Senin, 20 Juli 2020

Kampung Tenun Lintau “Kelompok Tenun Batenggang di Banang Sahalai”

Kampung Tenun Lintau “Kelompok Tenun Batenggang di Banang Sahalai”

By: Nurul Aulia Fitra

Peran wanita di sektor Usaha Kecil dan Menengah umumnya terkait dengan bidang perdagangan dan industri pengolahan seperti: warung makan, toko kecil, pengolahan makanan dan industri kerajinan, karena usaha ini dapat dilakukan di rumah sehingga tidak melupakan peran wanita sebagai ibu rumah tangga. Meskipun awalnya Usaha Kecil dan Menengah yang dilakukan wanita lebih banyak sebagai pekerjaan sampingan umtuk membantu suami dan untuk menambah pendapatan rumah tangga, tetapi dapat menjadi sumber pendapatan rumah tangga utama apabila dikelola secara sungguh-sungguh (Priminingtyas, 2010; Hendrawati & Ermayanti, 2017).
Provinsi Sumatera Barat telah memiliki beberapa dokumen dan profil industri menurut cabang industri yang ada. Menurut database pendataan industri kecil dan menengah tahun 2009 terdapat di dalamnya beberapa cabang industri yang merupakan subsektor dalam klasifikasi sektor industri kreatif. Industri tersebut telah digolongkan menurut KBLI (Klasifikasi Baku Lapangan Industri) oleh Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Barat: industri bordir/ sulaman (Kode KBLI 17293) dan Pertenunan (Kode KBLI 17114). Kedua cabang industri tersebut termasuk dalam sektor industri kreatif yaitu kerajinan. Mengingat saat ini dunia industri telah berada pada era ekonomi gelombang ke empat untuk itu sangat diperlukan perumusan strategi pengembangan yang tepat agar industri kreatif potensial yang dapat bergeliat dalam era ekonomi kreatif gelombang keempat pada masa sekarang ini (Pusparini, 2011; Hendrawati & Ermayanti, 2017).
Bordir/ sulaman dan pertenunan merupakan bagian dari seni budaya yang dilahirkan secara turun temurun dalam masyarakat daerah Sumatera Barat, khususnya daerah Kabupaten Agam, Kabupaten Lima Puluh Kota, Kabupaten Tanah Datar, dan Kota Bukittinggi. Salah satu wilayah di Minang Kabau tepatnya di Jorong Tanjung Modang, Nagari Tanjung Bonai, Kecamatan Lintau Buo Utara, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat yang juga dikenal dengan nama Kampung Tenun Lintau. Kerajinan tenun tersebut bernama Kelompok Tenun Batenggang di Banang Sahalai. Awalnya, usaha kerajinan tenun tersebut merupakan usaha keluarga sejak 10 tahun lalu atau lebih, lalu seiring berjalannya waktu, ada teman-teman yang tertarik untuk bergabung membuat kerajinan tenun tersebut, sehingga terbentuk lah ide untuk membuat kelompok kerajinan tenun pada tahun 2013 dan Alhamdulillah masih aktif sampai sekarang. Kerajinan tenun merupakan kerajina yang menggunakan teknik membuat struktur dengan cara menyilangkan benang pakan dan benang lungsi/ lusi. 
Kenapa dinamakan dengan Kelompok Tenun Batenggang di Banang Sahalai?
Nama unik tersebut merupakan ide dari tujuh orang pencetus pendiri kelompok kerajinan tenun. Mereka berpikir bahwa kehidupan manusia ibaratnya berjalan di atas sehelai benang, kita sebagai seorang manusia bagai menjalani kehidupan di atas sehelai benang dalam kehidupan sehari-sehari. Batenggang artinya tempat kita bertenggang mencari kehidupan, di situ lah kita hidup. Jadi dinamakan lah kelompok tenun ini dengan kelompok tenun Batenggang di Banang Sahalai.
Kelompok tenun Batenggang di Banang Sahalai ini diketuai oleh Ibu Dewi. Beliau berusia 40 tahun dan berperan sebagai seorang ibu untuk kedua anaknya. Di awal terbentuknya kelompok kerajinan tenun ini, mereka membuat SK (Surat Keputusan) lalu mereka menapatkan bantuan modal dari PNPM sebesar Rp. 104.000.000,- (Seratus Empat Juta Rupiah). Lalu pada tahun 2016, kelompok kerajinan tenun ini mendapat bantuan dana dari bank BRI (Bank Rakyat Indonesia) untuk membuat gerbang nama pengenal kelompok tenun mereka, tujuannya dibuat gerbang dengan nama Kampung Tenun Lintau yang merupakan sebagai pengenal atau pemberitahuan kepada orang-orang bahwa di daerah atau di jorong tersebut masih dapat ditemukan budaya lokal tentang kerajinan tenun yang diproduksi sendiri secara manual oleh ibu-ibu di lokasi tersebut, serta memudahkan orang-orang untuk menemukan lokasi tempat kerajinan tenun Batenggang di Banang Sahalai.
Di awal terbentuk kelompok kerajinan ini, setelah di SK kan, mereka memiliki anggota sebanyak 25 orang, namun sampai saat ini anggota kelompok kerajinan tenun yang masih aktif hanya sekitar 11 orang saja. Hasil kerajinan tenun yang diproduksi di tempat ini adalah songket dan dasar baju. Untuk pengerjaan satu pasang songket memerlukan waktu 20 hari sampai 30 hari, yang dikerjakan oleh satu orang. Sedangkan untuk satu stel dasar baju memakan waktu pengerjaan selama tujuh sampai 10 hari oleh satu orang pekerja. 
Dalam sekali pengerjaan, biaya untuk satu pasang songket adalah bervariasi, biasanya Rp. 1.200.000,- (Satu Juta Dua Ratus Ribu Rupiah) atau Rp. 1.500.000,- (Satu Juta Lima Ratus Ribu Rupiah). Sedangkan omset yang didapat oleh satu orang untuk satu pasang tenun selama satu bulan adalah sebanyak Rp. 2000.000,- (Dua Juta Rupiah) sampai Rp. 2.500.000,- (Dua Juta Lima Ratus Ribu Rupiah). Lalu omset sebulan yang didapat oleh kelompok ini adalah sekitar Rp. 5.000.000,- (Lima Juta Rupiah). 
Kesulitan yang ditemukan dalam kerajinan tenun ini oleh kelompok tenun batenggang di Banang Sahalai adalah pada pemasaran dan pemodalan, kadang-kadang dalam satu bulan, hasil tenunan dari kelompok tenun ini terjual sebanyak dua atau tiga pasang, atau bahkan nol atau tidak ada sama sekali, dikarenakan pemasaran produk yang belum pasti. Melihat penjualan produk yang belum pasti setiap bulannya, ibu Dewi dan teman-temannya berinisiatif untuk menyimpan dana (safety) supaya nanti ke depannya jika tidak ada terjual dalam sebulan itu, mereka dapat menggunakan uang yang tersimpan tersebut dijadikan modal untuk membeli bahan-bahan pembuatan songket dan dasar baju. 
Dalam pembelian alat-alat pembuatan songket dan dasar baju, kelompok tenun ini mendapatkan bantuan dana dari PNPM dan BRI, namun untuk bahan-bahannya, seperti benang merupakan modal sendiri dari anggota kelompok kerajinan tenun. Alat-alat yang dibutuhkan dalam pembuatan songket tersebut adalah (Murnayati, dalam Devi, 2015):
Suri, yaitu kawat yang agak kasar dan kuat disusun rapat, alat ini tergantung pada tali karok. Pada setiap benang yang terentang di alat tenun akan melalui susunan kawat ini satu persatu.
Karok, yaitu alat yang mirip dengan suri hanya saja terbuat dari benang nilon. setiap benang terentang untuk disusun harus melalui karok ini. Karok terdiri dari dua macam, yakni sebagai pengatur benang lungsi yang di bawah dan pengatur benang lungsi yang di atas.
Palantah atau panta, yaitu sebuah tempat duduk bagi penenun yang terbuat dari kayu menyerupai bangku Panjang. Kata panta berasal dari kata palanta yang berarti balai tempat duduk.
Paso, yaitu alat penggulung kain yang telah ditenun akan tetapi belum dipotong dari benang pembuat dasar kain, paso ini berbentuk bulat Panjang yang terbuat dari kayu.
Penggulung benang yaitu kayu berbentuk bulat dan memanjang di depan alat tenun, berfungsi sebagai penggulung benang yang terentang untuk ditenun.
Arang babi, yaitu sebagai penyangga penggulung benang yang belum ditenun
Kaminggang, alat berupa penyangga palantah dan bersambungan dengan arang babi
Tijak-tijak, alat yang cara penggunaannya diinjak oleh kaki si penenun, berfungsi untuk merapatkan atau mengencangkan helai-helai benang ketika membuat motif.
Atua kawa, yaitu tempat masuknya karok
Kudo-kudo, adalah alat yang digunakan untuk mengikatkan karok guna mempermudah proses menarik turunkan benang.
Tandayan, adalah tali karok
Langan-langan, yakni tempat bergantungnya tali karok dan tali suri yang terbuat dari kayu.
Pakan yaitu benang yang terentang pada alat tenun yang menjadi dasar dari kain songket.
Tughak atau turak adalah alat yang terbuat dari sepotong bambu yang dipotong dan diberi lubang ditengahnya, sebagai alat bantu untuk memindahkan benang dari sisi sat uke sisi lainnya.
Pancukia, alat yang digunakan untuk mengatur motif
Palapah alat yang tebuat dari bambu yang salah satu ujungnya diruncingkan. Berfungsi untuk menyangggah kain yang telah dijungkit, kemudian dimasukkan lidi sebelum disanggah yang sesuai dengan motif yang dibentuk.
Sangka, penyangga kain yang sudah ditenun, terletak di bawah paso
Lidi, alat yang berfungsi untuk membuat dan mengatur motif
Kasali, berfungsi sebagai penggulung benang pembuat motif dan benang tambahan yang selanjutnya dimasukkan ke dalam turak
Sedangkan untuk bahan-bahannya adalah benang lungsi/ lusi (bahan dasar), benang tersebut ukuran satuannya disebut palu. Sedangkan hiasannya (songket) berupa benang ameh (emas) yang menggunakan benang Makao atau benang India. Wah, nama alatnya unik-unik ya.
Hal yang pertama dilakukan sebelum menenun adalah menentukan warna, lalu menentukan motif, dan terakhir langsung pengerjaan. Sedangkan Christyawaty dan Ernatip (dalam Devi, 2015) membagi proses pembuatan tenun menjadi tiga tahap, yakni tahap persiapan yaitu menyiapkan seluruh benang yang akan digunakan sesuai dengan motif yang akan dibuat, tahap pengerjaan sampai pada tahap terakhir yakni tahap penyelesaian. Lama tidaknya pembuatan suatu tenun songket, selain bergantung jenis pakaian yang dibuat dan ukurannya, juga kehalusan dan kerumitan motif songketnya. Semakin halus dan rumit motif songketnya, akan semakin lama pengerjaannya. Pembuatan sarung atau kain misalnya, bisa memerlukan waktu kurang lebih satu bulan. Bahkan, seringkali lebih dari satu bulan karena setiap harinya seorang pengrajin rata-rata hanya dapat menyelesaikan kain sepanjang 5-10 cm. Dalam pemeliharaan kain songket tidak boleh dilipat akan tetapi digulung dengan kayu bulat yang berdiameter 5 cm. Hal ini bertujuan untuk menjaga agar bentuk motifnya tetap bagus dan benang emas-nya tidak putus, sehingga songketnya tetap dalam keadaan baik dan rapi dan bertahan lama.

(gambar alat-alat penenunan)

Untuk peminat dalam pembelian hasil produksi kerajinan tenunan ini, pada umumnya adalah pasangan yang telah menikah atau berkeluarga. Hasil produk tenunan ini di jual di dalam kota, luar kota, seperti ke Jakarta, dan pernah ke luar negeri. Seperti dibeli sebagai cendera mata oleh orang untuk ke Jepang, serta pernah juga turis yang datang ke kampung tenun Batenggang di Banang Sahalai untuk membeli songket dan dijadikan oleh-oleh untuk di bawa pulang.
Dalam pembuatan songket atau pun dasar baju, terkadang ibu Dewi dan teman-temannya merasa jenuh atau bosan juga dalam pengerjaannya, ketika rasa bosan dan jenuh itu datang, mereka mengatasinya dengan cara istirahat atau berhenti sebentar untuk merefreshkan pikiran, jika telah relaks dan tenang, baru memulai kembali pengerjaaan songket atau pun dasar baju. 
Harapan dari ibu Dewi selaku ketua kelompok kerajinan tenun Batenggang di Banang Sahalai yaitu kelompok tenun ini semakin maju dan lebih diperhatikan oleh pemerintah setempat tentang pemasarannya serta pengadaan pelatihan-pelatihan atau swadaya manusia, misalnya pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kreativitas kelompok tenun. Selama ini, jika mereka ingin ikut pelatihan-pelatihan tentang tenunan, mereka harus pergi keluar dulu, baru bisa ikut pelatihan. Dan semoga saja pemerintah daerah setempat lebih memperhatikan kelompok tenun ini, karena dengan begitu kelompok tenun ini tetap dapat bertahan dan semakin dikenal oleh masyarakat yang lebih luas lagi.
Hasil-hasil songket dari kelompok tenun Batenggang di Banang Sahalai







DAFTAR KEPUSTAKAAN

Devi, S. (2015). Sejarah dan Nilai Songket Pandai Sikek. Jurnal Ilmu Sosial Mamangan, Vol. 2 No. 1, 24-25.

Hendrawati, & Ermayanti. (2016). Wanita Perajin Tenun Tradisional di Nagari Halaban Kecamatan Lareh Sago Halaban Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Jurnal Antropologi: Isu-isu Sosial Budaya, Vol. 18 no. 2, 69-71.

#KKNIAINBATUSANGKAR2020
#KKNDRIAINBATUSANGKAR2020

Minggu, 12 Juli 2020

Peran Psikologi Klinis Terhadap Pendemi Covid 19

Peran Psikologi Klinis Terhadap Pendemi COVID-19
By: Nurul Aulia Fitra


Pada saat ini, dunia sedang dilanda oleh wabah penyakit yang disebabkan oleh menyebarnya virus Corona atau Corona Virus Disease (COVID-19). Hal tersebut dikhawatirkan berdampak pada psikologis masing-masing individu. Pemberitaan mengenai meningkatnya jumlah penderita COVID-19, bisa memiliki dampak serius seperti timbulnya perasaan tertekan, stress, panik, paranoid, dan cemas (anxiety) di kalangan masyarakat. Menurut salah seorang dosen Program Studi (Prodi) Psikologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Rini Setyowati (dalam Galamedianews.com) mengatakan bahwa “Pemberitaan yang simpang siur atau kurang tepat, dapat memicu stress yang dapat mempengaruhi hormom stress. Sehingga mengakibatkan system imun seseorang menurun dan rentan tertular COVID-19”.
Virus Corona atau COVID-19 yang terus merebak di dunia termasuk di Indonesia, tidak hanya menimbulkan gejala penyakit fisik saja, tetapi juga perlu diwaspadai dampak psikologisnya, baik pada penderita maupun masyarakat luas. Bagi penderita, dampak psikologisnya bisa berupa perasaan tertekan, stress, cemas atau khawatir secara berlebihan, ketika privasinya atau identitasnya diketahui public sehingga berdampak pada diasingkan oleh lingkungan sekitarnya. Akibatnya, reaksi yang timbul bagi penderita yaitu tidak jujur dengan riwayat penyakitnya. Tidak ingin menyampaikan kepada tenaga medis ia melakukan perjalanan kemana sebelumnya dan apakah pernah kontak dengan penderita COVID-19. Selain itu reaksinya juga bisa penderita merasa cemas atau khawatir dengan hasil tes yang lama keluar setelah perawatan medis.
Reaksi masyarakat terhadap penyebaran COVID-19 yang meluas juga bisa berupa proteksi secara berlebihan terhadap diri sendiri maupun keluarganya. Contohnya, mencuci tangan berulang kali, membersihkan rumah dan lingkungan secara terus-menerus. Hal ini dapat menimbulkan gejala obsesif-compulsif, yaitu gangguan mental yang menyebabkan penderita harus melakukan suatu tindakan secara berulang-ulang. Jika tidak dilakukan, individu tersebut akan terus diliputi kecemasan dan ketakutan yang berlebihan. 
Terdapat dua macam coping dalam mengantisipasi dampak psikologis terhadap COVID-19, yaitu: 1) coping adaptif, yaitu cara mengatasi masalah yang adaptif baik penderita maupun masyarakat luas. Perasaan khawatir, tertekan, dan cemas, jika diolah secara tepat bisa mengarahkan individu kepada reaksi melindungi diri dengan tepat dan meningkatkan religiusitas individu. Coping inilah yang sangat penting dilakukan oleh setiap individu. 2) coping maladaptive, yaitu kebalikan dari coping adaptif, yang mana strategi coping-nya dapat mengakibatkan individu mengalami distress, cemas, gejala obsesif kompulsif atau permasalahan psikologis lainnya (dalam galamedianews.com).
Kondisi ini juga dapat menimbulkan panic buying, merupakan mekanisme psikologis ketika menghadapi ketakutan dan ketidakpastian atau sebuah fenomena yang terjadi dalam krisis yang dapat meingkatkan harga-harga dan mengambil barang-baarang penting dari tangan orang-orang yang sebenarnya jauh lebih membutuhkan, seperti masker wajah dan mulut untuk para tenaga kesehatan. Hal ini diakibatkan oleh ketakutan akan hal yang tidak diketahui, dan mempercayai bahwa peristiwa dramatis memerlukan tanggapan yang dramatis pula, yang mana dalam kasus ini tanggapan terbaik sebenarnya adalah sesuatu yang biasa saja, seperti mencuci tangan (dalam BBC News Indonesia). 
Di sini lah peran Psikologi klinis atau praktisi-praktisi psikologi klinis diperlukan, yang mana mereka dapat mendukung kesejahteraan mental banyak pihak, diantaranya:
Pasien yang telah dinyatakan positif COVID-19 dan keluarga, yang ada di ruang UGD dan isolasi.
ODP yang dikarantina
PDP yang di isolasi dan keluarga
Tenaga medis dan kesehatan
Pemerintah,
Pelajar yang belajar dengan sistem daring 
Perantau yang jauh dari keluarga
Masyarakat di wilayah yang terpapar, dan
Masyarakat yang sehat.
Psikolog klinis dapat memberikan sesi konseling kepada semua lapisan masyarakat secara langsung maupun tidak langsung. Paraktisi-praktisi psikologi klinis dapat juga membuat konten tentang relaksasi ataupun cara-cara untuk tetap tenang di tengah wabah virus Corona, lalu mengunggahnya di berbagai media social. Psikolog klinis juga bisa membantu masyarakat luas dengan cara melakukan sesi konseling menggunakan media social, seperti di Instagram, WhatsApp, Telegram, dll. Hal ini dapat mengurangi kepanikan, kekhawatiran serta kecemasan yang dirasakan masyarakat di tengah wabah virus Corona ini, serta ditambah adanya physical distancing yang mengakibatkan individu yang biasanya banyak beraktivitas di luar rumah menjadi di dalam rumah, dan tentunya ini sangat mempengaruhi kesehatan mental individu. Sehingga kesehatan fisik dan mental harus tetap terjaga bagi semua masyarakat, siapapun itu tanpa terkecuali.
Dalam pelayanan kesehatan, psikolog klinis bisa berkolaborasi dengan tenaga kesehatan dalam memudahkan proses karantina pasien di ruangan isolasi sehingga pasien merasa terkuatkan dan tidak mengalami kondisi traumatis. Psikolog klinis harus berperan aktif di tengah masyarakat yang berusaha keras mempertahankan diri dan membutuhkan validasi optimisme. Sebab strategi-strategi dalam menghadapi pandemic dapat menyebabkan timbulnya berbagai efek psikologis dan perilaku tidak nyaman. Respon umum yang dapat terjadi misalnya, insomnia, kecemasan, takut akan terjangkit, keinginan berlebih untuk makan, pesimisme, dan merokok. Anak-anak dan remaja dapat menolak isolasi social dengan perilaku agresif yang dapat diartikan sebagai acting out. 
Hal ini sejalan dengan salah satu teori tentang perilaku, yaitu teori behaviorist. Teori ini mempelajari perilaku manusia. Perspektif behavioral berfokus pada peran dari belajar dalam menjelaskan tingkah laku manusia dan terjadi melalui rangsangan berdasarkan (stimulus) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respons) hukum-hukum mekanistik. Asumsi dasar mengenai tingkah laku menurut teori ini adalah bahwa tingkah laku sepenuhnya ditentukan oleh aturan, bisa diramalkan, dan bisa ditentukan. Menurut teori ini, seseorang terlibat dalam tingkah laku tertentu karena mereka telah mempelajarinya, melalui pengalaman-pengalaman terdahulu, menghubungkan tingkah laku tersebut dengan hadiah. Seseorang menghentikan suatu tingkah laku, mungkin karena tingkah laku tersebut belum diberi hadiah atau telah mendapat hukuman. Karena semua tingkah laku yang baik bermanfaat ataupun yang merusak, merupakan tingkah laku yang dipelajari.
Jadi, behaviorisme sebenarnya adalah sebuah kelompok teori yang memiliki kesamaan dalam mencermati dan menelaah perilaku manusia yang menyebar di berbagai wilayah, selain Amerika teori ini berkembang di daratan Inggris, Perancis, dan Rusia. Menurut Watson (dalam Amalia & Fadholi, 2019) stimulus dan respons tersebut harus berbentuk tingkah laku yang bisa diamati (observable), mengabaikan berbagai perubahan mental yang mungkin terjadi dalam belajar dan menganggapnya sebagai faktor yang tidak perlu diketahui. Bukan berarti semua perubahan mental yang terjadi dalam benak individu tidak penting. Semua itu penting. Akan tetapi, faktor-faktor tersebut tidak bisa menjelaskan apakah proses belajar sudah terjadi atau belum.
Hanya dengan asumsi demikianlah, menurut Watson, dapat diramalkan perubahan apa yang bakal terjadi pada individu. Hanya dengan demikian pula psikologi dan ilmu belajar dapat disejajarkan dengan ilmu lainnya seperti fisika atau biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empiris. Berdasarkan uraian ini, penganut aliran tingkah laku lebih suka memilih untuk tidak memikirkan hal-hal yang tidak bisa diukur, meskipun mereka tetap mengakui bahwa hal itu penting. Jadi, dapat dilihat, setelah penyebaran COVID-19 ini banyak masyarakat yang telah mengubah kebiasaan buruknya menjadi lebih baik, seperti mencuci tangan dan tetap menjaga kebersihan. Hal ini tentunya terjadi karena proses belajar, manusia mengubah perilakunya menjadi ke arah yang lebih baik agar terhindar dari virus corona ini.
Di tengah kondisi yang bisa dikatakan tidak baik ini, sangat diperlukan kontribusi psikologi klinis dalam membantu pemerintah dan tenaga kesehatan dalam mengatasi wabah yang melanda Indonesia. Tidak hanya sehat fisik, sehat mental juga diperlukan, hal ini untuk menjaga system imun kita untuk tetap baik. Karena jika dalam situasi ini kita stress, cemas, khawatir, panik serta paranoid hal itu menandakan mental kita tidak sehat, yang dapat menyebabkan imunitas kita lemah, dan menjadi celah bagi virus Corona bisa masuk dan menyerang tubuh manusia. 
Dalam mengatasi wabah ini, pemerintah telah menghimbau dan megajak masyarakat untuk di rumah saja, dan keluar rumah untuk hal yang benar-benar urgent atau penting. Masyarakat melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing, yang di kenal dengan istilah social distancing, namun istilah itu berubah menjadi psychally distancing, karena manusia tidak menjaga jarak dengan lingkungan social, tapi menjaga jarak antara diri individu dengan individu yang lain, yang mana aktivitas sehari-hari tetap dilakukan, tetapi di dalam rumah, yang dikenal dengan work from home (WFH). Di sini, pekerja dan pelajar bekerja dan belajar melalui sistem daring, misalnya melalui grup WhatsApp, e-Learning, Google Classroom, Skype, dan aplikasi lainnya.
Hal tersebut, tentu bukan hal yang mudah, memerlukan adaptasi yang tidak singkat. Oleh karena itu diperlukan kontribusi Psikolog klinis untuk mendorong atau memotivasi masyarakat untuk tetap tenang dan menjaga kesehatan mentalnya, serta tetap mematuhi ajakan pemerintah. Kita tidak hanya melihat dari satu sisi saja, pasti ada hikmah atau dampak positif dari setiap kejadian ini, diantaranya:
Lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarga di rumah,
Mengjarkan Indonesia seberapa siap dengan system pembelajaran digital menyongsong digital society 5.0
Mengingatkan kita pentingnya menjaga kebersihan
Sebagai seorang muslim, tentunya dengan banyak menghabiskan waktu di rumah dapat menjadikan kita untuk lebih banyak waktu untuk beribadah, mendekatkan diri kepada sang pencipta, yaitu Allah SWT.
Pemerintah juga mengajak masyarakat untuk tetap safety jika bepergian, yaitu menggunakan masker dan cuci tangan selama 20 detik, serta tidak memegang area wajah, seperti mata, hidung dan mulut sebelum cuci tangan. Di sini juga diperlukan kontrol supaya tidak membuat individu mengalami obsesif-compulsiv, dengan mencuci tanga berulang-ulang, karena merasa belum bersih. Jika tidak dipenuhi maka individu tersebut merasa ketakutan, cemas dan khawatir. 
Pemerintah juga telah menghimbau masyarakat Indonesia untuk berdiam diri di rumah, beribadah di rumah, cuci tangan dengan sabun selama 20 detik dan tetap menghindar dari keramaian. Namun sangat disayangkan dengan masyarakat yang bebal dan tidak menghiraukan pemerintah. Masyarakat terutama anak-anak dan remaja banyak yang tetap keluar rumah, bahkan banyak para perantau yang pulang ke kampung halamannya masing-masing. Tentunya ini memiliki dampak buruk bagi orang-orang di lingkungan sekitarnya. Karena di Indonesia sendiri, belum dilakukan tes secara massif, jadi kita tidak tahu apakah kita membawa virus itu atau tidak. Apalagi para perantau tersebut berada di daerah yang terpapar sebelumnya. Bahkan sampai saat ini, sudah ada seribu kasus lebih dan angka menuju seratus untuk kematian, sedangkan yang sembuh hanya setengah dari itu.
Tidak hanya itu, banyak juga para jamaah masjid yang ngeyel untuk tetap sholat berjamaah. Jika dalam keadaan normal itu sangat baik, namun dalam keadaan seperti ini tentu berdampak buruk. Hal ini dilakukan juga bukan untuk selamanya, sampai wabah ini berlalu. Akibatnya sekarang sudah ada tiga jamaah masjid yang positif, akibatnya 300 lebih jamaah di karantina di masjid tersebut. Bukankah Allah tidak akan menyulitkan hamba-hambanya. Sholat jamaah juga tetap bisa dilaksanakan di rumah, yang penting suara azan tetap berkumandang. Kita bisa belajar dari kisah-kisah terdahulu, seperti
Ketika perang Nabi tetap shalat berjamaah karena musuhnya kelihatan, dan sholatnya bergantian
Umar bin Khatab menghindar dari wabah penyakit Tho’un di Syam, dan berkata “Saya lari dari taqdir Allah menuju taqdir Allah yang lain”
Jaman Nabi juga pernah terjadi wabah tapi ciri-cinya kelihatan. Nabi bersabda “jangan dicampur yang sehat dengan yang sakit. Bahkan Nabi membaiat utusan Tsaqif tanpa berjabat tangan.
Dapat kita lihat bahwa, Allah tidaklah mempersulit hambanya, meskipun untuk sementara masjid kosong, namun Azan tetap berkumandang, dan ibadah kita tidak terhenti. Tentunya, sebagai seorang muslim, kita tidak hanya sekedar mengandalkan diri dengan usaha sendiri, tapi kita juga butuh doa. Kita butuh pertolongan Allah swt., yang membuat makhluk sekecil itu mampu memporak-porandakan jutaan manusia. Maka, Allah lebih mampu untuk meredam ini semua, menjadikannya kembali ke keadaan normal, dengan cara yang paling baik pula. 
Jadi, dapat disimpulkan bahwa dalam menghadapi COVID-19 ini tidak hanya tanggungjawab satu pihak saja, tapi seluruh lapisan masyarakat. Masyarakat harus mendengarkan himbauan pemerintah untuk tetap di rumah, cuci tangan dengan sabun selama 20 deitk serta menghindari keramain, karena kita tidak tahu siapa yang sedang terinfeksi virus tersebut. Serta di Indonesia sendiri belum ada tes yang dilakukan secara massif. 
Oleh karena itu tetap jaga kebersihan dan jaga kesehatan mental untuk tetap tenang dan tidak panik. Kita juga harus sadar, bahwa kita memiliki kesempatan untuk berusaha melindungi diri kita sendiri, namun, tidak demikian dengan pelayan kesehatan atau tenaga kesehatan. Mereka harus menangani pasien dengan penyakit menular yang tentu sngat menimbulkan ketegangan dan mengguncang kesejahteraan mental. Dukungan moril yang berlandaskan empati bagi mereka sangatlah penting. Kita harus memberikan minimal sedikit saja perhatian kita kepada mereka yang sedang berjuang di garda terdepan melawan wabah COVID-19. Di sini tentunya kontribusi psikolug klinis sangat diperlukan, psikolog klinis dapat memberikan pelatihan-pelatihan ataupun memberikan sesi konseling kepada para tenaga medis agar mental nya tetap sehat. Agar mereka mampu menghadapi tekanan-tekanan yang datang kepada mereka. Psikolog klinis juga dapat mengajarkan mereka untuk tetap relaks dalam menghadapi kekisruhan di rumah sakit.



DAFTAR KEPUSTAKAAN

Nahar, Novi Irawan. Penerapan Teori Belajar Behavioristik Dalam Proses Pembelajaran. Desember 2016. Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol.1.

Robson, D. (2020, April 08). BBC News Indonesia. Retrieved from bbc.com: https://www.bbc.com 

Sundberg, Norman D dkk. (2007). Psikologi Klinis: Perkembangan Teori, Praktik, dan Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sutanto. (2020, Maret 19). PT. Galamedia Bandung Perkasa. Retrieved from Galamedianews.com: https://www.galamedianews.com  


#KknIainBatusangkar2020
#KKNDRIAINBATUSANGKAR2020

Fenomena Psikologi Panic Buying Akibat Covid - 19 di Tengah Masyarakat

FENOMENA PSIKOLOGI PANIC BUYING AKIBAT COVID-19 DI TENGAH MASYARAKAT
BY: NURUL AULIA FITRA


Akhir-akhir ini, banyak ditemukan fenomena panic buying yang terjadi di tengah masyarakat. Tidak hanya di Indonesia, bahkan hampir di seluruh dunia. Negara-negara yang terjangkit pandemic Covid-19, masyarakatnya banyak yang menunjukkan perilaku ini. Di Indonesia sendiri, banyak kasus-kasus yang bermunculan, diantaranya yaitu pembelian barang pokok, snack atau pun perangkat kesehatan seperti hand sanitizer, masker, sabun, alat pengukur suhu dan sejenisnya yang dibeli dalam jumlah yang besar dan sangat berlebihan. Hal ini merupakan tindakan yang irrasional dan salah, karena tindakan tersebut sangat egois, bukan hanya diri kita yang butuh, tapi juga orang lain. Tindakan ini bisa berakibat pada langkanya barang tersebut dan harga barang-barang itu naik. 
Dilansir dari cermati.com tanggal 23 Maret 2020, Tutum Rahanta (Anggota Dewan Penasehat HIPPINDO) mengatakah bahwa di Indonesia sendiri sudah dua kali terjadi rush atau belanja besar-besaran, pertama terjadi setelah pengunguman kasus pertama Covid-19 oleh Presiden Jokowi tanggal 2 Maret. Terlihat rak-rak kosong, tapi bukan karena stok tidak ada, melainkan sudah habis sebelum dipajang. Kedua, terjadi pada 14 Maret 2020 karena ada isu lockdown. Selanjutnya terjadi lagi peningkatan pembelian, namun aksi panic buying dalam skala yang tidak terlau besar.
Hal ini dapat terjadi karena banyaknya informasi simpang siur mengenai Covid-19. Dengan meningkatnya kasus postif yang terjadi di Indonesia, tentunya hal ini membuat masyarakat semakin resah, panik dan takut. Akibatnya tidak ada lagi perasaan tenang dan aman. Tidak hanya masyarakat Indonesia, hampir seluruh masyarakat di dunia dilanda kecemasan yang berlebihan. Timbulnya kekhawatiran jika pendemi ini menjangkiti dirinya maupun keluarganya.
Selain menciptakan masalah kesehatan dan dampak ekonomi ke hampir semua negara di dunia, COVID-19 juga telah menyebabkan banyak individu untuk mengadopsi perilaku pembelian yang tidak biasa. Misalnya, belum pernah terjadi sebelumnya membeli kertas toilet di Hong Kong dan Australia, antri untuk membeli senjata di AS dan permintaan berlebihan untuk banyak barang kebutuhan sehari-hari di semua hampir semua negara di dunia (Altsdter & Hong, dalam Kuruppu 2020).
Sejak awal pandemi corona virus telah ada peningkatan penggunaan masker (Feng et al., dalam Roy, et al., 2020) dan pembersih yang menghasilkan kelelahan sumber daya di pasar. Kekurangan peralatan perlindungan pribadi membahayakan pekerja kesehatan di seluruh dunia (WHO, 2020c). Tidak adanya tindakan perlindungan yang tepat merupakan penyebab utama kekhawatiran di antara tenaga medis. Kecemasan dan kekhawatiran dalam masyarakat secara global mempengaruhi individu secara luas. Bukti terbaru menunjukkan bahwa individu yang ditempatkan dalam isolasi dan karantina mengalami kesulitan yang signifikan dalam bentuk kecemasan, kemarahan, kebingungan dan gejala stres pasca-trauma (Brooks et al., dalam Roy, et al., 20202020).
Ekonomi penimbunan barang yang dilakukan oleh konsumen atau masyarakat ketika ada situasi tertentu yang dipandang gawat atau darurat sering dikenal dengan istilah panic buying. Perilaku panic buying menurut Enny Sri Hartati, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) dipicu oleh factor psikologis yang biasanya terjadi karena informasi tidak sempurna atau tidak menyeluruh yang diterima oleh masyarakat. Akibatnya, timbul kekhawatiran di masyarakat sehingga menimbulkan respons tindakan belanja secara pasif sebagai upaya penyelamatan diri. Terdapat dua bentuk kekhawatiran yang terjadi di masyarakat. Pertama adalah khawatir kalau tidak belanja sekarang, bisa saja besok harga barang naik. Kedua, jika tidak belanja sekarang, maka esok hari barangnya sudah tidak ada.
Panic Buying adalah sebuah fenomena yang terjadi selama krisis besar. Analisis perilaku pembelian selama krisis mengungkapkan beberapa hal temuan yang menarik. Pertama, beberapa pola permintaan terjadi secara alami dan dapat dibenarkan ketika mereka melakukan tindakan spontan yang bertujuan untuk mencegah atau melindungi diri dari penyakit. Kedua, Intervensi media memang membantu individu untuk melakukan akses informasi yang akurat dan bermanfaat, terutama dalam situasi bencana. Namun, media juga dapat menyebarkan informasi yang salah dan secara tidak sengaja orang-orang melakukan tindakan yang tidak perlu meskipun niatnya untuk menyebarkan informasi yang akurat. 
Perilaku irasional yang timbul akibat panic buying dapat menyebabkan meroketnya harga produk dan juga menyebabkan semakin banyaknya sampah rumah tangga. Alhasil, dapat memperburuk dampak ekonomi dan sosial dari pandemi Covid-19. Demikian pula, panic buying biasanya dipimpin oleh kelas atas dan menengah karena kapasitas mereka untuk melakukannya, kelas berpenghasilan rendah adalah kelompok yang tidak akan melakukan hal itu. Orang-orang di kelas ini umumnya kurang atau tidak memiliki kemampuan untuk melakukan panic buying dan akibatnya ketinggalan barang-barang penting untuk kehidupan mereka. Kelompok lain yang mungkin terpengaruh oleh panic buying adalah petugas kesehatan garda terdepan karena mereka akan merasa sulit ketika bekerja karena kurangnya alat perlindungan diri. Hal ini akan semakin memperburuk konsekuensi kesehatan dan sosial selama pandemi. 
Perilaku menimbun adalah salah satu tindakan yang menonjol selama krisis Covid-19. Selama krisis corona virus terus berlangsung di seluruh dunia tanpa adanya vaksin, ketidakpastian, dan isolasi sosial akan muncul di benak orang. Hal ini mendorong pembelian panik dan perilaku menimbun. Penimbunan membutuhkan lebih banyak barang daripada yang biasa digunakan, sampai menghalangi fungsi rumah. Perilaku yang terlihat di tengah Covid-19 mungkin tidak "menimbun" dalam arti sebenarnya, mereka cenderung didorong oleh mekanisme psikologis yang sama. Perilaku menimbun menghasilkan ketidakmampuan individu yang dirasakan untuk mentolerir kesusahan, dan untuk menghindari kesusahan, mereka membeli lebih banyak produk daripada mereka dapat digunakan secara layak selama pandemic.
Pilihan atau keputusan konsumen merupakan masalah signifikan dalam perilaku konsumen. Mengenai pilihan, konsumen dihadapkan dengan ketidakpastian yang disebabkan oleh ketidakpastian akan masa depan (Taylor, dalam Wijaya, 2020). Taylor (dalam Wijaya, 2020) menyatakan bahwa ketidakpastian akan menyebabkan kegelisahan, begitu pula individu membutuhkan cara untuk mengurangi kecemasan melalui pengurangan risiko. Kecemasan juga terbentuk oleh harga diri dan kepercayaan diri individu. Setiap pilihan konsumen melibatkan dua aspek, yaitu ketidakpastian dalam hasil dan dampak. Ketidakpastian yang terkait dengan hasil dapat diminimalkan oleh informasi atau pengetahuan, sementara ketidakpastian dampak dapat dikurangi dengan mengurangi jumlah yang dipertaruhkan atau menunda pilihan. 
Aspek risiko adalah bagian dari perilaku panik pada konsumen (Fei et al., dalam Wijaya, 2020). Hessels et al., (dalam Wijaya, 2020) menyatakan bahwa ketakutan akan kegagalan dikaitkan dengan penghindaran risiko. Dalam kepanikan tertentu membeli adalah masalah umum di lingkungan yang bergerak cepat seperti saat ini, penyebabnya termasuk kondisi cuaca buruk, pemogokan, bencana alam, dan perubahan kebijakan pemerintah (Tsao et al., 2019). Peristiwa ini menimbulkan risiko bagi pilihan konsumen. Secara pribadi, risiko dapat digambarkan sebagai ancaman potensial terhadap kesehatan dan kesejahteraan individu (Wildavsky & Dake, 1990). Pilihannya sangat ditentukan oleh manfaat dan persepsi risiko itu muncul. Sikap konsumen menentukan keduanya. Konsumen yang memiliki Sikap positif cenderung merasakan manfaat yang lebih tinggi, sedangkan konsumen yang memiliki sikap negatif akan memiliki persepsi risiko yang lebih tinggi (Slovic & Peters, 2006).
Ketika konsumen merasakan spesifik risiko, mereka cenderung mencari konfirmasi persepsi mereka (Slovic, 1987). Konsumen yang merasa risiko wabah akan mengambil spekulasi untuk bertindak untuk mengurangi tingkat risiko dirasakan melalui pembelian skala besar. Misalnya, risiko kekurangan makanan, jika ada karantina di daerah tersebut dan jika tidak ada peralatan kesehatan saat wabah. Aspek persepsi risiko juga terkait dengan pengetahuan. Konsumen yang punya pengetahuan tentang cara mengurangi risiko akan memiliki kemampuan untuk mengurangi kepanikan yang ada, menurut pendapat Taylor (dalam Wijaya, 2020) informasi mampu mengurangi hasil ketidakpastian. Kecemasan eksternal juga muncul sebagai akibat dari pengaruh luar. Individu menilai sesuatu jika mereka tidak memiliki informasi yang cukup akan menggunakan model lain sebagai sumber informasi.
Menurut Azjen (dalam Wijaya, 2020), konsep ini disebut norma subyektif yang merupakan faktor situasional yang mempengaruhi individu untuk berperilaku. Norma akan mengarah ke sikap dan tindakan yang cenderung homogen (Azjen, 2005), sehingga konsumen dalam kondisi yang tidak stabil memiliki kecenderungan untuk mengikuti perilaku orang-orang di sekitar mereka. Itulah kelompok referensi yang memiliki pengaruh kuat pada pilihan produk dan pilihan merek untuk konsumen dalam model perilaku konsumen adalah keluarga (Kotler, 2006; Engel et al, 2005). Anggota keluarga menjadi bagian dari pertimbangan konsumen dalam menentukan pilihan.
Panic buying (PB)/ peningkatan pembelian perilaku telah diamati selama keadaan darurat kesehatan masyarakat sejak zaman kuno. Persepsi kelangkaan (efek kelangkaan yang dirasakan) sangat terkait dengan kepanikan perilaku membeli dan perilaku menimbun yang meningkat sehingga terjadi kelangkaan. (Wilkens 2020; Dholakia 2020; Bonneux dan Van Damme 2006). Hal ini juga menciptakan perasaan tidak aman yang pada gilirannya mengaktifkan mekanisme lain untuk mengumpulkan barang-barang (Dholakia dalam Arafat, et al., 2020). Perasaan kehilangan kendali atas lingkungan dapat dianggap sebagai penyebabnya. Selama masa krisis, orang umumnya suka mengendalikan sesuatu dan mereka membawa beberapa aspek kepastian (Wilkens, dalam Arafat, et al., 2020).
Pembelian panik juga telah dikaitkan dengan perasaan tidak aman dan instabilitas yang dirasakan di situasi tertentu (Hendrix, dalam Arafat, et al., 2020). Status pandemi korona pada tahun 2020 meninggalkan komunitas dengan ketidakpastian. Orang-orang tidak yakin kapan bencana akan berakhir, sehingga menghemat kebutuhan dasar dan membeli sebanyak mungkin adalah jalan pintas untuk mengatasi perasaan tidak aman. Selanjutnya, gangguan pasokan, suatu kondisi dimana pasokan produk normal dalam rantai pasokan terganggu, telah diamati selama bencana atau bencana lain yang tidak diinginkan (Shou, at al., 2013). 
Fenomena ini juga dapat dikaitkan dengan hal-hal serupa yang terjadi selama epidemi dan bencana alam lainnya di masa lalu. Persediaan dari obat-obatan dan vaksin dianggap sebagai metode persiapan dalam kasus pandemi (Jennings et al., 2008). Selama krisis, orang kadang percaya bahwa Pemerintah tidak akan dapat mengendalikan pemasaran gelap dan memberikan dukungan kepada warga negara. Kurangnya kepercayaan dan antisipasi kehabisan sumber daya mungkin bertanggung jawab atas kepanikan pembelian. Mereka tanpa pikir panjang meremehkan risiko bahaya dan meremehkan risiko kemungkinan bantuan (Bonneux dan Van Damme, 2006). Singkatnya, ketakutan akan kelangkaan dan kehilangan kendali atas lingkungan, ketidakamanan (yang bisa karena ketakutan), pembelajaran sosial, memperburuk kecemasan, respon primitif dasar manusia adalah faktor inti yang bertanggung jawab atas fenomena panic buying. 
Untuk mengantisipasi dan memitigasi terulangnya panic buying, maka diperlukan kejelasan informasi dari otoritas yang berwenang. Selain itu, informasi yang disajikan pemerintah, idealnya tidak tumpang tindih. Jelasnya informasi yang diterima oleh masyarakat dapat meredam tekanan psikologis masyarakat termasuk dari berbagai macam berita hoax. Langkah konkret lain yang juga bisa dilakukan oleh pemerintah adalah dengan membagikan masker secara gratis kepada masyarakat. Hal ini seperti yang pernah pemerintah RI lakukan saat mengatasi masalah kebakaran hutan dan lahan. Distribusi pembagian masker ini pun bisa dilakukan secara fleksibel, seperti di pusat keramaian umum, perkantoran, sekolah-sekolah, dan sebagainya dengan syarat menggunakan protocol kesehatan COVID-19.
Steven Taylor, Profesor sekaligus Psikolog Klinis di University of British Columbia, mengungkapkan, dalam kasus terjadinya bencana alam, terdapat perbedaan gagasan yang jelas antara persiapan untuk menghadapi bencana dan sekedar pembelian berlebih. Dalam kasus sebaran Virus Corona, ada banyak ketidakpastian yang mendorong terjadinya perilaku pembelian berlebih. Panic buying menurut Taylor didorong oleh kecemasan dan keinginan untuk berusaha keras menghentikan ketakutan tersebut. “Panic buying membantu orang merasa mengendalikan situasi. Dalam keadaan seperti ini, orang-orang merasa perlu untuk melakukan sesuatu yang sebanding dengan apa yang mereka anggap sebagai tingkatan krisis.”
Panic buying tidak terjadi begitu saja, ada alasan ilmiah di balik timbulnya keinginan untuk memborong barang-barang dan makanan di tempat perbelanjaan. Panik adalah perpanjang dari cemas. Sementara cemas itu perpanjangan dari takut. Takut adalah keinginann untuk menghindari sesuatu yang ada saat ini. Jika ketakutan tersebut berdasarkan ketidakpastian di masa depan, maka akan terjadi kecemasan (Nurkholis, 2020). Ketika seseorang punya kecemasan, pada titik tertentu area prefrontal cortex pada otak tidak bisa bekerja. Prefrontal cortex adalah bagian otak yang memproses hal-hal yang rasional/ ketika area ini tidak bekerja karena kecemasan akan ketidakpastian, bagian yang bekerja adalah limbic system (system limbik), akibatnya rasa takut dan cemas jadi tidak bisa dikontrol. Jika hal itu terjadi, maka yang harus dilakukan adalah bernafas, ambil napas dalam-dalam, 10-20 hitungan, lalu keluarkan secara perlahan. Sehingga aliran darah menjadi lebih lancar dan oksigen bisa naik ke otak sehingga prefrontal cortex bisa berfungsi kembali, lalu individu bisa berpikir dengan jernih. 
Perilaku panic buying dan menimbun barang tidak diperbolehkan di dalam Islam, hal ini bertolak belakang dengan spirit etika bisnis dan nilai-nilai ekonomi islam. Karena, perbuatan tersebut telah mengancam dan merugikan sesama manusia. Orang yang menampilkan perilaku seperti itu disebut serakah, egois dan mementingkan diri sendiri. Contohnya, kondisi kelangkaan dan melonjaknya harga masker di berbagai wilayah, akibat keserakahan manusia yang memanfaatkan wabah Corona sebagai peluang bisnis.
Beberapa tips dalam mengatasi Panic buying menurut Dicky Palupessy, Wasekjen IABI (dalam Audina, 2020) adalah sebagai berikut: 
Belanja dengan cerdas/ smart buying
Maksudnya yaitu belilah keperluan yang memang sangat dibutuhkan dalam jumlah yang cukup untuk sekeluarga sesuai dengan kemampuan dan dalam waktu yang rasional, misalnya kwbutuhan untuk sekali seminggu.
Jangan langsung panik dengan pemberitaan di media
Pintarlah dalam memilih dan menyikapi pemberitaan oleh media, baik itu media elektronik maupun cetak. Tetap tenang dan cari informasi yang terpercaya dan valid.



DAFTAR KEPUSTAKAAN

Arafat, S. Y., Kar, S. K., Marthoenis, M., Sharma, P., Apu, E. H., & Russel, K. (2020). Psychological underpinning of panic buying during pandemic (COVID-19). Elsevier, 2-4.

Ariyanti, Fiki. (23 Maret 2020). Panic Buying Akibat Corona, Belanja Sembako di Swalayan Dibatasi. Ini Daftarnyaǃ. Diakses pada tanggal 15 Juni 2020. Link: https://www.cermati.com

Audina, Nur Indah Farah. (22 Maret 2020). Tips Mengatasi Panic Buying dan Cara Cerdas dalam Berbelanja. Diakses pada tanggal 17 Juni 2020. Link: https://www.google.com 

Kuruppu, G. (2020). COVID-19 and Panic Buying: an Examination of the Impact of Behavioural Biases. SSRN, 1-6.

Ling, G. H., & Ho, C. M. (2020). Effects of the Coronavirus (COVID-19) Pandemic on Social Behaviours: From a Social Dilemma Perspective. Technium Social Sciences Journal, Vol. 7, 312-320, 312-314.

Mawandha, H. G. (2009). Cognitive Behavior Therapy and Anxiety Facing Medical Procedures in Children with Leukemia . Jurnal Intervensi Psikologi, Vol. 1, No. 1, 77-78.

Nurkholis. (2020). Dampak Pandemi Novel-Corona Virus Disiase (Covid-19) Terhadap Psikologi Dan Pendidikan Serta Kebijakan Pemerintah . Jurnal PGSD, Vol. 6, No. 1, 42-43.

Roy, D., Tripathy, S., Kar, S. K., Sharma, N., Verma, S. K., & Kaushal, V. (2020). Study of Knowlwdge, Attitude, Anxiety & Perceived Mental Healthcare Need in Indian Population During COVID-19 Pandemic. Asian Journal of Psychiatry, Vol. 51, 1-3.

Sanyata, S. (2012). Teori dan Aplikasi Pendekatan Behavioristik dalam Konseling . Jurnal Paradigma, No. 14 , 3-6.

Shou, B., Xiong, H., & Shen, Z. M. (2013). Consumer Panic Buying and Quota Policy Under Supply Disruptions. Manufacturing & Service Operations Management, 1-5.

Wijaya, T. (2020). Factor Analysis Panic Buying During the COVID-19 Period in Indonesia. SSRN, 1-5.


#KKNIAINBATUSANGKAR2020
#KKNDRIAINBATUSANGKAR2020

Minggu, 06 Januari 2019

Pengaruh ilmu fisiologi terhadap psikologi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Psikologi merupakan ilmu yang relative muda apabila dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainnya. Dimana perkembangan psikologi dalam era sekarang sangat meningkat pesat. Sejarah perkembangan ilmu psikologi hampir sama dengan ilmu-ilmu lainnya. Telah pula diketahui bahwa psikologi sebagai suatu ilmu telah memisahkan diri dari filsafat, tetapi ini tidak bahwa psikologi tidak terkena pengaruh dari filsafat. Filsafat murupakan akar dari suatu ilmu yang muncul di dunia ini. Dengan adanya filsafat ini memudahkan kita untuk mengatahui asal mula suatu ilmu tersebut. Untuk itu kita perlu mengetahui sampai dimana filsafat mempengaruhi psikologi tersebut. Disamping itu juga psikologi juga di pengaruhi oleh Fisiologi dan Pengetahuan Alam.
Proses pengaruh yang terdapat dalam fisiologi dan pengetahuan alam apakan sangat banyak pengaruhnya atau hanya sekedar saja. Dengan adanya pengaruh ini, kita bisa mengatahui perkembangan dari Ilmu Psikologi tersebut. Karena masih banyak masyarakat yang belum mengatahui proses perkembangan psikologi tersebut. Karena dalam perkembangannya Psikologi mengalami banyak psoses yang terjadi. Maka dari itu kita wajib untuk mengatui proses perkebangan psikologi yang akan dibahas pada bab selajutnya.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana  Pengaruh Ilmu Fisiologi Terhadap Ilmu Psikologi?
2. Siapakah Ahli yang mengadakan eksperimen dalam psikologi ?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui  Pengaruh Ilmu Fisiologi Terhadap Ilmu Psikologi
2. Untuk mengetahui Ahli yang mengadakan eksperimen dalam psikologi

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengaruh Ilmu Fisiologi Terhadap Ilmu Psikologi

Pengaruh pengetahuan alam dan fisiologi pada psikologi merupakan permulaan dari psikologi eksperimental. Seperti telah dikemukakan terlebih dahulu Wilhelm Wundt dapat dipandang sebagai bapak dari psikologi eksperimental. Namun demikian tidak berarti bahwa sebelum Wundt belum ada yang melakukan eksperimen-eksperimen dalam kaitannya dengan psikologi.
Ada empat orang ahli yang dapat dipandang sebagai orang yang mengadakan eksperimen-eksperimen, yang kemudian sangat berpengaruh penggunaan eksperimen dalam psikologi, yaitu Hermann von Helmholtz, Ernst Weber, Gustav Theodore Fechner dan Wilhelm Wundt (Schultz dan Schultz, 1992). Eksperimen-eksperimen tersebut berkembang di Jerman ,tidak di Perancis ataupun di Inggris. Untuk selanjutnya maka Jerman merupakan sumber eksperimen-eksperimen yang berkaitan dengan psikologi.

A. Hermann von Helmholtz (1821 - 1894)
Helmholtz mempunyai minat dalam bidang psikologi dan penelitiannya mengenai kecepatan stimulus pada penglihatan dan pendengaran. Helmholtz juga mengadakan eksperimen menganai waktu reaksi. Penelitian tersebut menghasilkan bahwa terdapat perbedaan individual, juga terdapat perbedaan pada orang yang sama dari satu eksperimen ke eksperimen yang lain. Eksperimen Helmholtz kemudian dicoba oleh ahli-ahli lain. Helmholtz juga mengembangkan teori mengenai warna yang dikemukakan oleh Thomas Young, yang sekarang dikenal dengan teori Young-Helmholtz  mengenai soal warna. Helmholtz juga seorang psikolog , tetapi ia mempunyai sumbangan yang berarti dalam psikologi, khususnya psikologi sensoris, dan digunakannya eksperimen dalam psikologi.

B. Ernzt Weber (1795 - 1878)
Sumbangan Weber dalam psikologi ialah hasil eksperimennya menegenai ambang dua-titik pada kulit, yaitu bagaimana atau sejauh mana subjek dapat merasakan atau mempersepsi dua buah titik atau stimulus yang dikenakan pada bagian kulitnya. Apabila jarak antara  kedua titik itu relatif  pendek subjek merasa adanya satu stimulus. Tetapi pada jarak tertentu (jarak kedua titik itu agak renggang), subjek merasakan adanya dua stimulus. Eksperimen ini mendemonsrasikan tentang ambang dua-titik (the two-point threshold), yaitu ambang dimana dua titik stimulus dapat dirasakan atau dipersepsi oleh objek coba.
Weber juga mendapatkan bahwa the two-point threshold itu bervariasi dalam bagian-bagian badan yang berbeda pada subjek yang sama, dan juga bervariasi dari subjek satu dengan subjek yang lain pada bagian badan yang sama. Sumbangan lainnya mengenai the just noticeable, yaitu perbedaan yang paling kecil khususnya mengenai berat benda yang dapat dirasakan atau dapat di persepsi oleh subjek. Subjek disuruh mengevaluasi dua benda yang diangkat, dan mengevaluasi manakah yang lebih berat diantara kedua benda atau stimulus tersebut. Satu benda sebagai standar, sedangkan yang satunya sebagai yang diperbandingkan (variable).
Hasil eksperimen menunjukkan bahwa, apabila perbedaan stimulus kecil, di persepsi sebagai stimulus yang sama beratnya. Tetapi sampai perbedaan kedua benda atau stimulus itu pada perbedaan tertentu, kedua stimulus itu dapat di persepsi. Weber menemukan bahwa the just noticeable difference sebagai antara dua benda sebagai stimulus merupakan perbandingan yang konstan, misalnya 1 : 40 dari standar. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa benda dengan berat 41 gram dapat dipersepsi perbedaannya dengan standari 40 gram.
Selanjutnya Weber meneliti peranan dari peng inderaan otot (muscular sensation) ¬dalam membedakan berat. Ia mendapat hasil bahwa subjek dapat membedakan lebih tepat atau lebih teliti apabila berat yang harus dibedakan itu diangkat sendiri oleh subjek dari pada ditempatkan oleh eksperimenter pada tangannya.
Dengan mengangkat sendiri benda tersebut, yang berperan adalah penginderaan taktil dan otot, sedangkan apabila ditaruhkan oleh eksperimenter yang berperan hanya penginderaan taktil. Apabila benda itu diangkat sendiri maka ratio adalah 1 : 40, sedangkan kalau ditaruhkan oleh eksperimenter ratio 1 : 30. Ia berkesimpulan bahwa internal muscular sensation yang ada dalam dii individu mempengaruhi kemampuan individu untuk membedakannya. Hal ini lebih jauh akan dibicarakan dalam rangka pembicaraan mengenai persepsi.

C. Gustav Theodore Fechner (1801 – 1887)
Menurut Fechner ada dua cara untuk mengukur penginderaan, yaitu:
1. Orang dapat menentukan apakah stimulus itu ada atau tidak, dapat diindera atau tidak.
2. Orang dapat mengukur intensitas, yaitu subjek dapat menyatakan penginderaannya yang pertama terjadi, ini merupakan ambang absolut bawah (the obsolute lower threshold) (Underwood, 1994) atau ambang stimulus (Towsend, 1953). Ini berarti stimulus dibawahnya belum dapat diindera ataupun dipersepsi. Fechner juga mengemukakan tentang ambang perbedaan (the difference threshold), yaitu perbedaan dua stimulus yang paling kecil yang dapat dipersepsi oleh subjek coba.
Metode ini dikenal dengan metode psikofisik, yang memberikan gambaran kaitan psikis dan fisik (material world). Dalam penelitiannya  Fechner menggunakan cara dengan mengangkat berat, seperti pada Weber. Metode yang dikembangkan oleh Fechner masih digunakan oleh para ahli hingga pada waktu ini, yaitu:
1. Metode kesalahan rata-rata (the method of average error)
Sering juga disebut the method of adjustment, yaitu suatu metode subjek dihadapkan pada dua stimuli, yaitu stimulus standard dan stimulus variabel. Tugas subjek adalah sampai subjek dapat mempersepsi bahwa stimulus variabel sama dengan stimulus standar.
 Seberapa besar kesalahan yang ditunjukkan oleh subjek, yaitu perbedaan antara stimulus standar dengan stimulus variabel menunjukkan sampai sejauh mana ketetapan subjek dalam mengadakan persepsi.
2. Metode stimulasi konstan (the method of constant stimuli)
Semula disebut sebagai metode right and wrong, yaitu suatu metode subjek dihadapkan pada stimulus standar dan stimulus variabel. Stimulus variabel dalam keadaan lebih ringan dan lebih berat dari stimulus standar. Misalnya stimulus standar seberat 100 gram, stimulus variabel dengan berat 92, 96, 98 gram dan ada  yang lebih berat dari standar, misalnya 104, 106 gram. Tugas subjek memberikan evaluasi (judgment) apakah stimulus variabel itu lebih ringan, sama atau lebih berat dari pada standar pada waktu subjek membandingkan antara dua stimuli tersebut.
The method of limits semula disebut sebagai  the method of just noticeable differences, yaitu suatu metode subjek dihadapkan pada dua stimuli, satu sebagai stimulus standar dan yang lain sebagai stimulus variabel. Stimulus variabel diubah naik atau turun sampai subjek dapat mempersepsi bahwa stimulus variabel itu sama dengan stimulus standar. Ttitik berangkat penyajian stimulus variabel dalam keadaan sangat nyata perbedaannya dengan stimulus standar, baik dalam keadaan lebih dari standar maupun dalam keadaan kurang dari standar.
Dari data eksperimen kemudian dapat diketahui tentang just noticeable differences-nya, yaitu rerata dari penentuan ambang perbedaan (difference threshold). Hal ini lebih jauh akan dipaparkan dibagian belakang dalam kaitannya dengan persepsi. Eksperimen Fechner tersebut kemudian dibukukan dalam bukunya yang bertitel “Elemente der Psychophysik” merupakan buku yang menunjukkan hubungan antara psikis dengan fisik.

D. Wilhelm Wundt (1832-1920)
Telah dipaparkan didepan mulai wundt psikologi mempunyai corak baru. Wundt dapat dipandang sebagai penyekat antara psiologi lama dengan psikologi modern. Semula sebagai mayornya adalah bidang kedokteran, namun kemudian beralih kefisiologi (Schultz dan Schultz, 1992). Semula ia mengajar fisiologi di Universitas Heidelberg, kemudian juga ditunjuk untuk membantu dilaboratoriumnya Helmholtz. Pada waktu bekerja Heidelberg inilah wunth mengajukan pendapatnya bahwa psikologi adalah merupakan ilmu yang perlu mandiri, tidak bergantung pada ilmu yang lain, dan merupakan ilmu yang eksperimental. Ia mengajukan pemikirannya itu dalam bukunya yang berjudul “Contributions to the theory of sensory perception”. Dalam buku ini digunakan istilah “Eksperimental Psychology” untuk pertama kalinya, atas eksperimen-eksperimennya yang dilakukannya sendiri dalam laboratorium yang didirikannya sendiri.
Pada tahun 1867 Wundt membuka course di Heidelberg dalam bidang Physiological itu tidak seperti arti yang sekarang ini, tetapi menurut Wundt arti dari istilah physiological itu sama dengan eksperimental. Jadi Wundt mengajar dan menulis mengenai Physiological Psychology itu dalam arti Physiological Psychology seperti pada waktu ini (Schultz dan Schultz, 1992). Seperti diketahui laboratorium Wundt kemudian diakui oleh dunia ilmu pengetahuan pada tahun 1879, dan akhirnya menjadi pusat studi para ahli psikologi lain yang datang dari berbagai-bagai negara.
 Eksperimen wundt didasarkan atas eksperimen-eksperimen dalam bidang fisiologi yang dapat membantu penelitian-penelitian psikologi modern. Pokok bahasan (subject matter)  psikologi Wundt adalah kesadaran. Pengaruh dari empirisme dan asosiasi Nampak pengaruhnya pada sistem wundt. Pandangan wundt kesadaran itu mencakup berbagai-berbagi bagian, yang dapat dipelajari bagian demi bagian, jadi dapat dipelajari dengan metode analisis atau metode reduksi.
Wundt adalah seorang srukturalis, sehingga ia menitikberatkan pada stuktur dari kesadaran yang terdiri atas bagian-bagiannya. Salah satu tulisannya Wundt mengemukakan “The first step in the investigation of a fact must therefore be a description of the individual elements … of which it consists” (dalam Schultz dan Schultz, 1992). Wundt berpendapat bahwa kesadaran adalah aktif dalam mengorganisasi isinya.
 Wundt lebih menitikberatkan studinya mengenai pengalaman yang tidak langsung (immediate experience) dari pada pengalaman yang langsung (mediate experience). Pengalaman lansung memberikan informasi atau pengetahuan tentang sesuatu yang lain dari pada elemen pengalaman itu sendiri. Misalnya kalau seseorang melihat bunga dan menyatakan bahwa “ bunga itu merah”. Pernyataan ini memberikan gambaran bahwa perhatian seseorang yang utama  adalah dalam bunga itu sendiri, bukan pada fakta bahwa seseorang mengalami kemerahannya itu sendiri.
 The immediate experience dalam melihat bunga itu tidak pada objek itu sendiri, tetapi pada pengalaman mengenai sesuatu yang berwarna merah. Jadi menurut Wundt  immediate experience itu tidak dibatasi oleh interpretasi, seperti halnya pada pernyataan pengalaman “ bunga itu merah”, dalam arti pada objek bunga itu sendiri.
Psikologi Wundt adalah ilmu mengenai pengalaman kesadaran (consicious experience), maka metode yang digunakan dalam psikologi adalah observasi mengenai pengalaman tersebut. Hanya orang yang mempunyai  pengalaman tersebut yang dapat mengadakan observasi. Karena itu metodenya adalah introspeksi, yaitu penelitian seseorang dengan observasi dirinya sendiri mengenai keadaan psikisnya, yang kemudian dilanjutkan oleh Titchener, salah seorang muridnya.
Mengenai introspeksi Wundt mengajukan beberapa hukum atau ketentuan, yaitu (1) observer harus mampu menentukan kapan proses itu terjadi; (2) observer harus memusatkan perhatiannya; (3) observer harus mampu mengulangi observasi berulangkali; (4) eksperimenter harus mampu mengontrol manipulasi dari stimulus.
Wundt berpendapat bahwa perasaan itu tidak hanya satu dimensi saja yaitu senang atau tidak senang tetapi masih ada dimensi yang lain.

E. Herman Ebbinghaus (1850-1909)
Setelah membaca bukunya Fechner”Elements of Psychophysics”, ia ingin mengadakan eksperimen dalam bidang proses mental yang lebih tinggi (higher mental processes), yaitu mrngenai ingatan.
Ebbinghaus adalah  psikolog yang pertama kali mengadakan eksperimen-eksperimen dalam masalah belajar dan ingatan. Dalam hal ini Ebbinghaus tidak hanya menjawab pendapat wunth bahwa proses mental yang tinggi tidak dapat dikuliti dengan eksperimen, tetapi juga sekaligus juga ,membuktikan bahwa ingatan dapat diteliti secara eksperimental. Dengan demikian maka kerja Ebbinghaus memperluas kanca psikologi eksperimental.
Materi yang digunakan dalam eksperimennya adalah yang sekarang dikenal dengan nonsense syllables, merupakan langkah yang cukup maju dalam eksperimen mengenai belajar. Bahkan Titchener menyatakan bahwa penggunaan nonsense syllables merupakan kemajuan yang sangat berarti sejak Aristoteles (Schultz dan Schultz, 1992). Nonsense syllables akan memberikan kesulitan yang sama pada subjek coba. Nonsense syllables  dibentuk dengan dua konsonan  dengan satu vowel ditengah, misalnya lef, bok, yat. Dari materi tersebut kemudian disusun kombinasi-kombinasi, yang kemudian ddiberikan kepada subjek coba secara acak untuk dipelajari. Disamping nonsense syllables juga diguunakan deretan angka yang juga tidak berarti (Woodworth, 1951). Ada beberapa metode yang digunakan ebbinghaus dalam eksperimennya mengenai belajar, antara lain the learning time method dan the relearning method.

F. Oswald Kulpe (1862-1915)
Setelah menamatkan pendidikannya di Leipzig, ia kemudian menjadi asisten Wundt, dan mengadakan eksperimen-eksperimen dilaboratoriumnya, namun kemudian ia memisahkan diri dari Wundt, dan ia bekerja pada permasalahan yang oleh Wundt tidak diperhatikan. Semula ia belajar dalam bidang sejarah, tetapi karena pengaruh Wundt ia pindah ke filsafat, dan akhirnya pindah ke  experimental psychology. Oswald Kulpe menulis buku “An Outline of Psychology”. Menurutnya yang dimaksud dengan psikologi adalah merupakan ilmu (science) mengenai fakta-fakta dari pengalaman yang bergantung pada pengalaman pribadi
Pada tahun 1894 ia menjadi guru besar di Universitas Wurzburg, dan dua tahun kemudian ia mendirikan laboratorium sebagai saingan laboratorium Wundt. Kulpe mengetrapkan metode yang disebut sebagai a systematic experimental introspection. Kulpe menekankan pada aspek subjektif, kualitatif dan report yang mendetail dari subjek mengenai sifat proses berpikirnya. Tujuan Kulpe adalah ingin meneliti secara langsung apa yang terjadi dalam diri subjek selama berlangsungnya kesadaran pada diri subjek. Kulpe tidak menentang pendapat Wundt yang menekankan pada pengalaman kesadaran, introspeksi, sebagai alat untuk mengadakan penelitiannya, atau menganalisis kesadaran dalam elemen-elemennya. Kerja dari Kulpe ialah memperluas konsep Wund tmengenai pokok bahasan dari psikologidengan dimasukkannya berpikir yang teliti secara eksperimental, dan menyempurnakanmetode introspeksi.
Disamping berfikir, juga diteliti mengenai motivasi, yang merupakan kontribusi yang cukup berarti dalam psikologi modern. Juga dikemukakan bahwa pengalaman tidak hanya bergantung pada elemen=elemen  kesadaran, tetapi elemen-elemen tidak kesadaran  juga berpengaruh pada prilaku, yang kemudian dikembangkan oleh Freud.


                                          BAB III
                                        PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pengaruh pengetahuan alam dan fisiologi pada psikologi merupakan permulaan dari psikologi eksperimental. Seperti telah dikemukakan terlebih dahulu Wilhelm Wundt dapat dipandang sebagai bapak dari psikologi eksperimental.
Ada empat orang ahli yang dapat dipandang sebagai orang yang mengadakan eksperimen-eksperimen, yang kemudian sangat berpengaruh penggunaan eksperimen dalam psikologi, yaitu Hermann von Helmholtz, Ernst Weber, Gustav Theodore Fechner dan Wilhelm Wundt (Schultz dan Schultz, 1992). Eksperimen-eksperimen tersebut berkembang di Jerman ,tidak di Perancis ataupun di Inggris.

B. SARAN
 Dalam penyelesaiannya, makalah ini masih banyak memiliki kekurangan, akan tetapi penulis sudah berupaya menyelesaikan pembahasan dari makalah ini, untuk itu penulis meminta maaf kepada pembaca atas semua kekurangan, serta mohon kepada pembaca untuk memberikan kritik dan sarannya, agar makalah ini bisa disempurnakan kembali dalam penyelesaiannya.

Minggu, 10 Juni 2018

Attachment Theory


A. Tokoh-tokoh dalam Teori Kelekatan 

1. John Bowlby (1907-1990)
Bowlby adalah seorang psikiater dan psikoanalis, dan terkenal karena minatnya dalam perkembangan anak. Bowlby lahir di London, Inggris pada tahun 1907. Teori Bowlby disebut teori kelekatan karena banyak dipengaruhi oleh teori evolusi dalam observasinya pada perilaku hewan. Terkait dengan kelekatan, menurut teori Etologi (Berndt dalam Crain, 1992), tingkah laku sangat lekat pada anak, bisa diprogram secara evolusioner dan instinktif. Sebenarnya tingkah laku kelekatan tidak hanya ditujukan pada anak namun juga pada ibu. Ibu dan anak dipersiapkan untuk saling merespon perilaku. Bowlby percaya bahwa perilaku sudah diprogram secara biologis. Reaksi bayi berupa tangisan, senyuman, isapan akan mendatangkan reaksi ibu dan perlindungan atas kebutuhan bayi. Proses ini akan meningkatkan hubungan ibu dan anak. Sebaliknya bayi dipersiapkan untuk merespon tanda, suara dan perhatian yang diberikan ibu. Hasil dari respon biologis yang terprogram ini adalah anak dan ibu akan membangun hubungan kelekatan yang saling menguntungkan (mutuality attachment). Ikatan psikologis antara ibu dan anak yang bertahan lama sepanjang rentang hidup dan berhubungan dengan kehidupan social, dinamakan psychological bonding. Bowlby menyatakan bahwa kita dapat memahami perilaku manusia dengan mengamati lingkungan yang diadaptasinya, yaitu lingkungan dasar tempat hidup dan berkembang. Proses-proses yang dipelajari individu untuk mengarahkan perilaku dalam kelompok spesiesnya disebut imprinting.Pada penelitian cross-fostering (ibu asuh) yang dilakukan, dimana suatu individu dibesarkan oleh orang tua yang berbeda dari individu tersebut, memperlihatkan bahwa imprintingnya juga akan muncul pada awal-awal kehidupannya.

2. Mary Ainsworth (1919-1999) dan Teori Situasi Asing
Ainsworth lahir di Glendale, Ohio, tahun 1919. Ia lahir sebagai putri presiden pengusaha barang-barang aluminium. Ia memperoleh gelar BA, MA dan Ph.D dari University of Toronto dimana ia bekerja sebagai instruktur dan dosen. Selama karirnya yang panjang, ia mengajar dan melakukan penelitian dibeberapa universitas dan institut di Cananda, Amerika Serikat, Inggris, dan Uganda. Ainsworth dan rekan-rekannya (Ainsworth, Biehar, Waters & Wall, 1978) banyak dipengaruhi oleh teori Bowlby dalam mengembangkan suatu teknik untuk mengukur jenis gaya kelekatan yang ada diantara pengasuh dan bayinya, yang dikenal sebagai situsi asing (strange situation). Prosedur situasi asing meliputi sesi laboratorium selama 20 menit dengan situasi dimana seorang ibu dan bayi pada awalnya hanya berduaan disuatu kamar bermain. Kemudian masuk orang asing kedalam ruangan tersebut, setelah beberapa menit orang asing tersebut mulai melakukan interaksi yang singkat dengan bayi.Lalu sang ibu pergi menjauh sebanyak dua kali (periode) masing-masing selama dua menit. Selama periode yang pertama, bayi tersebut ditinggalkan sendirian bersama orang asing. Namun diperiode yang kedua bayi tersebut ditinggalkan sepenuhnya sendirian. Perilaku yang penting adalah bagaimana bayi bereaksi ketika sang ibu kembali. Perilaku inilah yang dijadikan dasar pengukuran skala gaya kelekatan. Ainsworth dan rekan-rekannya menemukan 3 skala gaya kelekatan, yaitu rasa aman, cemas-menolak dan cemas menghindar.


B. Kelekatan dan Perkembangannya Attachment (kelekatan) adalah sebuah istilah yang pertama kali diperkenalkan oleh John Bowlby tahun 1958 untuk menggambarkan pertalian atau ikatan antara ibu dan anak (Johnson & Medinnus, 1974 dalam Desmita 2013). Menurut Martin Herbert dalam The Social Sciences Encyclopedia, “attachment (kelekatan) mengacu pada ikatan antara dua orang individu atau lebih; sifatnya adalah hubungan psikologis yang diskriminatif dn spesifik, serta mengikat seseorang dengan orang lain dalam rentang waktu dan ruang tertentu” (Kuper & Kuper, 2000 dalam Desmita 2013). Feldman (1996), mendefinisikan attachment sebagai “the positive emotional bond that develops between a child and a particular individual”. Menurut Seifert & Hoffnung (1994 dalam Desmita 2013), attachment adalah “an intimate and enduring emotional relationship between two people, such as infant and caregiver, characterized by reciprocal affection and a periodic desire to maintain physical closeness”. Kelekatan merupakan suatu ikatan emosional yang kuat antara dua individu. Ada cukup banyak teori mengenai kelekatan bayi. Freud, Erikson dan Bowlby mengajukan pandangan-pandangan teoritis yang berpengaruh dibidangnya. Menurut Freud, bayi semakin menjadi dekat dengan orang atau benda yang menyuguhkan kepuasan oral. Bagi kebanyakan bayi, kepuasan seperti ini tentu saja di dapat dari ibu yang paling sering memberi makanan kepada bayi. Dalam pandangan Erik Erikson (1968) mengenai perkembangan bayi satu tahun pertama kehidupan merupakan tahap munculnya kepercayaan vs ketidakpercayaan. Kenyamanan fisik dan perawatan yang peka merupakan hal yang esensial untuk mencapai kepercayaan dasar bayi. Selanjutnya kepercayaan pada masa bayi merupakan basis bagi kelekatan dan harapan seumur hidup bahwa dunia akan menjadi tempat yang baik dan menyenangkan untuk dihuni. Persepektif etologis dari John Bowlby juga menekankan pentingnya kelekatan pada tahun pertama kehidupan dan responsivitas dari pengasuh. Bowlby yakin bahwa bayi dan ibunya secara naluriyah membentuk suatu kelekatan. Ia menyatakan bahwa bayi yang baru lahir secara biologis diberi perlengkapan untuk membangkitkan prilaku kedekatan dengan ibunya. Bayi menangis, menempel, merengek dan tersenyum kemudian merangkak berjalan dan mengikuti ibunya, semua ini dilakukan bayi untuk mempertahankan kedekatannya dengan pengasuh utamanya. Dampak jangka panjangnya adalah meningkatkan peluang kelangsungan hidup bayi tersebut. Empat tahapan yang didasarkan konsep kelekatan Bowlby :
a. Indicriminate Sociability Terjadi pada anak yang berusia dibawah dua bulan. Bayi menggunakan tangisan untuk menarik perhatian orang dewasa, menghisap dan menggeram, tersenyumdan berceloteh digunakan untuk menarik perhatian orang dewasa agar mendekat padanya.
b. Discriminate Sociability Terjadi pada anak yang berusia dua hingga tujuh bulan. Pada fase ini bayi mulai dapat membedakan objek lekatnya, mengingat orang yang memberikan perhatian dan menunjukan pilihannya pada orang tersebut.
c. Spesific Attachment Terjadi pada anak yang berusia tujuh bulan hingga dua tahun. Bayi mulai menunjukan kelekatannya pada figur tertentu. Fase ini merupakan fase munculnya intensional behavior dan independent locomosi yang bersifat permanen. Anak untuk pertama kalinya menyatakan protes ketika figur lekat pergi.Anak sudah tahu orang-orang yang diinginkan dan memilih orang-orang yang sudah dikenal. Mereka mulai mendekatkan diri pada objek lekat. Anak mulai menggunakan kemampuan motorik untuk mempengaruhi olang lain.
d. Partnership Terjadi pada usia dua sampai seterusnya. Fase ini sama dengan fase egosentris yang dikemukakan Piaget. Memasuki usia dua tahun anak mulai mengerti bahwa orang lain memiliki perbedaan keinginan dan kebutuhan yang mulai diperhitungkannya. Kemampuan berbahasa membantu anak bernegoisasi dengan ibu atau objek lekatnya. Kelekatan membuat anak jadi lebih matang dalam hubungan sosial. Bowlby menamakan goal corrected partnership, hal ini membuat anak lebih mampu berhubungan dengan peer dan orang yang tidak dikenal.

C. Perbedaan Individual dalam Kelekatan Mary Ainsworth (dalam Crain, 2010) berpendapat bahwa selama tahun pertama, bayi memiliki pengalaman kelekatan yang lebih positif dibandingkan dengan bayi lainnya. Ia menciptakan situasi asing, yakni suatu metode observasi untuk mengukur kelekatan bayi berupa serangkaian perkenalan, perpisahan, dan reuni dengan pengasuh dan orang dewasa asing dalam urutan tertentu. Berdasarkan respon bayi dalam situasi asing para peneliti mendiskripsikan bayi memiliki kelekatan aman dan kelekatan tidak aman terhadap pengasuh diantaranya:
1. Insecurely Attached Avoidant Infant (Type A) Ditemukan pada 20% sampe penelitian. Anak menolak kehadiran ibu, menampakkan permusuhan, kurang memilik resiliensi ego dan kurang mengekpresikan emosi negatif (Cicchetti dan Toth, 1995). Selain itu anak juga tampak mengacuhkan dan kurang tertarik dengan kehadiran ibu (Dishion, French dan Patterson, 1995 dalam Ervika 2000).
2. Securely AttachedInfant (Type B) Ditemukan pada 70% subjek penelitian. Ibu digunakan sebagai dasar eksplorasi. Anak berada didekat ibu untuk beberapa saat kemudian melakukan eksplorasi, anak kembali kepada ibu ketika ada orang asing , tapi memberikan senyuman apabila ada ibu didekatnya. Anak merasa terganggu ketika ibu pergi dan menunjukan kebahagiaan ketika ibu kembali.
3. InsecurelyAttachedResinstant Infant (Type C) Ditemukan pada 10% sabjek penelitian. Menunjukkan keengganan untuk mengeksplorasi lingkungan. Tampak impulsive, helpless, dan kurang kontrol. Beberapa tampak selalu menempael pada ibu dan bersembunyi dari orang asing. Anak tampak sedih ketika ditinggal ibu dan sulit untuk tenang kembali meskipun ibu telah kembali. Mampu mengekspresikan emosi negatif namun denagn reaksi yang berlebihan.
4. Disorganized/ Disoriented Attached (Type D) Ini merupakan tipe keempat yang dihasilkan dari eksperimen yang dilakukan oleh Main, Hesse dan Solomon (dalam Dishion, French dan Patterson, 1995; Cummings, 2003). Ditemukan pada anak-anak yang mengalami salah pengasuhan (maltreated) dimana kekacauan emosi terlihat saat episode pertemuan kembali dengan ibu. Perilaku mereka tampak sangat tidak terorganisasi, mengalami konflik dalam dirinya serta menunjukkan kekhawatiran dan penolakan yang lebih besar pada ibu dibandingkan dengan orang asing. Atau bisa tonton di https://youtu.be/uSAPfiSw_Ic

D. Evaluasi Terhadap Situasi Asing Menurut Van Ijzendoorn dkk (1988), sebagai suatu cara untuk mengukur kelekatan. Situasi Asing mungkin mengandung bias budaya. Sebagai contoh bayi-bayi Jerman dan Jepang lebih memperlihatkanpola kelekatan dibanding bayi-bayi Amerika. Pola menghindar pada bayi-bayi Jerman cenderung lebih memperlihatkan pola kelekatan menghindar sementara bayi-bayi Jepang tidaklah memperlihatkan pola-pola ini sebanyak yang diperlihatkan oleh bayi-bayi Amerika.Menurut Grossman dkk (Santrock, 2013) pola menghindar pada bayi-bayi Jerman lebih banyak terjadi karena para pengasuh mendorong mereka untuk mandiri. Selain itu dibandingkan dengan bayi-bayi Amerika, bayi-bayi Jepang lebih banyak dikategorikan sebagai bayi yang menolak. Hal ini mungkin lebih berkaitan dengan situasi asing sebagai suatu metode untuk mengukur kelekatan. Para ibu di Jepang sedikit membiarkan orang yang tidak akrab untuk merawat bayinya. Dengan demikian, situasi asing mungkin dapat menciptakan lebih banyak sress untuk bayi-bayi Jepang dibandungkan untuk bayi-bayi Amerika yang lebih terbiasa dipisahkan dari ibunya Miyake, Chen, & Campos dalam Santrock, 2013). Menurut Thompson (2006) dan Van Ijzendoorn dkk (1988), meskipun terdapat variasi budaya dalam klasifikasi kelekatan, sampai sejauh ini klasifikasi yang paling sering dijumpai diberbagai budaya adalah kelekatan aman. E. Interpretasi Terhadap Perbedaan Kelekatan Ainsworth meyakini bahwa kelekatan yang aman dalam satu tahun pertama kehidupan memberikan landasan yang penting bagi perkembangan psikologis dikehidupan selanjutnya. Bayi dengan kelekatan aman dapat menjauh secara bebas dari ibunya namun masih tetap secara rutin memeriksa keberadaan ibunya. Bayi dengan kelekatan aman berespon positif ketika digendong oleh orang lain, dan ketika diletakan kembali, ia bisa menjauh secara bebas untuk bermain. Sebaliknya, seorang bayi dengan kelekatan tidak aman akan menghindari atau bersikap ambivalen terhadap orang asing, dan bingung pada setiap perpisahan kecil. Dalam sebuah studi longitudinal berskala luas yang dilakukan oleh Alan Sroufe dan rekan-rekannya, kelekatan aman diusia awal, diukur dengan Situasi Asing pada usia 12 dan 18 bulan, berkaitan dengan kesehatan emosional, tingginya harga diri, dan keyakinan diri serta kompetensi dalam interaksi sosial dengan teman, guru, konselor kampus, dan kekasih pada masa remaja. Baru-baru ini, metaanalisis menemukan bahwa kelekatan tidak teratur lebih kuat kaitannya dengan ekstemalisasi masalah (misalnya agresi, kekerasan, masalah oposisi) dibandingkan kelekatan menghindar dan kelekatan menolak (Fearon dkk, 2010 dalam Santrock 2013). Meskipun demikian, beberapa anak tidak memperlihatkan adanya kesinambungan seperti itu (Thompson, 2008 dalam Santrock 2013). Tidak semua penelitian menemukan bahwa kelekatan dimasa bayi dapat memprediksi rangkaian perkembangan selanjutnya. Dalam sebuah studi longitudinal, klasifikasi kelekatan di masa bayi tidak memprediksikan klasifikasi kelekatan diusia 18 tahun (Lewis, Feiring, Rosenthal, 1997 dalam Santrock 2013). Dalam studi ini, predictor terbaik dari klasifikasi yang tidak aman diusia 18 tahun adalah terjadinya perceraian orang tua. Pengasuhan positif yang diberikan secara konsisten selama kelekatan dimasa awal dengan bagaimana anak tersebut berfungsi dimasa perkembangan selanjutnya. Memang, para peneliti telah menemukan bahwa kelekatan yang aman di masa awal dan rangkaian pengalaman selanjutnya, khususnya pengasuhan ibu dan tekanan hidup, berkaitan dengan perilaku dan penyesuaian anak dikemudian hari (Thompson, 2008 dalam Santrock 2013). F. Gaya Pengasuhan dari Kelekatan Bayi-bayi dengan kelekatan aman memiliki pengasuh yang sensitive terhadap isyarat-isyarat yang mereka berikan dan secara konsisten hadir untuk memberikan respon terhadap kebutuhan mereka. Para pengasuh ini seringkali membiarkan bayi-bayinya berperan aktif dalam menentukan awal dan kecepatan interaksi ini di tahun pertama kehidupan.Sebuah studi menemukan bahwa sensitivitas maternal dalam pengasuhan berkaitan dengan kelekatan aman pada bayi didua budaya yang berbeda yaitu, Amerika Serikat dan Kolombia (Carbonel dkk, 2002).Meski sensitivitas maternal berkaitan positif dengan pengembangan kelekatan aman dimasa bayi, penting untuk mengingat bahwa kaitannya tidak begitu kuat (Campos, 2009 dalam Santrock 2013). Berlin & Cassidy menyebutkan bahwa pengasuh dari anak yang avoidant cenderung tidak selalu siap atau menunjukan penolakan. Seringkali mereka tidak merespon sinyal yang diberikan bayi atau hanya memberikan kontak fisik yang sedikit dengan bayi mereka. Ketika mereka berinteraksi dengan bayi mereka cenderung berinteraksi dengan cara marah atau kesal. Sedangkan pengasuh bayi resistant cenderung bersikap yang tidak konsisten, kadang-kadang mereka merespon kebutuhan bayi dan kadangkala tidak. Secara umum mereka cenderung tidak terlalu hangat terhadap bayi dan ketika berinteraksi cenderung tidak sinkron. Pengasuh dari disorganized seringkali menelantarkan atau bahkan melakukan kekerasa terhadap bayi mereka. Dalam banyak kasus, biasanya pengasuh yang mengalami depresi.

G. Kelekatan pada Orang Dewasa Meskipun relasi dengan pasangan berbeda dari relasi dengan orang tua, pasangan memenuhi sejumlah kebutuhan yang sama seperti yang dipenuhi oleh orangtua pada anak-anaknya (Shaver & Mikulincer, 2011 dalam Santrock 2013). Melalui sebuah studi retrospektif mengungkapkan bahwa orang dewasa yang menunjukan kelekatan yang aman dalam relasi romantisnya cenderung memiliki kelekatan yang aman dengan orangtua dimasa anak-anak. Meskipun demikian, dalam studi longitudinal lainnya, kaitan antara gaya kelekatan awal dengan gaya kelekatan dimasa selanjutnya diperlemah oleh pengalaman yang menekan dan sangat merugikan, seperti kematian orangtua atau ketidakstabilan pengasuh (Lewis dakk dalam Santrock 2013). Para peneliti juga mempelajari kaitan antara gaya kelekatan orang dewasa dengan berbagai aspek kehidupan lainnya dari orang dewasa tersebut. Orang dewasa yang mempunyai kelekatan yang aman lebih puas dengan relasi dekatnya dibandingkan orang dewasa dengan kelekatan tidak aman. Disamping itu, relasi orang dewasadenagn kelekatan yang aman, cenderung diwarnai oleh kepercayaan, komitmen, dan usia yang panjang (Feney dalam Santrock 2013). Ulasan sebuah penelitian atas wawancara kelekatan 10.000 orang dewasa mengungkapkan bahwa ketidakamanan kelekatan berkaitan perilaku marah. Ulasan lebih lanjut dari Shaver (dalam Santrock 2013) juga menyimpulkan bahwa ketidakamanan kelekatan menempatkan pasangan pada masalah relasi. Para peneliti juga menemukan bahwa ketika pasangan sama-sama memiliki pola kelekatan pencemas, pasangan tersebut biasanya menciptakan ketiidakpuasan dalam pacaran dan bisa mengarah pada saling mengancam dan menyerang dalam relasi (cemas dan menghindar).

H. Kritikan terhadap Teori Kelekatan Teori kelekatan Bowlby dan Ainsworth agaknya menomorduakan konteks sosial yang terdapat pada dunia bayi. Kondidsi lingkungan dimana tempat bayi dilahirkan, termasuk sistem sosial kemasyarakatan dan sistem budaya turut mempengaruhi sifat dasar dari kelekatan. Di dalam budaya Jawa terutama di desa, saudara kandung dan nenek turut merawat bayi. Dalam budaya agraris kakak kandung diberi tugas untuk merawat bayi. Meskipun demikian, ada tidaknya kelekatan yang aman merupakan hal penting yang sepantasnya menjadi perhatian, khususnya pengasuh tunggal. Kelekatan pada masa bayi tetap merupakan hal yang penting karena mencerminkan relasi antara orangtua-bayi yang psotif dan memberikan perkembangan sosioemosional yang sehat diperkembangan selanjutnya.


Senin, 21 Mei 2018

Psikologi Pendidikan (Inteligensi dan Kreativitas)

INTELIGENSI DAN KREATIVITAS


Untuk Memenuhi Mata Kuliah Psikologi Pendidikan

OLEH

KELOMPOK 3

          1. NURUL AULIA FITRA 1730306023
               2. RAUDHATUL FHADILLA 1730306026
 3. RINDU ALDINA 1730306028
    4. SOFHIA MARJENI 1730306030
5. TUTI MARLENI 1730306034






DOSEN PEMBIMBING :
Dra. DESMITA, M. Si
DANI YOSELISA, M. Si., Psikolog



JURUSAN PSIKOLOGI ISLAM
FAKULTAS USULUDIN ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BATUSANGKAR
TAHUN 2018




DAFTAR ISI 



DAFTAR  ISI………………………………………………………………………...i
A. Inteligensi
1. Definisi Inteligensi…………………………………………………..……...............1
2. Factor yang Mempengaruhi Inteligensi…………………………………...................3
3. Bentuk-bentuk Inteligensi………………………………………………..................4
4. Pengukuran Inteligensi………………………………………………...............…....5
5. Upaya Peningkatan Kecerdasan……………………………………..............……..6
B. Kreativitas
1. Pengertian Kreatifitas………………………………………………….....................7
2. Factor-faktor yang Mempengaruhi Kreatifitas………………………….....................8
3. Tipe Kreatifitas………………………………………………………................….10
4. Mengembangkan Sikap Kreatifitas……………………………………....................11
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................ii

BAB I
PEMBAHASAN

A. INTELIGENSI
1. Defenisi Inteligensi
Istilah inteligensi berasal dari kata Latin “intelligere” yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain (to organize, to relate, to bind together) (Walgito, 1997 dalam Khodijah 2014). Inteligensi sering diartikan dengan kecerdasan. Istilah “cerdas” sendiri sudah lazim dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bila seseorang tahu banyak hal, mampu belajar cepat, serta berulang kali dapat memilih tindakan yang efektif dalam situasi yang rumit, maka disimpulkan bahwa ia orang yang cerdas. Meski fenomena yang dipelajari sama, namun para psikolog yang mempelajari inteligensi memberikan pengertian yang berbeda-beda. Berikut ini beberapa definisi tentang inteligensi yang dikemukakan oleh para ahli:
a. William Stern, menyatakan bahwa inteligensi adalah daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan mempergunakan alat-alat berpikir menurut tujuannya. Orang yang inteligensinya tinggi akan lebih cepat dan lebih tepat di dalam menghadapi masalah-masalah baru dibandingkan dengan orang yang inteligensinya rendah.
b. Edward L. Thorndike mengatakan bahwa intelligenceis demonstrable in ability of the individual to make good responses from the stand point of truth or fact, artinya inteligensi ditunjukkan dengan kemampuan individual untuk memberikan respons yang tepat atas dasar kebenaran atau fakta (Skinner, 1959 dalam Khodijah 2014). Orang dianggap memiliki inteligensi tinggi bila responsnya merupakan respons yang tepat terhadap stimulus yang diterimanya. Kemampuan untuk memberikan respons yang tepat ini ditentukan oleh pengalaman.

c. Terman mengemukakan bahwa inteligensi adalah the ability to carry on abstract thinking, artinya kemampuan untuk berpikir abstrak (Harriman, 1995 dalam Khodijah 2014). Orang yang memiliki inteligensi tinggi akan lebih mampu berpikir secara abstrak dibandingkan orang yang memiliki inteligensi rendah.
d. L.J. Cronbach, dalam bukunya yang berjudul Essential of Psychological Testing, mendefinisikan inteligensi sebagai efektivitas menyeluruh dalam aktivitas yang diarahkan oleh pikiran.
e. Freeman (1962) memandang inteligensi sebagai: 1) capacity to integrate experiences and to meet a new situation by means of appropriate and adaptive response (kapasitas untuk memadukan pengalaman dan menghadapi situasi baru dengan pengertian yang tepat  dan respons yang adaptif), 2) capacity to learn (kapasitas untuk belajar), 3) capacity to perform tasks regarded by psychologists as intellectual (kapasitas untuk melaksanakan tugas-tugas psikologis secara intelektual), dan 4) capacity to carry on abstact thinking (kapasitas untuk berpikir abstrak).
f. Sternberg mendefinisikan inteligensi sebagai tiga dimensi, yaitu: 1) kapasitas untuk memperoleh pengetahuan, 2) kemampuan untuk berpikir dan logika dalam bentuk abstrak, dan 3) kapabilitas untuk memecahkan masalah.
g. Murphy dan David Shofer menyatakan bahwa inteligensi mengacu pada adanya perbedaan individual dalam mengerjakan tugas-tugas yang berkaitan dengan manipulasi, menampilkan kembali ingatan, evaluasi maupun pemrosesan informasi.
h. Anastasi menyatakan bahwa inteligensi adalah kombinasi dari kemampuan yang dipersyaratkan untuk bertahan hidup dan meningkatkan diri dalam budaya tertentu.
i. J.P Chaplin (1999) mendefinisikan inteligensi sebagai: 1) kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efktif, 2) kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif, dan 3) kemampuan memahami pertalian-pertalian dan belajar dengan cepat sekali.
Berdasarkan definisi-definisi yang dikemukakan oleh para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah kemampuan potensial umum untuk belajar dan bertahan hidup, yang dicirikan dengan kemampuan untuk belajar, kemampuan untuk berpikir abstrak, dan kemampuan memecahkan masalah.
2. Factor yang Mempengaruhi Inteligensi
Inteligensi dapat berubah sepanjang waktu. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa inteligensi berubah sebanyak dalam 28 point antara usia 2,5 tahun hingga 17 tahun, bahkan sepertujuh dari siswa dapat berubah hingga 40 point (McCall, Appelbaum & Hogarty, dalam Khodijah 2014). Perubahan ini dimungkinkan karena ada faktor-faktor yang memengaruhinya.
Para ahli psikologi berbeda pendapat tentang faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan inteligensi. Isu yang diperdebatkan adalah antara factor genetic dan factor lingkungan. Menurut sebagian ahli, inteligensi sepenuhnya ditentukan oleh factor genetic, sebagian ahli lain berpendapat bahwa perkembangan inteligensi dipengaruhi oleh factor lingkungan. Akan tetapi, sebagian besar ahli justru mengambil posisi di tengah, mereka meyakini bahwa inteligensi sesorang dipengaruhi oleh keduanya, yaitu pembawaan dan juga lingkungan.
Meski sebagian ahli telah sependapat bahwa factor yang memengaruhi perkembangan inteligensi adalah factor genetic dan lingkungan. Akan tetapi, mereka tetap berbeda pendapat tentang berapa banyak yang disumbangkan oleh masing-masing factor atau sejauh mana factor-faktor tersebut berpengaruh. Menurut sebagian ahli, factor yang paling dominan berpengaruh terhadap inteligensi adalah factor pembawaan. 
Hal ini dapat dipahami karena orang yang terlahir dengan inteligensi yang sangat rendah tidak mungkin ditingkatkan meski dengan lingkungan dan teknik pendidikan sebaik apapun. Akan tetapi, factor lingkungan juga berperan penting karena seorang anak yang terlahir sebagai jenius bila tidak mendapat pengasuhan dan pendidikan yang layak maka tidak akan menjadi jenius.
3. Bentuk-bentuk Inteligensi
Menurut Cattel-Horn-Carrol, yang selanjutnya akan disebut sebagai teori CHC, Inteligensi terbagi dua jenis yaitu:
a. Crystallized Intiligence yaitu intiligensia yang melibatkan pengetahuan dari proses pembelajaran sebelumnya yang berdasar pada fakta dan berakar pada pengalaman. Seiring waktu, semakin banyak pengalaman dan pengajaran yang diperoleh. Jenis intiligensia ini relative stabil dan tetap. Dengan kata lain, crystallized intiligence pun akan semakin kuat dan meningkat seiring bertambanya usia dan cenderung tidak berubah tingkatannya. 
b. Fluid Intelligence adalah kemampuan proses informasi secara cepat, hubungan berpikir dan ingatan dalam bentuk analogi, mengingat rangkaian angka dan kategorisasi (Turner dan Helms, 1995; Feldman, 2003, 2008 dalam Sarwono) atau melibatkan kemampuan berfikir secara logika dan abstrak serta memecahkan masalah dan mengurangi ketergantungan terhadap keterampilan tertentu serta pemahaman symbol dan kata-kata. Kecerdasan tipe ini dianggap merupakan refleksi dari kecerdasan yang sebenarnya karena diasumsikan tidak dipengaruhi factor pendidikan.

4. Pengukuran Inteligensi
Untuk mengetahui tingkat inteligensi seseorang tidak bisa hanya dengan berdasarkan perkiraan melalui pengamatan, akan tetapi harus  menggunakan alat khusus yang dinamakan tes inteligensi atau IQ (Intelligence Quotient). Orang yang dapat dipandang sebagai orang yang pertama-tama menciptakan tes inteligensi adalah Binet (Walgito, 1997 dalam Khodijah 2014).
Bagi masyarakat umum, istilah IQ sering kali disamakan dengan inteligensi, padahal keduanya berbeda. Inteligensi adalah kemampuan umum sesungguhnya yang dimiliki seseorang, akan tetapi IQ adalah suatu indeks tingkat relative inteligensi seseorang, setelah dibandingkan dengan orang lain yang seusia dengannya. Dengan demikian, IQ pada dasarnya hanyalah sebuah ukuran tingkat kecerdasan, dan bukan kecerdasan yang sebenarnya. Ukuran-ukuran yang biasanya digunakan untuk mengetahui tingkat inteligensi seseorang adalah sebagai berikut:

IQ Tafsiran
140- Berbakat 
120-140 Sangat superior
110-120 Superior
90-110 Normal; rata-rata
70-90 Normal yang tumpul
50-70 Moron
20-50 Imbesil
0-20 Idiot

Tes IQ ini banyak bentuknya. Beberapa tes menggunakan tipe item tunggal, contohnya Peabody Picture Vocabulary Test (untuk anak-anak) dan Raven Progressive Matrices (tes non verbal, yang membutuhkan penalaran induktif mengenai pola perseptual). Bentuk tes lain menggunakan tipe item yang bervariasi, verbal maupun non verbal, karena mengukur inteligensi umum. Tes inteligensi umum ini dapat menghasilkan skor untuk bagian-bagain (sub skor) maupun untuk total (global-tunggal). Contohnya tes Stanford-Binet dan tes Wechsler.
5. Upaya Peningkatan Kecerdasan
Montessori mengatakan bahwa ketika mendidik anak-anak kita hendaknya ingat bahwa mereka adalah individu-individu yang unik dan akan berkembang sesuai dengan kemampuan mereka sendiri. Pendekatan pendidikan usia dini yang paling tepat seuai dengan ciri-ciri psikologis, pendagogis, dan tahap perkembangan moral mereka adah pendekatan yang mengedepankan aspek-aspek aktivitas bermain, bernyanyi dan bekerja dalam arti berkegiatan.ketiga hal itu akan mengasah kecerdasan otak, kecerdasan emosi dan keterampilan fisik yang dilakukan dengan ceria, bebas, dan tanpa beban.
a. Bermain
Kak Seto Mulyadi dalam bukunya “Bermain itu penting” (dalam Wifilhani, 2009) menyebutkan bahwa bermain tidak bertentangan dengan kegiatan belajar. Justru sesuai dengan tahap perkembangan anak dan sangat membantu proses belajar anak.
Fungsi bermain pada anak usia dini adalah untuk merangsang perkembangan motoric anak, merangsang perkembangan bahasa anak, merangsang perkembangan hubungan social anak, mengembangkan kecerdasan emosi anak, mengembangkan kecerdasan nalar/ pikir anak, dan menembangkan keterampilan fisik dalam arti tangan anak-anak.
b. Bernyanyi
Bernyanyi merupakan salah satu unsur yang menciptakan kegembiraan dan suasana riang. Lagu dapat memperkuat tingakat pengendalian vocal anak dengan cara melatih pita suara dan otot-otot yang terlibat dalam kegiatan bernyanyi. Lagu-lagu yang dinyanyikan pada usia ini perlu mencakup pelatihan teknik berbicara, pengembangan kosa kata, dan penguatan kemampuan daya ingat.
c. Berkegiatan
Berdasarkan prinsip pembelajaran konstruktivisme disebutkan bahwa setiap anak berkemampuan untuk membangun pengetahuannya sendiri dengan aktivitas berpikir, merasakan, dan kegiatan fisik. Melakukan kegiatan seperti menggambar bebas alam sekitar, menghitung, membangun menara dengan balok kayu, menari perseorangan dan kelompok, berolahraga bersama dan sebagainya.

B. Kreativitas 
1. Pengertian Kreativitas
Kreativitas didefinisikan secara berbeda-beda oleh para pakar berdasarkan sudut pandangnya masing masing dan penekanan yang berebeda-beda pula.
Barron (1982) mendefinisikan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Guilford (1970) menyatakan bahwa kreativitas mengacu pada kemampuan yang mememdai ciri-ciri  seorang kreatif. Utami munandar (1992) mendefinisikan: “ktreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas dalam berfikir serta kemampuan untuk mengelaborasi suatu gagasan”. Rogers mendefinisikan kreativitas sebagai proses munculnya hasil-hasil baru kedalam suatu tindakan (Utami Munandar, 1992 dalam Desmita 2014).
Drevdahl mendefinisikan kreativitas sebagai kemampuan unruk memproduksi komposisi dan gagasan baru yang dapat berwujud aktivitas imajinatif atau sintesis yang mungkin melibatkan pembentukan pola-pola baru dan kombinasi dari pengalaman masa lalu yang dihubungkan dengan yang sudah ada pada situasi sekarang (Hurlock, 1978 dalam Desmita 2014). Jadi yang dimaksud dengan kreativitas adalah ciri-ciri khas yang dimiliki oleh individu yang menandai adanya kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang sama sekali baru atau kombinasi dari karya-karya yang telah ada sebelumnya menjadi suatu karya baru yang dilakukan melalui interaksi dengan lingkungannya untuk menghadapi permasalahan dan mencari alternatif pemecahannya melalui cara-cara berfikir divergen. 
2. Factor-factor yang Mempengaruhi Kreativitas
Pada mulanya, kreativitas dipandang sebagai faktor bawaan yang hanya dimilki oleh individu tertentu. Beberapa ahli mengemukakan factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kreativitas.
Utami munandar (1988 dalam Desmita, 2014) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas adalah: 
a. Usia 
b. Tingkat pendidikan orang tua
c. Tersedianya fasilitas 
d. Penggunaan waktu luang 
Clark (1983, dalam Desmita, 2014) mengkategorikan faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas kedalam dua kelompok, yakni faktor yang mendukung dan yang menghambat. Faktor-faktor yang mendukung kreativitas adalah: 
a. Situasi yang menghadirkan ketidaklengkapan beserta keterbukaan 
b. Situasi yang memungkinkan dan mendorong timbulnya banyak pertanyaan 
c. Situasi yang dapat mendorong dalam rangka menghasilkan sesuatu 
d. Situasi yang mendorong tanggung jawab dan kemandirian 
e. Situsi yang menekankan inisiatif diri untuk menggali, mengamati, bertanya, merasa, mengklasifikasikan, mencatat, menerjemahkan, memperkirakan, menguji, hasil mengji dan mengkomunikasikan.
Perhatian dari orang tua terhadap minat anaknya, stimulasi dari lingkungan sekolah dan motivasi diri. Sedangkan faktor-faktor yang menghambat berkembanganya kreativitas adalah  sebagai berikut:
a. Adanya kebutuhan akan keberhasilan, ketidakberatian dalam menanggung risiko atau upaya mengejar sesuatu yang belum diketahui. 
b. Konfromitas terhadap teman-teman kelompoknya dan teman sosial 
c. Kurang berani dalam melakukan eksplorasi, menggunakan imajinasi, dan penyelidikan.
d. Stereotip peran seks/ jenis kelamin 
e. Diferensisasi antara berkuda dan bermain 
f. Tidak menghargai terhadap fantasi dan khayalan 
Miller dan Gerard (Adams dan Gullota, 1979 dalam Desmita 2014) mengemukakan adanya pengaruh keluarga pada perkembangan kreativitas anak dan remaja sebagai berikut: 
a. Orang tua yang memberikan rasa aman 
b. Orang tua yang mempunyai berbagai macam minat pada kegiatan didalam dan diluar rumah 
c. Orang tua memberikan kepercayaan dan menghargai kemampuan anaknya 
d. Orang tua memberikan otonomi dan kebebasan kepada anak 
e. Orang tua mendorong anak agar dalam mengadakan sesuatu dilakukan dengan sebaik-baiknya 
Torrence (1981, dalam Desmita, 2014) mengemukakan lima bentuk interaksi orang tua dengan anak/ remaja yang dapat mendorong berkembangnya kreativitas, yakni: 
a. Menghormati pertanyaan-pertanyaan yang tidak lazim 
b. Menghormati gagasan imajinatif 
c. Menunjukkan kepada anak/ remaja bahwa gagasan yang dikemukakan itu bernilai 
d. Memberikan kesempatan kepada anak/ remaja untuk belajar atas prakarsanya sendiri dan memberikan reward  kepadanya 
Disamping mengemukakan interaksi yang dapat mendorong berkembangnya kreativitas itu, berdasarkan hasil penelitiannya yang mendalam, Torrence (1981) juga mengemukakan beberapa interaksi orang tua dengan anak (reamaja) yang dapat menghambat berkembangnya kreativitas, yaitu: 
a. Terlalu dini untuk mengeliminasi fantasi anak 
b. Membatasi rasa ingin tahu anak 
c. Terlalu menekankan peran berdasarkan perbedaan jenis kelamin (sexsual roles)
d. Terlalu banyak melarang anak 
e. Terlalu menekankan kepada anak agar memilki rasa malu 
f. Terlalu menekankan pada keterampilan verbal tertentu 
g. Sering memberikan kritik yang bersifat destruktif 
Jadi menurut Torrence (1981), interaksi antara orang tua dengan anak/ remaja yang dapat mendorong berkembangnya kreativitas bukanlah interaksi yang didasarkan atas situasi stimulus-respon, melainkan atas dasar hubungan kehidupan sejati (a living relationship) dan saling tukar pengalaman (coexperienceing). 
3. Tipe Kreativitas
Menurut para peneliti ada tiga tipe kreatif yang berbeda, yaitu:
a. Jenis pertama adalah membuat atau menciptakan. Penciptaan merupakan proses membuat sesuatu dari tidak ada menjadi ada.
b. Jenis yang kedua adalah mengombinasikan atau menyentesiskan dua hal atau lebih yang sebelumnya tidak saling berhubungan. Kenyataannya banyak penemuan yang memudahkan kehidupan kita hari ini, seperti telepon dan modem, diciptakan karena hasil sintesis.
c. Jenis yang ketiga adalah memodifikasi sesuatu yang memang sudah ada. Modifikasi ini berupaya untuk mencari cara-cara untuk membentuk fungsi-fungsi baru atau menjadikan sesuatu menjadi berbeda penggunaannya oleh orang lain.
4. Mengembangkan Sikap Kreativitas
Berikut ini adalah hal-hal yang dapat membantu mengembangkan kemampuan pribadi dalam program peningkatan kreativitas sebagaimana dikemukakan oleh James L. Adams (1986, dalam Supardi 2004):
a. Mengenali hubungan 
Untuk membantu meningkatkan kreativitas, kita dapat melakukan cara pandang kita yang statis terhadap hubungan orang dan lingkungan yang telah ada. Dari sini kita coba melihat mereka dengan cara pandang yang baru dan berbeda. Orang yang kreatif memiliki intuisi tertentu untuk dapat mengembangkan dan mengenali hubungan yang baru dan berbeda dari fenomena tersebut.
b. Pengembangan pespektif fungsional
Kita dapat melihat adanya suatu perspektif yang fungsional dari benda dan orang. Seseorang yang kreativ akan dapat melihat orang lain sebagai alat untuk memenuhi keinginannya dan membantu menyeleseikan suatu pekerjaan.
c. Gunakan akal
Fungsi otak pada bagian yang terpisah anatara kiri dan kanan telah dilakukan sejak tahun 1960-an. Otak bagian kanan dipakai untuk hal-hal seperti analogi, imajinasi dan lain-lain. Sedangkan otak bagian kiri dipakai untuk kerja-kerja seperti analisis, melakukan pendekatan yang rasional terhadap pemecahan masalah dan lain-lain. Meski secara fungsi ia berbeda, tapi dalam kerjanya ia harus saling berhubungan.
d. Hapus perasaan ragu-ragu
Kebiasaan mental yang membatasi dan menghambat pemikirn kreatif, diantaranya adalah sebagai beikut:
1) Pemikiran lain, perkembangan kehidupan sesorang banyak terpenuhi oleh hal-hal yang tidk pasti dan meragukan. Bagi orang yang kreatif lebih baik belajar menerima keadaan tersebut dalam hidupnya, bahkan mereka sering menemukan sesuatu yang berharga dalam kondisi tersebut.
2) Mencari selamat, dalam kehidupannya orang akan cenderung menghindari resiko seminimal mungkin, tetapi seorang inovator akan senang menghadapi resiko. 
3) Stereotype, seperti sudah ada ketentuan atau karakteristik tertentu untuk suatu hal, begitu pula halnya akan kesuksesanyang dapat diraih, karena asas stereotype ini, akan terlimitasi cara pandang dan persepsinya terhadap kemungkinan lain yang sebenarnya dapat diraih.
4) Pemikiran kemungkinan/ probabilitas, guna memperoleh keamanan dalam membuat keputusan, seseorang cenderung percaya kepada teori kemungkinan. Bila berlebihan, akan menghambat sesorang mencari kesempatan yang hanya akan datang sekali saja dalam hidupnya.
Desmita. 2014. Psikologi Pendidikan. Batusangkar: STAIN Batusangkar Press
Khodijah, Nyayu. 2014. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers
Sarlito, Sarlito W. 2017. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Rajawali Pers
Supardi, Endang. 2004. Kiat Mengembangkan Sikap Kreatif dan Inovatif [Jurnal]. Jakarta: Indonesia University of Education dari https://mufari.files.wordpress.com diakses pada tanggal 19 Mei 2018
Wiflihani. 2009. Musik Sebagai Salah Satu Cara Untuk Meningkatkan Kecerdasan Anak [Skripsi]. Medan (ID): Universitas Negeri Medan dari digilib.unimed.ac.id diakses pada 19 Mei 2018

LONELINESS (KESEPIAN)

A. Pengertian Kesepian Kesepian adalah perasaan terasing, tersisihkan, terpencil dari orang lain. Sering orang kesepian karena merasa berbed...