam perspektif islam, segala macam emosi dan ekspresinya diciptakan oleh Allah swt, melalui ketentuannya (dalam Sukring,2013). Emosi diciptakan oleh Allah swt, untuk membentuk manusia yang lebih sempurna, dalam Q.S An-Najm ayat 43-44 :
Dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis. Dan bahwasanya Dia-lah yang dan menghidupkan.
Dalam hadist yang diriwayatkan Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah saw, bersabda yang artinya:
Ingat, diantara mereka ada yang lamban dan cepat sadar, ada juga yang cepat marah dan cepat sadar, maka itu sebagai ganti yang itu. Ingat yang terbaik dari mereka adalah yang kamban marah tapi cepat sadar, ingat yang terburuk dari mereka adalah yang cepat marah dan lamban sadar. (HR. At-Tirmidzi)
Hadist diatas mengisyaratkan, adanya perbedaan gejolak emosional pada masing-masing individu, rasulullah saw membagi manusia berdasarkan gejolak emosinya menjadi tiga golongan yaitu:
1. Orang yang tidak mudah marah atau jarang sekali marah. Jika ia marah, ia segera meredam kemarahannya dan kembali menenangkan diri. Kelompok ini adalah golongan orang yang paling utama.
2. Orang cepat marah hanya gara-gara urusan remeh, tetapi juga bisa cepat meredam amarahnya.
3. Orang yang cepat marah dan tidak mudah menghentikan kemarahannya. Ia akan mampu meredam amarahnya jika sudah cukup lama berlalu. Kelompok ketiga inilah yang tergolong kelompok paling buruk.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa emosi adalah suatu keadaan kejiwaan yang mewarnai tingkah laku. Emosi dapat juga diartikan sebagai suatu reaksi psikologis yang ditampilkan dalam bentuk tingkahlaku gembira, bahagia, sedih, berani, takut, marah, muak, haru, cinta dan sejenisnya. Hathersall (1985, dalam Fadhilah Syafwar, 2011), merumuskan pengertian emosi sebagai situasi psikologis yang merupakan pengalaman subjektif yang dapat dilihat dari reaksi wajah dan tubuh.
Crider dan kawan-kawan (1983, dalam Fadhilah Syafwar, 2011) mengemukakan dua jenis emosi yaitu, emosi positif dan emosi negative. Emosi positif misalnya: gembira, bahagia, sayang, cinta dan berani. Emosi negative misalnya: benci, takut, marah, geram dan lain-lain. Emosi negative merupakan reaksi ketidakpuasan dan emosi positif merupakan kepuasan terhadap terpenuhinya kebutuhan yang dirasakan remaja. Apabila kebutuhan itu terpuaskan, maka remaja merasa senang, bahagia, dan gembira, sebaliknya apabila mereka tidak terpuaskan mereka menjadi kecewa, marah, cemas, takut dan sedih.
B. Saran
Dalam penyelesaiannya, makalah ini masih banyak memiliki kekurangan, akan tetapi penulis sudah berupaya menyelesaikan pembahasan dari makalah ini, untuk itu penulis meminta maaf kepada pembaca atas semua kekurangan, serta mohon kepada pembaca untuk memberikan kritik dan sarannya, agar makalah ini bisa disempurnakan kembali dalam penyelesaiannya.

LONELINESS (KESEPIAN)

A. Pengertian Kesepian Kesepian adalah perasaan terasing, tersisihkan, terpencil dari orang lain. Sering orang kesepian karena merasa berbed...